Custom Search
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2009

Cahaya di Hidupku Oleh Fathia X-3

Cahaya di Hidupku

Gisel Rahardian itu adalah namaku.Aku adalah siswi SMA Tunas Bangsa,sekarang ini aku duduk di kelas 11,di sekolah aku cukup populer..Banyak teman yang iri padaku, mereka berkata aku ini cantik, anggun, manis, dan lagi anak seorang pengusaha kaya raya..Padahal sebenarnya aku tidak begitu bahagia dengan semua ini, orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaannya, itu membuat aku merasa kurang mendapatkan kasih sayang ditambah lagi aku adalah anak tunggal.. Aku pun tumbuh menjadi anak yang cuek..
Di sekolah aku mempunyai banyak teman bermain,aku sering menghabiskan waktuku besama mereka untuk sekedar jalan-jalan dan berfoya-foya.Sahabat dekatku ada empat, mereka adalah Icha, Alya, Bobby, dan Rengga.Aku bisa melakukan apa pun yang ingin ku lakukan sesuka hatiku..
Hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia,huh aku tidak suka dengan gurunya, selain itu menurutku pelajaran ini tidak begitu penting…Hari ini kami pergi ke perpustakaan sekolah, kami ditugaskan mencari unsur instrinsik dari cerpen-cerpen yang ada..
”Males banget nih, ngebosenin…!”ujarku pada Icha dan Alya.
“Iya ya,tugas kok gak penting banget..!”kata Icha.
“Bener banget tuh, emang guru kurang kerjaan..Gimana kalo kita ke kantin aja ?”sahut Alya.
“Setujuu..Lagian bentar lagi kan istirahat..!”jawabku dan Icha.
Kami pun bergegas pergi menuju kantin.Saat hendak keluar dari perpustakaan, aku bertabrakan dengan Nola..
”Gimana si, kalo jalan tu ngeliat dong..!”ujarku memarahi Nola.
“Iya, udah pake kacamata segede itu juga, masih aja nabrak..!”sahut Alya.
“Maaf Gisel, aku bener-bener enggak sengaja..”kata Nola ketakutan.
“Udah lah..Ngapain ngurusin si kutu buku ini..!”sahut Icha.
Kami bertiga pun bergegas pergi meninggalkan Nola..Sambil jalan, kami bertiga membicarakan Nola, aku tidak suka dengan Nola, dia adalah juara kelas,anaknya kuper, lugu, polos, ketinggalan jaman, dan pendiam, dia sering diledek si kutu buku..

“Ya Tuhan, kenapa aku selalu berbuat salah..?Kenapa tadi aku nabrak Gisel..?Kenapa gak ada yang mau temenan sama aku, apa aku ini gak pantes punya temen…?Tuhan, aku iri sama Gisel, dia punya banyak temen,dia punya semua yang enggak aku punya..”kata Nola di dalam hati.
Gisel jarang sekali berada di rumah, malam hari dia baru pulang ke rumah, dia menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan dan berfoya-foya dengan teman-temannya.Dia melakukan semua itu hanya untuk menghilangkan rasa kesepiannya saat di rumah..
Pada suatu hari, seperti biasanya sepulang sekolah Gisel pergi jalan-jalan ke Mall bersama Alya, Icha, Rengga, dan Bobby..Pada saat Gisel sedang memilih-milih baju, tiba-tiba handphonenya berbunyi, ternyata itu adalah telepon dari mamanya, ia pun terkejut, ia pun pergi meninggalkan teman-temannya dan mencari tempat yang cukup tenang untuk menerima telpon.
“Tumben telpon mah, ada perlu apa,bukannya Gisel itu gak penting buat mama papa..?!”sindir gisel dengan ketus..
“Gisel maafin mama papa ya, selama ini kami kurang merhatiin kamu..?Tapi kami kan bekerja juga buat kamu..”jawab mama Gisel sambil tersisak-isak.
“Lho mama kenapa, kok suaranya kayak habis nangis, ada masalah apa?”tanya Gisel.
“Kamu bisa pulang sekarang enggak, mama papa mau bicara penting sama kamu..?Sebenarnya papamu kalah tender,perusahaan kita bangkrut!!Jadi semua usaha kami sia-sia, pengorbananmu karena kurang mendapat kasih sayang dari kami juga sia-sia.Maaf ya sayang, kami gagal menjadi orang tua yang baik buat kamu…?”kata mama Gisel.
“Yang bener, mama gak boong khan sama aku..?Mama jangan ngomong gitu, sekarang Gisel sadar kalo Gisel itu egois!!Padahal ternyata kalian sayang banget sama aku..Aku juga jadi ngrasa bersalah, maafin Gisel juga ya mah..?Ya udah sekarang Gisel langsung pulang..”jawab Gisel sambil menangis.
“Makasih ya sayang..”kata mama Gisel mengakhiri pembicaraan.
Gisel pun menutup telponnya, dia sedih mendengar kabar dari mamanya,tapi ia juga senang mendengar kata sayang yang diucapkan mamanya, itu adalah kata-kata yang sangat jarang ia dengar..Ia pun bergegas kembali ke tempat teman-temannya, ia hendak berpamitan kepada teman-temannya.Saat ia mendekat ke Icha, Alya, Bobby, dan Rengga, tanpa sengaja Gisel mendengarkan pembicaraan teman-temannya, Gisel pun bersembunyi, ia mendengarkan pembicaraan temannya itu.
“Gila Cha kamu beli apa aja, banyak banget..?!”kata Bobby.
“Udahlah tenang aja, khan ada Gisel, kamu kalo mau beli ambil aja!”sahut Alya.
“Iya mami papi Gisel itu khan orang kaya, dia pasti banyak uang..!”kata Icha.
“Bener juga ya, kenapa mesti gak enak, Gisel itu khan baik banget sama kita.”kata Bobby.
“Lagian Gisel itu gampang dibodohin, dia nurut aja sama kita.”sambung Rengga.
“Bener banget tuh, hahaha..Kita bisa belanja sepuasnya dong..!”kata Alya.
“Setuju…!!!”sahut semua.
Gisel sangat sedih, ia tidak menyangka kalau teman baiknya selama ini ternyata hanya memanfaatkan kekayaaannya saja.
”Ya Tuhan, kenapa kau berikan semua cobaan ini bertubi-tubi, apa yang harus ku lakukan..?”kata Gisel dalam hatinya.
Gisel pun bergegas pulang ke rumah, ia meninggalkan temannya begitu saja.Sesampainya di rumah, orang tua Gisel langsung menjelaskan semuanya.Untuk mengganti kerugian, rumah mewah, mobil, dan aset-aset berharga lainnya disita.Hanya tersisa sedikit uang..Hari itu juga Gisel dan keluarganya pergi meninggalkan kehidupan mewah mereka selama ini.Kini Gisel tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tidak telalu besar.Gisel dan kelurganya sangat sedih, tapi mereka tau ada hikmah di balik ini semua, yaitu berkumpulnya lagi Gisel dengan Orang tuanya.
Ternyata rumah Gisel yang sekarang bersebelahan dengan Nola.Nola sangat terkejut melihat Gisel menjadi tetangga barunya, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Gisel.Nola ingin bertanya, tapi dia takut, karena dia tahu kalau Gisel tidak suka dengannya.Akhirnya Nola hanya diam saja..
Keesokan harinya di sekolah, teman-teman Gisel menanyakan tentang menghilangnya Gisel kemarin.
“Sel kemarin kamu kemana, kok ngilang sii..?!”tanya Icha.
“Kemarin kita binggung banget nyariin kamu, iya khan..?”sambung Alya.
“Ia, bener-bener!!”kata Bobby dan Rengga.
“Sorry kemarin aku ada urusan!!Binggung kenapa,gak ada yang bayarin ya..?!”jawab Gisel.
“Kok kamu ngomong gitu..?”tanya Icha.
“Asal kalian tau, kemarin aku denger semua yang kalian omongin, aku kecewa banget sama kaliyan.Sekarang aku udah gak kaya lagi, mama papaku bangkrut, jadi kaliyan gak usah temenan lagi sama aku..”kata Gisel dengan wajah yang dingin.
Gisel pun pergi meninggalkan teman-temannya.
Gisel pergi ke ruang kosong di belakang gedung sekolah, di sana tempatnya sangat sepi, di sana ia menangis untuk melepaskan semua bebannya.Tiba-tiba muncul bayangan seorang anak, Gisel terkejut, ia segera menghapus air matanya.
“Sorry Gisel aku ganggu ya..?Lanjutin aja nangisnya biar kamu lega..Kalo kamu mau kamu bisa curhat sama aku, siapa tau bebanmu bisa lebih ringan..?!”kata Nola.
“Nola…kamu mau dengerin cerita aku..?”tanya Gisel.
“Tentu..”jawab Nola.
Gisel pun memeluk Nola, Ia melupakan semua rasa bencinya pada Nola.Gisel merasa sangat diperhatikan oleh Nola.Gisel juga meminta maaf atas semua perilakunya selama ini pada Nola.Ia menceritakan semua masalahnya pada Nola, mereka saling bertukar pikiran, mereka pun dengan cepat menjadi seorang sahabat.Gisel merasa mendapatkan sahabat baru yang sangat berarti dan tulus.Nola juga bahagia karena sekarang ia memiliki seorang sahabat seperti Gisel.
Esoknya di sekolah, anak-anak gempar,mereka binggung melihat Gisel dan Nola bersahabat.Mereka binggung melihat dua pribadi yang tadinya sangat berbeda itu bersatu.Gisel dan Nola cuek saja, mereka tidak peduli dengan perkataan teman-temannya di sekolah.Mereka saling memahami dan membantu satu sama lain.Nola mengajari Gisel tentang arti kehidupan dan mambantu Gisel beradapatasi di lingkungan yang baru.Sedangkan Gisel mengajari Nola supaya tidak menjadi anak yang pemalu dan membantu Nola bergaul supaya mudah memiliki banyak teman.
Tidak hanya Gisel dan Nola saja, orang tua mereka pun bersahabat.Ayah Nola membantu Papa Gisel mencari pekerjaan baru, walaupun pekerjaanya sangat berbeda dengan profesi lama Papa Gisel dan penghasilannya pas-pasan.Kini Gisel dan keluarganya hidup bahagia dan harmonis,mereka telah mengetahui arti sebuah keluarga yang sesungguhnya.Gisel tidak kesepian lagi, sekarang orang tuanya sangat memperhatikan Gisel.Nola juga menjadi sahabat yang sangat berarti untuk Gisel.Gisel sangat bahagia, kini ia sadar begitu banyak orang yang sayang padanya, ia juga sadar kalau harta bukanlah jaminan kehidupan yang bahagia.
“Tuhan terimakasih..Terimakasih karena engkau telah memberikan cahaya dalam hidupku..Semoga semua kebahagiaan ini akan abadi.”ucap Gisel dalam hati.


- THE END -

Sabtu, 07 Februari 2009

MATAHARI DALAM MATA HATI Oleh Nahri X-4

Angin semilir menggoyangkan ujung jilbabku saat aku mengayuh sepedaku pagi ini. Lebih pagi dari biasanya. Mentari pun belum sepenuhnya menampakkan teriknya dan bulan pun juga masih belum mengucapkan selamat tinggal. Hari ini ada jadwal les pagi. Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, masih menunjukkan setengah enam pagi. Lampu-lampu jalan masih menyala, kabut menyebar di sana sini menambah kekhasan suasana pagi.

Lima menit kemudian aku sampai di gerbang sekolah. Pak Bon masih menyelesaikan tugasnya membersihkan sekolah. Kusapa beliau dengan senyumku. Pak Bon membalasnya dengan hal yang sama, namun sangat terlihat keikhlasannya. Pak Bon itu masih beberapa hari bekerja di sekolahku, agaknya beliau lebih rajin dari yang lain, entah karena masih baru sehingga masih semangat. Tapi semoga saja tidak begitu.

Tempat parkir masih terlihat sepi saat aku meletakkan sepedaku. Hanya ada beberapa sepeda motor dan satu sepeda angin yang tak lain adalah sepedaku sendiri. Sejenak kemudian aku menyusuri koridor sekolah dan sampai di kelasku, kelas XI IPA 1 yang memang letaknya tak jauh dari gerbang kedua. Terlihat teman-temanku sedang asyik bercengkerama. Tampaknya Madam Rina belum datang. Beliau memang tak bisa diduga kedatangannya, kadang-kadang bisa pagi sekali dan kadang-kadang juga bisa sangat terlambat.

”PR-mu dah selesai, Biru?” tanya Lisa seraya menyapaku. Ya Lisa, teman sebangkuku dua minggu ini.

”Sudah, tapi begitulah masih ada yang bingung,” jawabku sambil meletakkan tas di laci bangku.

”Boleh dilihat?” ujar Lisa bermaksud minta izin.

”Boleh. Ini!” Kusodorkan buku tugas Matematikaku padanya dan Lisa mulai membuka lembar demi lembar bukuku.

”Eh, Biru. Tadi waktu kamu lewat ruang guru, Bu Lisa ada nggak?” tanya Resi padaku sambil meneruskan menulis di bangkunya yang tepat berada di belakangku.

”Emm…. Insya Allah ga ada. Tadi disana kalo ga salah lihat, cuma ada Mas Rido sama Pak Bon. Emangnya da apa?” Hari ini ada ulangan Geografi, Bu Lisa terkenal sadis kalau bikin soal. Mungkin karena itu Resi bertanya hal ini.

”Yang namanya Bu Sita dari gue sekolah di sini sampe sekarang, ga da tuh ceritanya beliau dateng pagi-pagi gini. Ada-ada aja lo! Ha…Ha…Ha…” Rio menyahut dengan pedenya.

”Dapet kabel dari mana lo bisa nyambung omongan gue ma Biru?” sergah Rsei membalas Rio yang rese.

”Dari PLN cabang Pohon di depan kelas. Emangnya napa? Lagian lo lucu banget sih nyariin Bu Sita setengah enem pagi, masih mandiin anaknya di rumah, Non! Ha…Ha..Ha….” ujar Rio tak mau kalah.

Mereka memang sudah kebiasaan otot-ototan nggak penting di kelas. Sampai-sampai ada anak iseng yang mau menjodohkan mereka berdua. Ada-ada saja, pikirku. Namun, Rio semakin mengeluarkan jurus-jurus mautnya, begitu juga Resi yang juga tak mau kalah. Tapi, perang adu mulut itu segera selesai ketika Madam Rani masuk kelas. Kali ini waktu les tinggal 45 menit.

***

Jam tanganku menunjukkan pukul tiga belas empat lima saat aku beranjak dari bangkuku untuk pergi ke musholla. Aku belum sholat Dhuhur. Segera aku dan Lisa mempercepat langkah.

Di tengah jalan, aku dan Lisa berpapasan dengan Fian. Anak kelas sebelah, XI IPA 2. Dia menyapa kami dan memberikan senyumnya yang memang manis itu. Aku dan Lisa membalasnya dengan hal serupa sambil menganggukkan kepala tanda hormat. Dia berlalu, begitu juga dengan aku dan Lisa.

”Eh Biru, gimana kamu ma Fian?“ Pertanyaan Lisa kali ini membuatku bingung.

’’Apanya?“ tanyaku balik. Kali ini mungkinLisa tampak kesal karena aku balik nanya.

”Huh….. capek deh. Ya gimana hubungan kamu ma Fian? Dia kan pernah bilang ke anak PMR kalau dia mengagumimu. Cieee, yang lagi pedekate,” jawab Lisa sembari menggodaku.

”Apa? Kamu salah ngomong kali,” ujarku memastikan apa yang kudengar itu salah. Aku kaget setengah pingsan kalau sampai apa yang dikatakan Lisa itu benar.

”Ya nggak lah. Jadi kamu belum tahu toh? Atau sebenarnya tahu tapi gak mau mengakui?” tanya Lisa penuh selidik. Kali ini aku kaget plus penasaran buanget.

”Bener kok Lis, aku belum tahu. Emangnya gimana sih ceritanya? Kamu gak bohong kan , Lis?” ujarku meyakinkan Lisa sambil melepas sepatuku.

Lisa tak menjawab

”Lis, ceritain dong! Please… “

Lisa tetap tak menjawab dan beranjak dari sebelahku. Aku mengikutinya.

”Lisa, Lis, kamu kok diem aja sih? Lisa… Lisa!” panggilku setengah berbisik. Kali ini aku sudah di depan kran air wudlu dan bersiap membasuh anggota wudluku.

”Kamu bener-bener belum tahu?” tanya Lisa saat aku akan berkumur dan akhirnya kuurungkan.

Aku hanya menggeleng dan meneruskan berwudlu. Ya Tuhan, jadikan air wudlu ini penyejuk bagi jiwa-jiwa orang yang ikhlas. This time for my God!

***

Selesai sholat, aku dan Lisa pergi ke kantin untuk makan siang. Sore ini aku ada jadwal kelompok Fisika dan Lisa ada ekskul PMR. Aku memesan mie ayam plus es jeruk dan Lisa pesan Bakso plus teh botol.

”Kamu benar-benar ga tahu?” tanya Lisa mengingatkanku pada kasus tadi siang.

”Bener Lis, aku ga tahu. Aku mesti bilang apa lagi coba? Lha wong kenyataannya aku emang gak tahu apa-apa,” jawabku sambil mempermainkan jariku di atas meja.

”OK deh, aku percaya. Tadinya aku sempat percaya gak percaya sebab ada sumber yang mengatakan kalau sebenarnya kamu sama Fian itu sudah saling kenal sejak dulu. Trus kamu juga katanya udah menanggapi pernyataan Fian waktu itu.”

Perkataan Lisa cukup membuat jantungku sempat berhenti berdegup.

”Pernyataan yang mana? Yang katanya dia mengagumiku itu ta?Aku sama Fian sebenernya emang sudah kenal dari dulu. Lha wong dia itu temenku SD. Tapi soal menanggapi pernyataan, murni 100% hanya nonsens, aku gak pernah tahu soal itu gimana bisa menanggapi coba? Bener kan ?” jelasku panjang lebar ke Lisa.

Seketika itu, Lisa terbelalak setelah mendengar penjelasanku. Bakso yang dia kunyah seakan mau keluar. Spontan kusodorkan teh botol miliknya. Dia tampak pucat dan matanya sedikit berair.

”Apa? Aku salah dengar kan , Biru? Kamu salah ngomong kan ?” respon Lisa sama seperti saat aku baru mendengar kabar tentang ’pernyataan’ Fian.

”Kamu gak salah dengar dan aku nggak salah ngomong,” jawabku singkat seraya menekuk sedotanku agar tidak dihinggapi lalat.

”Jadi semuanya bener kalau sebenarnya kamu dan Fian pernah jadian?” tanya Lisa penuh emosi.

”What? Jadian? Jadian dari Hongkong?? He..he… Lucu banget sih beritanya, kamu dapet dari biang gosip mana? Beritanya bagus loh, dapet honor berapa dia? Biar kutegaskan ya Lis, aku dan Fian tidak pernah jadian! Titik! Sekarang gantian kamu yang menjelaskan bagaimana kronologis kejadian tentang ’pernyataan’ Fian,” ujarku menegaskan yang sebenarnya. Karena kasus ini aku jadi dihinggapi sejuta tanda tanya. Uhh… sebel!

”Ooh…jadi gitu ta Non, kirain gimana. Jadi ceritanya gini, minggu kemarin aku kan kemah sama anggota PMR se-kabupaten. Saat ada waktu luang kami anggota PMR SMANSA main game putar botol, jadi kalau botolnya mengarah ke aku, aku harus menuruti apapun yang diinginkan teman-teman. Tapi untungnya saat itu yang ikut cuma dikit, jadi gak begitu heboh. Putaran pertama mengarah ke Heru. Dia disuruh nyeritain apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Rudi hingga ada insiden tonjok muka. Kemudian, putaran kedua mengarah ke Fian. Anak-anak berpikir apa yang akan dilakukan oleh si Fian, tadinya dia disuruh mintain kita jagung bakar ke anggota PMR sekolah lain, tapi terlalu gampang. Trus entah kenapa, tiba-tiba Tya dateng dan minta izin ikut game, ya dibolehin ma anak-anak. Lalu dia mengajukan pertanyaan ke Fian, pertanyaannya sangat mengagetkan,”Fi, apa yang kamu rasakan saat kamu bertemu Biru?”. Aku dan teman-teman heran, kenapa Fian ada sangkut pautnya sama kamu. Awalnya Fian tampak gelisah, namun dia mampu menjawab dengan lembut, ”Aku merasakan sesuatu hal yang aneh, hatiku berdesir saat melihatnya dan aku juga merasa nyaman walau hanya melihat dia tersenyum. Aku mengaguminya.” Duerr!!. Seketika itu kami ternganga, terheran-heran mendengar jawaban Fian. Sejenak kemudian Tya pergi dan tak kembali lagi sampai game selesai. Fian tampak menundukkan kepalanya setelah dia berkata seperti itu. Ada apa dengan Fian dan Tya? Kami masih belum tahu jawabannya saat itu, tapi saat jalan-jalan pagi, Nia, saudara sepupu Fian yang tak lain adalah anggota PMR SMAGA menceritakan kepada Puri tentang apa yang sebenarnya terjadi. Nia mengatakan bahwa Fian dan Tya pernah jadian dan putus karena Fian berkata jujur pada Tya kalau sebenarnya dia suka gadis lain. Tya ga terima dan menyelidiki siapa sebenarnya gadis itu dan akhirnya itu semua terjawab saat game itu. Kamulah gadis itu, Biru. Lalu semakin banyak orang yang tahu tentang itu dan berkembang berita bahwa kamu sebenarnya sudah pernah jadian sama Fian,” jelas Lisa panjang sekali dan lebar sekali.

Aku hanya melongo dan mengangguk tanda mengerti.

”Jadi karena itu, Tya bersikap dingin padaku?” kataku seraya menyimpulkan sendiri apa yang terjadi padaku.

”He-eh”. Lisa hanya mengannguk dan menyedot teh botolnya yang kedua.

Aku terpaku. Mungkinkah seorang Fian mengagumiku? Bukankah aku hanya seseorang yang gak ada apa-apanya jika dibandingkan gadis lain yang modis, smart, cantik,dan lain-lain. Sejuta tanda tanya hinggap di otakku siang itu.

***

Malam ini aku kembali berkutat dengan buku-buku pelajaranku. Ritual yang sudah lama aku jalani. Tapi, kali ini aku kurang konsen. Memoriku me-flash back kejadian tadi siang bersama Lisa. Apa mungkin seorang Fian mengagumiku, pikirku. Tapi sesegera mungkin aku menghapusnya dan menggantinya dengan hafalan rumus matematikaku. Tuhan, aku bukan apa-apa karenamu. Tolong aku dari kegelisahan ini dan bantu aku menghapusnya karena aku hanya milikMu.

Tiba-tiba telepon rumahku berdering. Aku tak beranjak dari tempat dudukku. Karena dering itu tak lagi menggema di telingaku. Aku melanjutkan mengejakan soal-soal di buku paketku. Tapi, dering telepon berbunyi lagi. Aku tetap tak bergeming dari tempatku karena biasanya adikku yang langsung mengangkatnya. Benar, pikirku. Tapi..

”Kak Biru, ada telepon,” panggil adikku lantang.

Aku berdiri dan menuju ruang tengah di mana telepon itu berada.

”Halo. Assalamualaikum,” ujarku memulai pembicaraan.

”Walaikumsalam. Biru ya?” jawabnya dari seberang.

”Iya benar. Ini dengan siapa ya?”

”Ini Fian, Biru. Apa kabar?”

Duerr! Seketika itu aku terkaget-kaget. Ada angin apa Fian bisa menelponku malam ini. Dia terlihat santai tanpa ragu. Aku berusaha menyembunyikan gugupku.

”Ee, baik kok. Kak Fian gimana?” ujarku seraya menjawabnya.

Sekuat tenaga aku menyembunyikan gugupku. Aku memang sudah dari dulu memanggilnya dengan sebutan ’Kak’ walaupun kita hanya terpaut sepuluh bulan. Ini kebiasaan mamaku yang menyuruhku memanggil dengan sebutan Kakak untuk temanku yang lebih tua dari aku. Meskipun sudah dari SD dulu, tapi panggilan itu tetap tak berubah. Mungkin karena aku dan Kak Fian jarang bertemu.

”Aku juga baik kok. Kamu lagi ngapain?”

”Emm… aku…ya lagi ditelpon ma Kakak, iya kan ?”

”Ha..ha.. Iya ya, pertanyaan yang kurang bagus,” ujarnya sembari tertawa renyah.

” Ada apa Kak? Kok tumben telpon aku?” Kuberanikan diri menanyakan hal itu.

”Ooh… nggak kok, cuma mau nanya, kalau nggak salah, kamu punya buku judulnya Seratus Tokoh karya Michael H. Hart, boleh aku pinjam?” jawabnya santai namun kali ini lebih terkesan gugup.

”Oh itu… Kirain ada apa. Ya boleh dong Kak. Besok insya Allah aku bawa.”

”Makasih ya Biru, besok aku ambil istirahat pertama di kelasmu. OK!”

”OK Kak.”

Tiba-tiba tak ada respon dari seberang.

”Halo, Kak Fian? Masih ada kan ?” tanyaku untuk memastikan bahwa sambungan belum putus.

”Eh.. iya… iya, masih hidup kok. He..he..he.. . Ya udah ya, Biru, thanks banget buat semuanya. Assalamualaikum.” Klik. Tut..tut..tut.. Sambungan terputus.

“Waalaikumsalam,” jawabku seraya meletakkan gagang telepon.

Benar kan , kataku dalam hati. Fian cuma membutuhkanku karena buku itu. Bukan untuk yang lain. Huhh…. hembusku lega.

Malam ini aku bisa tidur nyenyak di atas kasurku yang bermotif catur. ’Bismika Allahumma Ahya wa bismika amuut.. Amin.’ Ya Tuhan, atas namamu aku hidup dan mati.

Lalu aku terlelap dalam heningnya malam.

***

Istirahat pertama aku berniat tidak ke kantin walaupun Lisa mengajakku dan menjanjikan untuk mentraktirku. Karena menurutku, janji adalah kewajiban. Akhirnya, Lisa pergi bersama Resi ke kantin. Tiga menit kemudian Fian muncul di pintu kelas dan mengisyaratkanku untuk menghampirinya. Kubawa buku itu dan bejalan menuju teras kelas.

”Ini Kak, bukunya,” kataku sambil menyodorkan buku yang beisi sekitar lima ratus halaman itu.

”Makasih ya, Biru.”

”Sama-sama.” Aku beranjak masuk ke kelas lagi. Namun, Fian mencegahku. Dia kembali memanggilku.

”Eh.. Biru.. Biru… ” panggilnya setengah berteriak.

”Ya.” Aku berbalik dan mendapati dia sudah tepat di belakangku. Aku kaget dan mundur beberapa langkah untuk sedikit menjaga jarak dengannya.

”Ini untukmu. Maafkan aku.”

Fian menyodorkan kertas biru kecil yang terlipat rapi. Aku segan menerimanya. Namun, ia mengangguk untuk mengisyaratkan bahwa aku harus menerimanya. Aku mengambilnya dan Fian berlalu. Aku masih terpaku dan memandang kertas itu dengan penuh keheranan. Tak lama, aku memasukkannya dalam saku seragamku dan masuk kelas.

Bel berbunyi, anak-anak berhamburan masuk kelas dan pelajaran Bahasa Inggris pun dimulai.

***

Sore ini seperti biasa aku pulang les dengan mengendarai sepeda pancal bututku. Otakku masih saja memikirkan isi kertas biru yang disodorkan Fian pagi tadi. Jadwalku hari ini padat, jadi aku belum sempat membukanya. Berbagai macam anggapan positif dan negatif berseliweran dalam pikiranku. Akh, mungkin ia hanya ingin mengucapkan terima kasih, pikirku untuk sedikit menenangkan pikiranku.

Aku melewati jembatan kecil di atas sebuah sungai. Kutengok kanan kiri, banyak anak-anak kecil sedang berenang di sungai. Mereka bersuka cita. Di sini memang masih tergolong pedesaan, jadi masih banyak anak-anak yang ’adus kali’, ’jumpritan’, ’dakon’, dan mainan-mainan lain yang biasa dilakukan anak-anak desa. Salah satu anak kecil itu menoleh padaku dan mulai tersenyum. Aku pun membalasnya dengan senyumku. Lambat-laun aku mulai lupa dengan kertas biru itu.

***

Malam ini saat aku akan memjamkan mataku, siap untuk mengarungi samudera mimpi, aku kembali teringat dengan kertas biru yang diberikan Fian tadi pagi. Aku mulai merogoh saku di seragamku yang kugantung di lemariku. Aku mendapatkannya dan mulai membacanya.

Mungkin caraku ini terlalu kuno untuk mengungkapkan maksudku. Aku tahu kau pasti bertanya-tanya mengapa aku memberikan kertas biru ini untukmu, padahal sebelumnya kita tak saling dekat. Aku hanya ingin kamu mengetahui yang sebenarnya.

Enam tahun yang lalu mungkin aku tak memandangmu sebagai apa-apa. Aku hanya memandangmu sebagai gadis kecil lugu yang punya sejuta cita-cita karena kamu punya banyak mimpi yang mungkin bisa kau wujudkan dengan segala kemampuanmu.

Namun, seiring hari-hari yang kulalui, aku semakin tahu dan mengerti siapa sebenarnya dirimu. Tapi, aku hanya sedikit sekali mengerti tentang hatimu. Akhirnya kuputuskan untuk menulis di kertas ini karena aku cukup tak punya nyali untuk berhadapan denganmu. Mungkin kamu tak pernah mengerti bahwa selama ini aku sedikit banyak menaruh perhatian padamu. Akh, mungkin ini tak terlalu penting, lupakanlah! Tapi, aku hanya ingin kau mengetahui bahwa aku mengagumimu. Aku selalu berharap aku bisa menjadi bagian dalam hidupmu. Kau mungkin tak percaya, tapi sungguh, aku jujur di hadapanmu.

Kata-kataku ini mungkin terlalu tabu untuk seorang Fian. Tapi entah kenapa aku rela melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu.

Saat rasa hati mengingatmu, aku termenung. Saat rasa hati merindukanmu, aku merenung. Saat rasa hati mencintaimu, aku tersenyum.

Maafkan aku karena aku telah membuatmu bertanya-tanya. Aku hanya ingin mengungkapkan ini, sesuatu hal yang mungkin tak terlalu penting bagi sebagian orang.

Maafkan aku jika tulisanku membuatmu kaget atau mungkin kecewa. Aku yakin kau tak akan pernah menyangka bahwa aku akan berkata seperti ini. Maafkan aku untuk semuanya. Maafkan aku untuk seribu kali lagi.

Semoga kau tak pernah menyesal membaca ungkapan ini. Jika kau tak keberatan, aku mengharapkan jawabanmu.

Terima kasih Biru, karena telah memberi warna dalam gelap terang hariku.

Fian

Hatiku bagai disengat listrik beratus-ratus volt. Tulisan ini mampu membuat jiwaku merinding dan rasa kantukku hilang entah berganti dengan rasa apa. Etah bagaimana Fian bisa menulis kata-kata seperti ini. Akh, itu mungkin tak penting! Seperti kata Fian di kertas itu. Yang penting adalah makna dari tulisan Fian. Aku tak menyangka dia akan jujur mengatakan bahwa dia mengagumiku. Aku belum seratus persen percaya bahwa dia benar-benar dan sungguh-sungguh mengatakan hal itu.

Aku merenung sejenak, memikirkan apa yang harus kulakukan setelah membaca surat itu. Apakah Fian benar-benar yakin dengan kata-katanya? Aku menjatuhkan diriku di atas kasur. Lima menit kemudian, aku kembali duduk. Aku telah menemukan jawabannya.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju buku bersampul biru di atas meja belajar. Kuambil satu lembar kertas berwarna biru langit di dalamnya. Aku mulai menulis.

Assalamualaikum wr.wb.

Terima kasih, Kak Fian, untuk semuanya. Aku sudah membacanya. Kata-katanya sangat indah dan ekspresif dari hati. Mungkin Kakak berbakat untuk bisa menjadi seorang penulis terkenal. Amin.

Aku minta maaf sebelum aku menjelaskan semuanya. Menurutku, bukan hal yang mudah untuk mengungkapkan semua isi hati kita seperti yang sudah dilakukan Kakak padaku. Aku sangat menghargai hal itu. Oleh karena itu, aku tak ingin mengecewakan Kakak.

Aku sangat menghormati Kak Fian. Enam tahun yang lalu, kita sudah bertemu dan menjadi teman hingga sekarang. Waktu yang cukup lama untuk mengerti satu sama lain. Tapi, itu tidak terjadi padaku, sampai saat ini aku belum mengerti seperti apa Kakak sebenarnya. Di mataku Kakak sempurna. Kelebihan fisik dan intelektual Kakak juga membuatku terkagum-kagum. Aku tak pernah memandang orang lain lebih rendah dariku, begitu juga dengan Kakak.

Kak, aku tahu maksud Kakak menulis seperti itu. Tapi maaf aku bukan perempuan yang mudah untuk berkata-kata indah. Terima kasih, Kakak sudah mengagumiku. Tapi, apakah layak seorang Biru dikagumi? Aku perempuan desa yang sangat sederhana, aku tidak modis, smart ataupun cerdas. Aku hanya punya mimpi dan motivasi. Aku hanya punya Dia. TanpaNya aku bukan apa-apa. Jadi, kagumi dan cintai Dia sebelum mencintai orang lain. Dia yang pantas untuk dikagumi dan dicintai.

Sebagai remaja, kita menyadari akan datangnya perasaan ini, tapi alangkah lebih baik jika kita bisa mengontrol dan mengarahkannya untuk hal yang bermanfaat. Bukan untuk hal-hal yang berlabel ’just for fun’ saja. Kakak mengerti pernyataanku kan ?

Maaf Kak, jika ini semua membuat Kakak kecewa terhadapku.

Terima kasih untuk kebaikan dan keberanian Kakak mengungkapkannya padaku.

Semoga Kakak tidak pernah menyesal karena mengenalku.

Wassalamualaikum wr.wb.

Biru

Aku melipat kertas itu menjadi empat lipatan dan memasukkannya dalam saku seragamku untuk besok. Aku lega telah menulisnya. Kulirik jam dinding menunjukkan pukul dua puluh tiga lebih dua puluh lima menit. Aku menguap, saraf-sarafku seakan sudah kendur. Aku mengantuk. Kurebahkan tubuhku diatas kasur yang bermotif catur itu. Kulantunkan doa, kemudian aku tak tahu sudah ada di mana.

***

Pagi ini, suasana hatiku agak berubah. Ada satu jerawat muncul di dahiku. Rupanya si hormon ikut andil dalam penulisan surat tadi malam. Aku tertawa dalam hati. Aku mengayuh sepedaku agak tidak bersemangat. Entah kenapa sendi-sendiku agak sakit pagi ini. Mungkin aku akan menjalani rutinitas bulanan hari ini.

Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju kelas dan duduk di bangkuku sampai bel masuk berbunyi. Lisa tampaknya mengetahui gelagat tak beres dari dalam diriku.

”Ssst… Biru, ada apa? Kok mukanya dilipet-lipet gitu? Ada masalah?” tanya Lisa saat pelajaran Biologi.

Aku memalingkan mukaku dan menjawabnya dengan gelengan kepala.

”PMS Mbak?” tanya Lisa sambil sibuk mencatat tabel sistem respirasi pada hewan.

”Mungkin,” jawabku sekenanya.

”Huuh…” Hembusan nafas Lisa seakan tak ikhlas menerima jawabanku yang super singkat itu.

Bel tanda istirahat pertama berbunyi satu jam kemudian, anak-anak berhamburan keluar, kecuali aku dan Lisa.

”Kamu gak ke kantin?” tanya Lisa.

Lagi-lagi gelengan kepala yang kutunjukkan.

”Aku duluan ya,” ujar Lisa sambil berlalu. Namun, ia kembali ke kelas dengan muka lebih ceria.

”Biru, ada yang nyariin. Ciee…. Siapa nih?” kata Lisa dengan nada menggoda.

”Siapa?” tanyaku sambil beranjak dari kursiku.

”Tahu deh!” jawab Lisa kemudian diikuti dengan tawa kecil dari bibirnya.

Aku melangkahkan kaki keluar kelas dan mendapati Fian ada di teras kelas sambil membawa buku kecil. Ntah apa itu. Seketika itu aku teringat akan kertas biruku yang sudah kutulis tadi malam. Aku meraba saku untuk memastikan kertas itu ada.

”Kak Fian mencariku?” tanyaku datar.

”Biru, kau sudah membacanya?” tanya Fian tanpa menjawab pertanyaanku.

”Sudah. Ini,” jawabku sambil menyodorkan kertas biru langitku tadi malam.

Fian menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Ia mengatakan bahwa ia senang karena aku menghargai tulisannya.

***

Dua hari setelah aku memberikan jawabanku padanya, ada satu ungkapan baru yang ditempel di mading. Anehnya, ungkapan itu ditujukan untuk Biru. Hanya satu yang mempunyai nama dengan unsur Biru di sekolah ini, dan itu aku. Aku mulai mencermati kata-katanya.

Untuk : Biru

Jangan berpikir bahwa aku akan kecewa. Sebaliknya, aku sangat bahagia karena aku sudah menemukan jawaban mengapa aku sampai begitu mengagumimu.

Katakan pada hatimu, izinkan aku menunggumu.

Semoga kau tetap menjaga cahaya itu dalam dirimu.

F-A2

Aku tersenyum setelah membaca ungkapan itu. ’F-A2’ sama dengan Fian-IPA 2. Aku bernafas lega telah memberikan jawaban yang tidak membuatnya kecewa. Semoga ia juga tetap menjaga cahayanya dalam dirinya. Untuk sang Pangeran Cinta kami, ada salam terindah dari aku dan
NAHRI BONDAN X4/22

Cerpen Pizza

“Whooaaaamm…!!’ Ikbal menguap. “Semoga hari ini indah!” doanya.
Kenapa ya dari jaman baheula gue gak pernah bisa bangun pagi dikit kek… Mesti aja jam 10 lagi. Menyebalkan!!! Udah turunan kali yee… he.. he.. he….
“Ikkkbbbbbaaaaallllllllll cepet bangun!!! Kenapa sih anak mama yang satu ini gak pernah bisa bangun pagi???”
“Iyyaaaa maaaaa….. Ikbal udah bangun kok!!!”
“Ya udah cepet turun, mandi, sarapan! Kamu tuh mirip sama papa kamu, susah banget kalo di suruh bangun.”
Huh dasar nenek-nenek! Cerewet banget! Males banget nih gue bangun. Tapi, ntar gue kuliah jam 12. Mana dosennya garang abis.
“ikkkballll..!! Cepetan turun trus mandi! Ngelamunin apa sih dari tadi?!!” bom suara mama kembali melengking di telinga Ikbal.
“Iya, Ma, sabar dikit napa. Marah-marah terus ntar cepet tua loh. Ini Ikbal udah masuk kamar mandi…”
“Mandinya jangan lama-lama.!”
..lalala laaaa….. haaammpaaa terasaaa hidup kuuuuu tanpa diiirrriiimuuuu…
Berangkat ah. “Ma… Ikbal berangkat dulu ya! muach.. muachh..!!”
Brummm…brummm… CABBUUUTTTT…. Macet lagi… Macet lagi… semprul….!! Kemana tuh polisi lalu lintas? Tidur mulu kerjanya kayak gue. Kalo gue sih tidur mulu nggak di bikin patung. Nah kalo polisi, bisa di bikin polisi tidur. Makanya dari kecil bercita-citalah jadi pensiunan, nggak kerja tapi dapet duit, he.. he.. he..
Udah ah jangan ketawa sendiri di jalanan. Ntar dikira orang sableng. Masak Ikbal yang guanteng di samain kayak wong gendeng. Gak banget gitu loh! Saat yang dinanti-nanti tiba. Yak jalan! Brummm… wesssss..!! Ciiiiitttttt…………
“Oopppssss soo soo sssoory!’
“Makanya kalo mau parkir mata di pake! Jangan cuma buat pajangan!”
Buuusssyeettt!!! Nih cewek cantik benerr… Tapi sayang, galakkk banget… Jadi nilai cantiknya dikurangi –10.
“Mmbaakk, kalo jadi cewek galak susah dapet jodoh looo…” Ikbal mencoba mencairkan suasana dengan banyolannya yang nggak lucu. Si cantik bergeming, melengos dan berlalu dari depan Ikbal.
“Huh sombong kali..!” Ikbal mendengus kesel.
***
Huuhh… haaahh… Mesti naik satu tangga lagi. Mana perut keroncongan.
Ayoolah… Ikbal yang cakep plus baek n gak playboy pasti kuat. Yeeee… akhirnya sampai juga. Ikbal jingkrak-jingkrak edan sendiri. Ruang kuliah terasa senyap. Haaahhh,,, Pak Rahmat, si killer, udah masuk.
Duduk belakang ah… biar bisa nyante… Ikbal menyelinap saat Pak Rahmat tengah sibuk mengutak-utik proyektor yang kelihatannya mendadak macet. Pas Ikbal menaruh pantatnya di kursi deret belakang, blab..!! Proyektor aktif kembali. Pak Rahmat melanjutkan uraiannya tentang gen manusia.
Kuliah berjalan Ikbal sama sekali nggak bisa konsen. Percuma Pak Rahmat nerangin cas cis cus, nyampe berubah tahun pun Ikbal tetap gak ngerti. Dasar otak bantal, yang dipikir tidur terus.
Ikbal gelisah. Perut keroncongan karena tadi nggak sempet sarapan. Tapi bukan itu aja yang bikin Ikbal gelisah. “Gue kok jadi kepikiran cewek galak yang tadi ketemu diparkiran. Tapi, hiihhh amit-amit deh gue Ikbal naksir cewek galak kayak dia. NO WAY…” Ikbal ngoceh sendirian.
“Lu nape, Bal?! Nightmare lu semalem? Ngoceh sendiri kayak orang kesurupan,” Dodo nowel-nowel lengan Ikbal.
“Ehh kuliah dah selesai ye… Kita ke kantin aja yuk.” Ikbal nggak mau Dodo ngorek-ngorek tentang dirinya. Bergegas diseretnya Dodo ke kantin.
“Do, lu mau beli apaan? Kok kayak orang bego gitu sih?”
“Jeeeroooo neee pooolllll 5 meter,” Dodo yang asli Jawa sewot dibilang bego.
“Sorilah, abis tingkah kau itu terlihat bloon. Tapi, Do, tak usah di masukin hatilah. Tau gak, Do? Tadi siang gue ketemu cewek.cuuaaannntiik banget.”
“Gimana ceritanya, Bal?”
“Tadi pagi gue kan mau markir motor eeee…… tiba-tiba tu cewek lewat di depan motor gue. Tuh cewek hampir aja ketabrak. Lucunye, eh malah dia yang ngomel-ngomel. Dia ngomong.. makanya mata di pake jangan cuma buat pajangan. Dahsyat kan, Do?!”
“Tuh cewek bener, Bal.”
“Udah ah gue jadi bete kalo nginget-nginget itu lagi. Cabut yuk!””
***
Pukul 14 lebih sedikit Ikbal nyampe rumah. “Ma, Ikbal anak mama tercinta udah nyampe rumah.” Teriak Ikbal seenak udelnya. Masuk kamar ganti, baju trus tidur. Itu prosesi Ikbal setiap pulang kuliah.
Kroek-kroek tin ton… “Hp gua bunyi ada sms dari siapa ya???”
Cnta, lg Dmn?JmPt aQ duNkz.
CpTan LeZz… Gpl.
“Ah… Santi minta jemput. Males banget gue, baru aja pulang, caappeee deeehhh….”
Iya cnt. Tp Q Ru smpe
Rmh ney… cape. tunggu aja
Di tmpt biasa. aq jmpt skrng.
“Ma, Ikbal pergi jemput Santi dulu ya?”
“Ati-ati ya nak…”
“Sipp……ma.”
Duhh, mudah-mudahan gak kena macet. Doa Ikbal penuh harap. Tadi pagi berdoa moga hari ini indah! Tapi tetep aja apes, gerutunya. Akhirnya, sampe juga di IKJ.
“Santi………”
“Yups, tunggu dulu, Bal, kamu mau gak temenin aku ke Taman Anggrek?”
“Mau ngapain sih ke sana. Kalo cuma jalan-jalan besok-besok aja deh! Aku capek banget nih.”
“Jadi gak mau temenin aku nih?”
“ENGGAK!!!”
“YA UDAH!”
“Cepet naik, trus aku anter kamu pulang! Aku dah capek, pengen tidur.”
***
Ternyata punya cewek itu ada enaknya ada enggaknya. Enaknya, ada yang merhatiin, bisa di ajak jalan. Gak enaknya, gue jadi banyak pengeluaran, repot, harus siap jadi supirnya. Boros dalam hal pulsa, karena tempat kuliah gue beda sama tempat kuliah dia. Dan kita jarang ketemu, paling seminggu sekali. Lagian gue pikir-pikir, gue sering ngegombal ma dia. Gue gak terlalu cinta ma dia. Pengen sih putus dari dia, soalnya dia manja banget. Tapi gue gak bakall mutusin dia duluan, pliiss dehh, mau taro di mana harga diri gue?! WHoaaMm… ngantuk! Tidur ah… Grookkk.. groookkk..!! Busyet Ikbal tidurnya ngorok.
***
“Bal, gue mau ngomong penting sama lo.” Santi kelihatan serius.
“Ngomongin apa, San?”
“Bal, kayaknya hubungan kita ini dah gak bisa di terusin lagi. Aku dah gak tahan sama sifat kamu yang cuek, egois, dan gak pernah ngertiin aku. Mulai sekarang kita dah gak da hubungan apa-apa lagi. KITA PUTUS.” Santi ngomong tegas.
“Tapi San, gue bisa ubah sifat gue. Pliiis San, jangan putusin gue! Gue gak bisa hidup tanpa lo!”
“Enggak, Bal! Gue gak bisa! Byee…” Santi pergi meninggalkan Ikbal.
***
Yeeee……… guee putus ma Santi… hilang sudah semua penderitaan guee… Merdeka! Goodbye Santi! Napa gak dari dulu sih! YAAAAHHHH……… CUMA MIMPI. Gue kira beneran, sebelll…!! Ikbal kecewa.
“Iiikkkkbbbaaalllll…… bangun! Ni ada telpon dari Santi.”Jlegeer! Suara mama yang kayak petir ngagetin Ikbal. Ikbal gelagapan. “Hah Santi?! Mau ngomong apa ya? Semoga dia ngomong pengen putus dari gue. AMIIINNNN…”
Bergegas Ikbal turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.
“Halo, Ada apa, San? Tumben telpon.”
“Bal, kayaknya hubungan kita cukup sampe disini aja deh! Gue dah ga tahan ma sifat lo. Gue harap lo ngerti, semoga ketidakhadiran gue di samping lo, bisa membuat hidup lo lebih baik. Makasih atas semua yang udah lo kasih ke gue.”
“Tapi, San? Gue masih sayang lo. Pliis, kasih gue kesempatan buat ngerubah sifat gue!”
“Gak bisa, Bal! Maaf kesempatan hanya datang sekali. Kesempatan lo dah habis. Thank’s n bye…” TUT.. TUT.. TUT.. Telpon di putus Santi.
Yesss!! Tuhan emang baek banget sama gue. Mimpi gue jadi kenyataan. Emang cerdas tu Santi, gak ada dia hidup gue bakal jadi lebih baik. Thanks, God!
***
Besoknya di depan ruang kuliah umum. BBBBRRRRAAAKKKKKK…… Kaki Ikbal kesandung sepasang kaki milik seorang gadis cuaannttiikk.
“Eh, maaf.”
“Hah elo lagi?! Cowok yang waktu itu mau nabrak gue?”
“Kenalin, gue Muhamad ikbal Solekhan, anak fak biologi.” Ikbal nekat.
“Gue Tiara Hilton. anak farmasi.” Si cantik menyambut hangat.
“Lo ada kuliah jam berapa? Masih lama?” Ikbal terus menyerbu.
“Masih lama sih, emang kenapa?”
“Lo mau ga nemenin gue makan di kantin?” Ikbal gak mau buang kesempatan.
“Gimana ya? Ya udah ayuukk…” Si cantik nyerah juga. Beriringan mereka jalan ke kantin. Ikbal serasa kejatuhan bintang tujuh. “Ehemm, ehemm.. Kemaren lo kok bisa galak banget sama gue? Gue kan gak sengaja!”
“Maklumlah gue lagi PMS. Dah ah, makan dulu, ngobrolnya nanti lagi.”
“Ra, lo dah punya cowok pa belom?”
“Gue baru putus, Bal, sama cowok gue. Makanya kemaren gue sensi banget.”
“Kalo gitu.. ada lowongan dunkZ…?”
Tiara diam, dan hanya tersenyum.
***
Satu bulan berjalan, Ikbal dan Tiara makin lengket. Mereka sering jalan bareng, dan dahsyatnya… kalo lagi ada dideket Tiara, Ikbal ngerasa hatinya tenteram banget. Ikbal udah nggak sabar buat ngungkapin perasaannya ke Tiara.
Dalam keheningan malam ini,
hatiku memilih dirimu untuk
mengisi ruang-ruang hampa dalam setiap nafasku.
Kumau kau tau,
tiap tetes tatapku, iringi tanyaku,
apakah kau mau menjadi milikku???
Ikbal nekat ngirimin puisinya ke Tiara. Gak sampai dua hari, Ikbal dapat jawaban. Cewek tersebut mau jadi pacarnya. Bahagianya Ikbal. Dia ngerasa dah nemuin tulang rusuknya yang ilang. Ikbal yakin Tiara emang jodoh yang dianugerahkan buat dirinya. Anaknya baik, cantik dan gak manja seperti Santi. “Semoga kebersamaan gue ama Tiara gak akan pernah berakhir untuk selamanya.” Doa Ikbal sebelum tidur.
***
“Tir, makan yuk!”
“Yuk.., Kemana?”
“Gampang!”
Puter-puter cari tempat makan, akhirnya mereka berlabuh di pizza hut. Pesanan datang, saatnya makan! Habis makan Tiara pamit mau ke WC. Hp-nya ditinggalin gitu aja dimeja. Entah ada bisikan darimana iseng-iseng Ikbal ngebuka-buka tuh hp. Klik sana klik sini Ikbal nemuin menu diary.
Dadanya tau-tau sesak. Di diary-nya Tiara menulis bahwa dirinya masih mencintai cowoknya yang pertama. Hubungannya dengan Ikbal ditulis cuma sebagai selingan mengisi kehampaan. “Oh dunia kiamat. Ternyata Tiara gak sungguh-sungguh mencintai gue.”
Hati Ikbal hancur berkeping-keping bahkan udah gak bisa di tata kembali. Tanpa menunggu Tiara kembali dari WC, Ikbal langsung cabut dari situ. Hari itu juga Ikbal memutuskan goodbye Tiara. Ikbal setres berat. Rasanya gak sanggup lagi untuk hidup.
***
Tiara, gue udah kehilangan tulang rusuk gue. Hidup gue hampa tanpa lo, walau hubungan kita hanya satu bulan tapi semuanya begitu indah. Nama lo slalu berada di hati gue sampai MATI. Slamat tinggal Tiara, semoga lo selalu bahagia.
I love u… Ikbal.
Dua hari setelah pertemuan di pizza hut Tiara menerima surat tersebut dari Ikbal, yang kata Mama Ikbal ditemukan di samping mayat Ikbal yang mati bunuh diri

KESUMA WARDHANI Oleh Nihayatul X1

TUGAS BAHASA INDONESIA
MENULIS CERITA PENDEK












Disusun oleh :


Pada suatu siang yang cerah di hari ketujuh belas di bulan Desember pada dua belas tahun setelah kemerdekaan lahirlah diriku, seorang anak yang cantik dan manis bernama Kesuma Wardhani. Aku terlahir dalam lingkungan keluarga jawa yang berkecukupan dengan satu saudara laki – laki. Ayahku adalah seorang mandor dan ibuku seorang ibu rumah tangga yang kadang – kadang menjadi penjual sayur keliling. Meski aku terlahir dalam keluarga yang bekecukupan dan pada jaman yang masih bisa dibilang sebagai zaman awal pembangunan Indonesia, kehidupanku tidak kekurangan dan serba terpenuhi.
Beberapa tahun berlalu, tibalah saatnya aku untuk memulai pendidikanku. Pagi itu ayahku berkata, “ nduk, kowe iki wis enggal sekolah.., lha karepmu arep sekolah nang ndi, cah ayu?” akupun menjawabnya dengan polos ala anak kecil “ nggih pundhi mawon mboten nopo – nopo, pak?kulo nderek mawon miturut bapak pundhi ingkang sae...”Ayahku menimpali pernyataanku “ lha nek kaya kuwe, priwe nek kowe sekolah nang SD 1, bae. Kae loh sing perek mushola”, Aku hanya menjawab “ Nggih pak..., kula purun sekolah wonten mriko,” Ayahku menjawab “ Ya wis bapak ngesuk arep ndaftarna koe nang ngana, arep melu ??”.aku menimpali “ Mboten lah, kulo wonten ndalem mawon, nengga ndalem“.
Tidak terasa sekarang aku telah memasuki sekolah baru yaitu SMP karena aku tidak ingin puncak prestasi belajar yang kuraih semenjak SD tergeser maka aku menjadi semakin giat belajar, akhirnya hari – hariku telah dipenuhi dengan kegiatan belajar, belajar dan belajar. Karena melihat diriku yang terlalu sering belajar maka kakakku merasa penat dan mengajakku bermain “ Suma, aja keakehan belajar lah.., mbok ko malah dadi cuntel, wis siki melu mamas dolan bae, yuh?!”, Aku menimpalinya dengan “ Lah, tapi Suma lagi nggarap PR mas, tunggu sedela ya mas, ngko aku melu mamas, mas arep ngendi ya??”.” lah ngendi – ngendi ya, sing penting ra neng ngumah “kata Kakakku.
Kakak dan akupun keluar dari rumah, karena aku tidak ahu akan diajak kemana sebenarnya diriku ini, akupun bertanya” Mas, mamas arep nang ndi koh?deneng kiye kaya arep maring lapangan?” Kakak menjawab”genah dhewek arep meng lapangan jarjare arep meng ngendi?” .
Beberapa menit kemudian kamipun sampai ke Lapangan desa kami, yaitu dekat kantor kepala desa dan ternyata telah ramai oleh segerombolan anak laki – laki. Kakakku berkata ” Siki mamas arep dholanan volly kambi batire mamas, kowe melu ya nggo genep – genep?!”. Sebenarnya aku ingin bermain bersama, tapi aku sadar diri kalau aku tidak tahu sama sekali tentang dasar – dasar permainan bola Volly. Jadi, aku berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan kakakku, dan..., ” jane aku gelem sih mas, tapi aku ora ngerti volly babar blas, ngko nek mamas kalah apa ora isin?” kakak malah dengan enteng menjawab ” Lach, nek kur kaya kuwe thok sih gampang, sing penting kowe manut bae karo apa sing diomongna nag mamas, Ocre ?!”, Dan akupun menjawab dengan gembira, ” Ocre dech, yuh siki dhewek mule main ..., ”. Kamipun bermain volly bersama, pada set pertama,permainan sudah mulai sengit dan berakhir dengan deuce, Akhirnya regu kamipun menang .
Tidak terasa hari beranjak sore, kakak mengajakku pulang, diperjalanan aku kembali berpikir tentang pertandingan tadi dan aku berkesimpulan bahwa permainan volly teryata tidak sulit, tiba – tiba lamunanku buyar karena kakakku mengajak diskusi tentang pertandingan tadi ” Suma, jebule kowe pinter dolanan volly, ya?ngertia kowe tak ajak dolan kawit ganu bae me teamku ra kalahan maning”, Karena mengira kakak hanya berkelakar aku pun juga menjawab dengan penuh candaan” Jane sih aku wis pinter kawit neng wetenge mamake,cuma khan aku ra seneng pamer, priwe yach? Pahlawan kan metune trakhiran..., :p” Kakak menjawab ”lach kowe, serius sih ngapa! Kowe ki duwe bakat, mula kowe gelem ra dadi team inti nang Team Volly Kelurahan? Nek gelem ngko kowe bakal dilatih khusus men bener – bener ngerti volley, kebeneran posisi liberone lagi kosong, priwe?” Aku terkejut campur senang, karena saking senangnya aku menjawab sambil berteriak” SUMPAH MAS? KOWE RA LOMBO, KHAN ???” kakaku menimpali “ ya iyalah ra lombo, masa aku lombo karo adine aku dhewek, apa untunge ?”.
Hari – hariku setelah hari itu sudah tidak dipenuhi dengan belajar melulu, kini aku menjadi semakin sibuk dengan jadwal latihan Volly, ujung – ujungnya aku dimarahi ayah karena prestasiku turun dan nilaiku tak sebagus dulu, seperti pada penerimaan laporan hasil belajar semester lalu, ayahku berkata “ Bocah – bocah karepku cukup kakangmu bae sing sekolahe ndableg kowe aja melu – melu, eh.. jebule kowe malah lewih parah, siki bapak tek takon, janjane kowe karepe apa?” Aku berkelit dari tuduhan Ayahku “ Nggih kula karepipun ndados ingkang paling sae, tapi menawi kula mboten saged dados ingkang paling sae teng pelajaran biasa nggih kula bae dados ingkang paling sae ing pelajaran olahraga, pripun pak? Angsal ?” Ayahku menjawab “ karepmu, tapi kowe kudu janji karo bapak walaupun nilaimu elek tapi kowe ra olih ra munggah kelas, nek kowe ra munggah otomatis kowe ra olih Vollyan maning, setuju?!” Aku pun segera menyetujuinya “ nggih pak, kula janji….., “.Tapi walaupun nilaiku jelek, Ibuku selalu mendukungku dengan berkata “ Nduk, kowe olih dolan olih dadi apa bae asal kowe ora klalen karo tugasmu yaiku sekolah, ibu ora njaluk apa – apa sing penting kowe dadi wong bener baen ibu wis seneng…,”.
Sekarang aku telah menjadi pemain volley yang terkenal, bagaimana tidak? Aku adalah satu – satunya anggota team inti yang perempuan dan kebetulan aku adalah pemain termuda dibanding lainnya. Akupun punya julukan dari kawan satu teamku yaitu “Unchained Jasmine” artinya Melati yang tidak terangkai atau aku bagaikan bunga melati yang harum namun tidak seperti melati lain yang seharusnya terangkai sebagai penghias atau pengharum.
Tidak terasa aku sudah menamatkan seluruh pendidikanku , kini waktunya aku untuk mencari pekerjaan sendiri. ”Aku menawar semua lowongan tapi kenapa sampai saat ini aku diterima ya…,?!”Kataku dalam hati karena aku bingung. Akhirnya aku sampai di salah satu kantor departemen negeri, dan coba tebak, Akhirnya aku diterima kerja disana karena bos disana adalah teman satu team dulu di kelurahan. Tapi sungguh aku tetap merasa kehilangan yang mendalam karena saat aku diangkat sebagai PNS, ibuku meninggalkan diriku untuk selamanya, inilah salah satu penyebab mentalku down dan aku menjadi linglung saat bekerja.
Meskipun aku berusaha menutup – nutupinya akhirnya Atasanku tahu juga kalo aku sedang dalam kondisi tidak sehat, kemudian ia memanggilku keruangannya dan disana ia berkata” gyeh Suma, aku kiye batirmu kawit cilik, aku ngerti nek kowe ki lagi sedih banget gara – gara di tinggal ibumu, tapi tulunglah, masalah kuwe aja digawa maring kantor, aku yakin ibumu bakal lewih sedih maning nek weruh anak wadhon siji – sijine siki dadi wong sing ra rajin lan ra ceria maning.” Aku sedikit lama dalam mencerna ucapan atasanku tapi akhirnya aku menyadari kesalahanku dan aku berjanji untuk memperbaikinya dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga.
Kini semangat hidupku telah kembali, aku menjadi aku yang dulu lagi, rajin dan berprofesionalisme tinggi, bahkan sekarang aku masih bermain volley dengan teman sekantor dan menjadikan kegiatan itu sebagai agenda rutin bagi kami. Sekarang aku mendapat julukan dari teman sekantor “ Si ngga ada matinya “ karena menurut mereka aku seperti jarum jam yang selalu berdetak berputar – putar tanpa merasakan lelah.
Kini semua telah kuraih ; menjadi pemain volley yang professional, pegawai yang memiliki kedudukan yang terpandang dikantornya, memilki penghasilan yang tetap setiap bulan, hanya saja ibuku tidak sempat menikmati semua ini bersamaku, aku berharap ibu berbahagia di alam sana. Oh ibu aku hanya ingin berkata “ semoga ibu bisa melihat semua ini, lihatlah ibu…, anakmu telah menjadi seseorang yang patut dibanggakan.”

GROSHT OLEH EVI PANGESTI

Puput adalah gadis yang sangat polos dan lugu. Gadis ini masih berumur 11 tahun. Kurang lebih satu minggu lagi Puput akan masuk ke SMP. Sekarang Puput sedang sibuk menyiapkan keperluan MOS (Massa Orientasi Siswa). Puput merasa sangat senang karena gadis berwajah polos ini dapat masuk ke SMP favorit di daerahnya.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Dengan suara yang sangat gugup, Puput memanggil ibunya. “Ibu….ibu…Puput berangkat sekolah dulu. Doain Puput ya bu”, Kata Puput.
“Iya…Seorang Ibu pasti mendoakan anaknya. Hati-hati di jalan, belajar yang sungguh-sungguh”, Jawab ibu.
“Baik ibuku tercinta, Puput pasti hati-hati dijalan dan belajar yang rajin.Ibu tenang saja”.
Dengan tergesa-gesa Puput mengucapkan salam ,“Assalamualaikum”.
Ibu menjawab ,”Wa’alaikumsalam.Begitu semangatnya dia sekolah di sekolah barunya”.
Saat di perjalanan dia merasa tegang. Di otaknya selalu diulang pertanyaan apakah aku akan merasa nyaman, kerasan di sekolah baruku?,bagaimana wajah-wajah baru itu dan apakah aku bisa mendapatkan seorang teman atau sahabat yang sehati dengan aku?, sahabat yang selama ini aku impikan di sekolah baruku?.
Saat apel berlangsung Puput mengamati orang yang ada disekitarnya. Wajah-wajah yang dia lihat terasa asing di matanya.Puput harus beradaptasi dengan wajah-wajah baru itu.
Apelpun telah usai.Mereka masuk ke kelas masing-masing dengan di dampingi oleh kakak-kakak osis.
Dia duduk di kursi ke-2 dekat kursi guru dengan seorang anak perempuan berambut pendek, dan berbadan kurus. Puput sangat diam, satu katapun belum keluar dari mulutnya. Puput merasa takut, malu dan tidak tahu bagaimana caranya berkenelan denga orag baru.Tapi dia berfikir apabila dia begini terus, bagaimana dia akan mendapatkan teman baru?. Mungkin orang-orang merasa tidak kerasan berada di sebelah dia, karena diprerlakukan seperti patung. Akhirnya dia memberanikan diri untuk berkenelan dengan teman sebangkunya. Dibenaknya, Puput merasa malu dan aneh. Karena ini merupakan pertama kali Puput mengajak orang berkanalan terlebih dulu.
Puput menoleh ke teman sebangkunya dan tersenyum. Senyuman itu merupakan sebuah tanda bahwa Puput ingin berkenalan dengan dia.”Ehem….hai, kenalkan namaku Puput. Nama kamu siapa?”, kata Puput dengan suara terputus-putus.
”Kenalkan nama saya Anti. Kamu dari sekolah mana?”,Anti membalas pertanyaan Puput.
“Oh aku dari SD N Kasih Ibu. Anti, dari SD mana?”, jawab Puput.
"Dari SD N 5 Dusun Kidul”, kata Anti
Akhirnya terciptalah sebuah percakapan dan Puput mempunyai satu teman baru. Selama MOS mereka selalu bersama. Dengan kebersamaan yang terjalin anatra mereka, akhirnya tercipta sebuah keakraban.
*******
Tidak terasa MOS sudah berakhir dan Puput sudah syah menjadi Siswa SMP N HARAPAN BANGSA. Sekarang Puput menjadi murid kelas 7A. Tiba-tiba Puput mendengar ada yang memanggilnya.
“Puput…..”.
Puput mencari suara itu, menengok ke kanan, ke kiri dan ke belakang.Tapi puput tidak berhasil menemukan darimana suara itu berasal.Tiba-tiba suara itu terdengar lagi memanggil-manggil Puput.
“Put….Put…..hai aku disini, di kelas atas”, Teriak Anti
Sambil berlari, Puput menuju kelas atas. Dengan nafas terengah-engah Puput memarahi Anti.“Heh…ternyata kamu An, yang teriak-teriak memanggil namaku. Aku kira setan iseng, Buwat orang takut saja”.
Dengan expresi wajah senang yang telah berhasil membuat Puput ketakutan, Anti hanya membalas dengan senyuman. “Sudahlah ayo ke kelas. Maafin ya tadi aku cuma iseng”, Kata Anti.
“Eh….kita duduk dimana ?”, Kata Puput.
“Tuh….di depan Laras”, Jawab Anti.
“Cape juga ya naik tangga sambil lari-lari”, Keluh Puput.
“Put, baju kamu basah banget tuch. Habis ngapain?”, Tanya Laras
“Ha….basah ya?”, Tanya Puput
“Iya, kelihatan banget tuch….”, Jawab Laras
“Tadi habis lari-lari…..”, Jawab Puput
“Kok lari-lari ? kamu seperti mandi keringat saja”, Tanya Rina
“Akibat dikerjain sama Anti. Saking inginnya melampiaskan kemarahan, aku sampai lari-lari. Akibatnya ini, keringatan sampai seperti mandi susu”, Jawab Puput
Bel berbunyi….menandakan sudah waktunya masuk kelas.
“Sudah masuk….nanti ngapain ya. Kalau langsung pelajaran tidak mungkin. Kita kan belum diberi jadwal pelajaran, iya kan?”, Kata Lury
“Yupzz, betul apa kata kamu tadi. Kemungkinan nanti kita perkenalan dulu deh. Baru setelah itu kita menulis jadwal pelajaran…..”, Jawab Rina
“Eits….hust….ada guru, kayaknya mau masuk ke kelas kita”, Kata Anti
Mendengar bahwa ada guru yang mau masuk ke kelas, semua murid kembali ke tempat duduk masing-masing dan diam, seolah tidak terjadi suatu kejadian apapun.
“Selamat pagi……”, Sapa seorang ibu guru
“Pagi……….ibu”, Jawab siswa dengan serentak.
Guru yang satu ini masih terlihat sangat muda terbukti dengan raut wajahnya yang masih segar dan belum tumbuh tanda-tanda keriput di. Wajah ibu guru yang satu ini sangat cantik dan suaranya sangat lembut, membuat aku tertarik dengan beliau. Dilihat dari cirri-ciri itu, ibu ini pasti sangat baik, sabar dan penuh denga kasih sayang.
“Ya sebagai permulaan, langsung saja kita mulai dengan perkenalan, bagaimana? ”, Tanya Ibu guru
Semua muridpun setuju dengan usulan Ibu guru.
“Oke kita mulai dari ibu. Perkenalkan nama Ibu Nur Cahayati. Guru-guru disini biasa memanggil ibu cukup dengan panggilan Nur”, Kata ibu
Setelah Ibu guru memperkenelkan diri sekarang giliran anak-anak yang memperkenalkan diri.Satu per satu anak-anak memulai perkenalan.
*****
Selama 6 bulan Puput beradaptasi dengan suasana di sekolah barunya. Sekarang Puput sudah mulai akrab dengan lingkungannya, guru-guru, penjaga sekolah dan warga sekolah lainnya.Teman Puput juga sudah bertambah banyak. Yang awalnya hanya memiliki satu teman tapi sekarang hampir semua anak menjadi temannya.Tapi dari beberapa temannya, hanya dengan 5 anak Puput merasa akrab bahkan sehati. Di antaranya Anti, Laras, Lury, Sisi dan Lina
Mereka sangat akrab seperti perangko dengan suratnya. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu bersama tidak dapat dipisahkan.
Kurang lebih 2 minggu lagi sekolah mereka mengadakan persami dalam rangka pergantian Dewan Pendamping. Sekarang mereka sedang mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dan pembagian regu. Sesungguhnya kami tidak dalam satu regu tapi kami memohon kepada Dewan Pendamping supaya kami dapat satu regu. Akhirnya dengan susah payah, kami dapat satu regu.
*****
Kami sibuk menyiapkan semunya. Di waktu senggang kami bercerita tentang sekolah kami yang konon katanya angker. Lury yang mendengar cerita itu wajahnya langsung pucat ketakutan.”Sudahlah jangan cerita itu ganti topik bisa ngga?”, kata Lury. ”Huh dasar penakut”, kata Sisi dengan sombong. ”Eh nanti kalau persami kita tidurnya deketan ya”, kata Lury.”Gampang bisa diatur”, jawab Anti.
*****
Pagi yang sangat mendung. Suasana terasa tidak nyaman. Ada Sesutu yang aneh saat itu.
“Hey ti….pagi benar kau berngkat sekolah. Jam 06:15 sudah di kelas”, Tanya Puput sambil menunjukan jari kea rah jam dinding.
“Put…put masih ada yang lebih pagi dari aku. Biasanya Lury berangkatnya lebih pagi daipada aku. Biasanya jam segini sudah ada di sekolah.Tapi…tumben sekarng dia belum menampakan diri, ada apa ya put?perasaan aku nggak enak?”, Kata Anti
“Ah Cuma perasaan kamu saja. Mungkin Lury bangunnya telat”, Jawab Puput
Beberapa jam kemudian pak penjaga sekolah ke kelas aku. Tiba-tiba bertanya apakah Lury anak kelas ini?. Perasaan kami mulai tidak enak dengan pertanyaan itu.
Puput menjawab pertanyaan itu,”Iya Lury anak kelas ini”
“Ada apa, pak”, Tanya Anti
“Lury baru saja meninggal dunia tadi malam di depan SMA N PELITA BANGSA”, Kata Pak penjaga sekolah
Kami tidak percaya mendengar kabar itu. Baru kemarin kami merencanakan persami, duduk bersama. Setelah mendengar kabar itu Puput dan Anti duduk bersandar lemas sambil menangis. Tiba-tiba Puput merasa badannya tidak bisa digerakkan dan wajahnyap terlihat pucat. Anti merasa bingung dengan keadaan saat itu.
Baru beberapa menit kemudian kabar itu dengan cepatnya menyebar. Tiba-tiba seorang guru masuk ke kelas membawa balsam. Balsem itu digosok-gosokkan ke badan Puput. Puput merasa terpukul sekali mendengar kabar itu karena dia harus kehilangan salah satu sahabatnya yang dia sayang.
Setelah kabar itu terdengar oleh Ibu kepala sekolah. Puput, Anti dan Lina segera menuju ke rumah Lury menggunakan mobil kepala sekolah dan yang lainnya menggunakan bis ke rumah Lury. Ketika semua tiba di rumah duka, Puput tidak sanggup melihat keranda yang berada di ruang tamu.
Sebelum dimakamkan Kepala sekolah memberi sambutan. Setetelah itu jenazah Lury dimakamkan. Semua anak ikut ke pesarean. Ketika jenazah dimakamkan, kami benar-benar melihat bahwa jenazah itu Lury, kami baru sadar bahwa Lury sudah meninggalkan kami untuk selamanya.
*****
Kejadian itu sudah berlangsung selama1 tahun.Selama 1 tahun kadang-kadang kami ke pesarean dimana Lury di makamkan. Sekarang kami hanya berlima.Tapi bukan berarti kami berpisah dan persahabatan kami bubar begitu saja. Tetapi sekarang persahabatan kami bertambah erat.
Sekarang mereka sudah kelas 2 SMP. Mungkin karena mereka sudah merasa sehati, mereka dapat satu kelas lagi kecuali Sisi. Mereka harus beradaptasi lagi dengan anak-anak dari kelas lain.
Ada segerombolan anak yang dekat dengan kami tetapi Puput tidak suka dengan kedekatan mereka. Puput merasa dilupakan oleh sahabatnya. Dia sering merasa dicuekin. Sehingga Puput merasa jenuh apabila berkumpul dengan mereka. Puput menjadi lebih sering menyendiri dan kumpul dengan anak-anak lain. Sedih yang Puput rasakan ketika itu. Karena sahabat-sahabtnya telah diambil oleh orang lain.
Suatu hari Puput mendekati mereka. Tapi Puput masih saja merasa dicuekin, seolah dirinya tidak ada gunanya lagi.
“Ya ALLAH apa kesalahan saya.Mengapa dengan kedatangan mereka, sahabat saya yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu.Saya tidak mau kehilangan sahabat kesayanganku”, Gumam Puput
Sebenarnya Puput ingin sekali menangis. Tapi dia harus kuat dengan semua itu. Tapi ternyata Puput tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Dia lari ke kelas Sisi dan menceritakan semuanya.
“Si…. Kamu merasa ada yang berbeda dengn Anti, Laras dan Lina tidak?”, Tanya Puput
“Ada apa Put tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?”, Sisi berbalik Tanya
“Tidak ada apa-apa. Sudahlah jawab saja pertanyaanku tadi”, Kata Puput
“Iya aku merasa ada yang berubah dengan mereka. Aku merasa mereka sudah melupakan persahabatan kita dan sekarang mereka lebih dekat dengan anak lain daripada sahabatnya”, Kata Sisi
“Itu yang aku rasakan sekarang Si. Aku sedih, Si, aku ingin menangis”, Kata Puput.
Tiba-tiba Puput meneteskan airmatanya yang selama ini dia tahan.
“Si…aku ingin semuanya kembali seperti yang dulu. Kita selalu bersama, sharing bareng dan saling menghormati. Aku tidak tahan dengan semua ini. Aku merasa ingin sekali menyadarkan mereka tapi aku tidak bisa. Aku harus bagaimana?”, Kata Puput sambil memeluk Sisi
“Sudahlah…semuanya pasti akan kembali seperti dulu, sabar saja”, Kata Sisi.
Bel berbunyi, Puput kembali ke kelas dengan wajah sedih.
*****
Mungkin sahabat-sahabat Puput sudah merasakan keanehan pada diri Puput. Ketika istirahat tiba-tiba Lina mendekati Puput yang sedang berdiri sendirian di depan kelas dengan pandangan kosong.
“Dor, lagi ngapain Put?”, Tanya Lina
“Eh Lina, kaget tahu. Tiba-tiba muncul di depanku.Lagi lihat-lihat aja. Tumben nech sendirian ngga bareng sama yang lain. Yang lainnya lagi pada kemana?”, Tanya Puput
“Oh mereka lagi di kantin. Kamu lagi ada masalah Put? akhir-akhir ini kamu sering melamun”, Kata Lina
“Nggak ada apa-apa. Sudahlah…”, Kata Puput.
“Yang bener aja. Beneran?”, Kata Lina
“Iya….”, Kata Puput
“Put, kamu merasa kalau kami sudah berubah ya, sudah nggak kaya dulu. Kamu salah paham Put. Kamu saja yang merasa seperti itu. Kamu menjauh dari kami. Kamu belum bisa beradaptasi dengan mereka. Put, persahabatan itu masih ada”, Kata Lina
“Menurut kamu seperti itu, Na. tapi aku tidak merasa seperti itu. Bukan aku yang belum beradaptasi dengan mereka tapi kamu, anti, laras yang sudah melupakan persahabatan ini. Sisi juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan”, Kata Puput
“Ya sudah, kamu jangan mersa seperti itu. Kita kembali seperti dulu saja. Nanti Anti dan Laras, aku yang jelasin. Sekarang kamu ikut aku”, Kata Lina
“Oke, tapi kalian tidak boleh cuekin aku lagi, janji”, kata Puput
“Janji”, jawab Lina
Dengan penjelasan Lina, akhirnya semua kembali seperti dulu. Sekarang tidak ada lagi kesedihan dan salah paham.

Jumat, 06 Februari 2009

RUJAK (Ramadhan Untuk Jalan Kebenaran) Fajar Adi N X3

Sebuah kata indah yang sangat memeiliki arti mendalam bagi pengalaman hidup di masa kecil ku saat masih duduk di bangku SMP dulu.
Saat pertama ku masuk ke kelas 8 SMP dulu, sangat banyak kehidupan ku yang berubah drastis, dari sejak awal masuk SMP di kelas 7 kehidupan ku masih sangat biasa bahkan membosankan, aku yang masih sangat lugu, polos, dan sangat pendiam hanya mengikuti kaidah perputaran waktu dari mulai detik menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi minggu dan seterusnya hanya seperti itu-itu saja. Akan tetapi, sejak ku masuk kelas 8 SMP seperti yang sudah tertulis diatas, kehidupan yang sangat membosankan itu berubah menjadi kehidupan yang menurut kamus kecil ku menjadi sangat WAH… Selain di kelas 8 ini yang tentunya memiliki kelas yang baru, temen-teman yang baru pernah ku kenal juga, aku seperti merasa telah menemukan kehidupan yang sepertinya pas dan nyaman buat aku jalanin ke depan.
Seperti yang sudah aku duga, rutinitas hidup di kelas 8 ini sangat nikmat dan mengasikan buat aku jalani, teman-temanku yang baru inilah yang boleh dibilang sebagai penyebab utamanya, teman-temanku yang sangat enak dan nyaman untuk bersahabat, baik dari kaum laki-laki maupun kaum hawa-nya. Seperti misalnya, saat bergaul bermain bersama dengan teman laki-laki aku menjadi sangat suka bermain sepak bola yang ternyata bisa menjadikan diriku cinta pada salah satu cabang olahraga ini, selain menjadi suka bermain bola yang lebih mengandung niali positif untuk mengisi waktu luang, ternyata ada juga kegiatan negativ yang tidak aku kira sebelumnya menjadi timbul dan membuat ku menjadi nakal, dengan bergaul bersama temen-teman ku di kelas 8 ini aku bisa menjadi salah satu anak di salah satu di geng atau grombolan anak-anak badung di sekolah SMP8 pewete ku ini.
Mencari uang saku tambahan untuk jajan dengan meminta paksa dari siswa siswi yang lain merupakan kegiatan yang sudah wajib. Di pembelajaran aktivitas ku tidak kalah nakalnya, semula aku yang sangat giat belajar dan senang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, sejak saat itu mengerjakan tugas dan belajar berubah seolah menjadi musuh dan senjata boomerang yang sangat ingin ku hindari lalu ku buang jauh-jauh dan ku musnahkan dengan sadis. Bahkan tak sedikit tugas di kelas 8 ini yang tak tersentuh sedikitpun oleh tangan ku ini, selain itu banyak juga nilai-nilai kosong yang menjadi konsekwensi dari tidak mengerjakan dan mengumpulkan tugas-tugas itu, bahkan bukan hanya tugas-tugas dari guru saja yang sudah ku acuhkan, di kegiatan ulangan harian pun tak pernah terpikirkan di otak ku. Saat ulangan berlangsung senjata utama hanya membuka buku untuk contekan dan mempercayai teman untuk mengerjakannya alias mencontek sepenuhnya atau nurun. tapi ternyata kenakalan ku bukan hanya itu saja, seperti apa yang sudah ku tulis tadi, selain banyak memiliki teman laki-laki untuk bermain bersama, aku pun sudah mulai tertarik dengan lawan dari jenis ku, yaitu seorang wanita, kebetulan ada seorang perempuan yang berhasil masuk dan mencuri perasaan cinta di hati ku, dan boleh di bilang perempuan ini lah yang menjadi cinta pertama ku, oleh karena itu aku pun berjuang sekuat tenaga dan sepenuh hati untuk mendapatkan kasih dari diri nya. Ternyata dalam perjalanan cinta ku, telah banyak sekali korban yang sudah aku jatuhkan, tak terkecuali nilai di pelajaran aku lagi, aku yang semula sudah malas belajar justru di tambah dengan perasaan yang membuatku menjadi tambah dan tambah malas dan malas untuk belajar lagi.
Beberapa bulan berjalan, ternyata kehidupan ku yang sudah sangat bebas itu terus berkelanjutan, mendapat uang saku tambahan, mencontek segala bentuk dan variasi tulisan, juga mengorbankan segalanya untuk seorang perempuan terus dan terus berlanjut di kegiatanku bersama teman-teman ku, dan ternyata kenakalan ku bersama teman-teman sudah tercium oleh para pengajar (guru), dan wali kelas ku saat itu pun sudah mengetahuinya. Kebetulan ibu wali kelas ku itu adalah seorang guru agama Islam. Di saat pelajaran agama oleh sang wali kelas ku ini, kuping dari kami-kami inilah yang berhasil mewarnai merah paling merah dan paling spektakuler di kelas. Tapi karena ternyata wali kelas kami itu adalah seorang yang sangat baik dan penyabar ternyata masih mau terus dan terus menasehati kami walau dengan cara-cara yang lembut dan sangat ke ibuan.
Hari-hari yang sudah tercoret dan pernah ku jalani ditinggalkanku dengan berubah menjadi bulan lalu terus berlanjut seperti yang sudah ditakdirkan oleh Allah dengan sangat sempurna. Bulan-bulan yang terus berganti ini akhirnya sampai juga di salah satu bulan yang di dalam hari-harinya menjadi penantian oleh semua warga Islam di dunia, bulan inilah yang sangat indah dan teristimewa dan bahkan lebih indah dan lebih baik dari pada seribu bulan.
Detik-detik di awal di bulan Ramadhan saat itu membuat kegiatan-kegiatan nakal ku sedikit berkurang karena banyak alasan yang mendasarinya, semula aku dan teman-teman ku yang suka mengambil uang saku hak milik orang lain dengan paksa, kini sudah berhenti total dan tidak melakukannya lagi, juga aksi-aksi nakal yang lain seperti menjahili orang, mengejek ,dan men tertawakan orang lain juga kini sangat sukar dan sulit untuk kami lakukan. Entah kenapa saat-saat itu menjadi awal bulan Ramadhan ku yang cobaan nya sangat berat, karena selain sedang

menjalankan ibadah puasa aku pun harus dan perlu menghilangkan aksi-aksi nakal ku tersebut demi mencapai kesempurnaan ibadah ku. Hari-hari di bulan Ramadhan ini pun terasa kosong dari dosa besar bagiku, tapi malah justru menjadi terisi dengan pahala-pahala kebaikan, karena saat itu banyak kegiatan-kegiatan Islami di SMP8 tercinta ku dulu, seperti misalnya, setiap pagi siswa-siswi di SMP8 ini di wajibkan untuk membaca lalu bertadarus dan mengakaji kitab suci Al-Qur’an. Juga di saat istirahat pagi yang pertama , di isyaratkan untuk selalu mendirikan sholat dhuha untuk penambah rezeki dan di waktu istirahat ke dua pada siang hari seluruh keluarga besar SMP8 di wajibkan agar berjamaah mendirikan sholat dzuhur di masjid.
Ternyata setelah lama ku jalani kehidupan baru ku ini, aku seolah menjadi terbawa untuk berfikir terus melakukan rutinitas kebaikan di hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan.
Alhamdulilah, setelah lepas dan berhasil melewati satu bulan yang penuh hikmah, syukur alhamdulilah kebiasaan tecela ku dan aksi-aksi nakal dan jahil dari benak dan hati ku ini menghilang dan luntur dengan sendirinya . Dan saat itu aku merasa sudah terlahir kembali, seperti seorang bayi yang baru terlahir dari perut rahim ibu nya yang masih dalam keadaan suci. Aku merasa sangat beruntung dan tak lupa bersyukur karena ternyata Allah masih sangat sayang dan mencintai pada diri ku ini, karena aku percaya hanya Allah lah satu-satu zat yang dapat merubah dan menunjukan suatu jalan kebaikan dan jembatan kebenaran.
Dari pengalaman hidup di masa kecil ku ini, aku tidak akan pernah bisa dan dapat untuk melupakannya, sebab hanya karena gemblengan suci selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan saja aku sudah sangat bisa merasakan betapa agung-Nya kebesaran Allah SWT.
Dari pengalaman ku ini, aku dan teman-teman dulu sudah sering

mambicarakan betapa sempurnanya hidup yang telah di atur oleh Allah SWT itu, saat masih larut di baying dan benak kekaguman ku ini akhirnya aku merangkum pengalaman sepenggal ku di kelas8 SMP dulu dengan sebuah kata indah “RUJAK” kependekan dari Ramadhan Untuk Jalan Kebenaran. Ternyata memang benar, Ramadhan adalah satu bulan yang sangat spektakuler dan bahkan Allah SWT banyak memperingatkan kita untuk selalu mencintai adanya bulan keberkahan ini. . ,
RAMADHAN… oh RAMADHAN pembuat RUJAK pengalaman ku yang sangat indah dan sangat berkesan.

Hadiah Ulang Tahun yang Hilang by Danang

Ada anak laki-laki yang sangat kaya dan sombong, anak itu bernama Dias. Suatu hari Dias berangkat dengan sahabatnya yang bernama Afgan. Setiap pulang sekolah Dias dijemput dengan mobil mewah.

“Oya 4 hari lagi lagi kan aku ulang tahun !”, Dias berkata dengan terkejut. “aku minta hadiah apa ya ?”, Dias bingung. “Ah nanti aja kalau udah mau ulang tahun !”, kata Dias. Lalu pada pagi harinya Dias ke sekolah dan bilang kepada teman - temannya. “Hai teman - temanku, 3 hari lagi aku ulang tahun !”. “Acaranya mewah apa nggak ?”, sahut Afgan. “Tentu mewah dong !”, Dias menjawab. “Wah kesempatan besar nih, bias makan makanan yang lezat, mumpung gratis !”, Afgan berkata dalam hati. “Kring……!”, bel masuk sekolah berbunyi. “ya anak – anak, nanti saya berikan pekerjaan rumah, karena kalian mau ulangan !”, Pak guru berkata. “dikumpulkan kapan pak ?”, tanya Dias. “Besok !”, jawab Pak guru. “Gann nanti malam kerja kelompok ya !”, Dias berkata. “Iya, tenang aja !”, jawab Afgan.

Pada waktu malam harinya, merekapun kerja kelompok di rumahnya Dias. “Dias , beli baju yuk !”, Mama Dias berkata. “Iya mah !”, jawab Dias, lalu aku ditinggal ?”, tanya Afgan. “Iya, Cuma sebentar kok !”, Mama Dias berkata. Lalu keluarga Diaspun pergi. Kemudian Afgan berpikir “Diaskan orang kaya, mumupung kosong lihat – lihat barang ah !”. lalu Afgan menemukan benda kesayangn Dias, “Wah………, flash disk 10 gigabyte !”, Afgan berkata sambil terkagum – kagum. “Wah, lumayan buat aku aja”, lalu Afgan mencuri flash disk tersebut.




Setelah keluarga Dias pulang, Afgan berpura – pura mengerjakan tugas yang diberikan dari Pak guru. “Bagaimana Gan, sudah selesai apa belum ? ”, tanya Dias. “Belum !”, jawab Afgan. “Dari tadi kamu ngapain ?”, tanya Dias. “eh………, apa ya !”, Afgan bingung, karena dari tadi ia sedang melihat – lihat barang dan mencuri flash disk 10 gigabytenya Dias. “Soalnya susah !”, kata Afgan. “Kan sudah diajarkan sama Pak guru !”, Dias berkata. :Iya sih, tapi aku lupa !”, kata Afgan. Lalu Afgan pamitan ingin pulang karena sudah malam.

Esok paginya, mereka berangkat sekolah bersama lagi. “Anak – anak, besok kalian presentasi dengan menggunakan powerpoint !”, kata Pak guru. “Ia pak !”, siswa menjawab. “Gan, kita satu kelompok ya !”, kata Dias. “Iya tenang aja !”, jawab Afgan. Pada waktu mereka membuat powerpoint, tiba – tiba Dias menjerit. “wah…….., mana flash disk kesayanganku ?”, Dias berkata. “Mungkin lamu lupa menyimpan”, Afgan berkata. “Terus bagaimana ?”, Dias kebingungan. “Datanya disimpan di CD aja !”, Afgan berkata. ”Ya udah deh, besok beli lagi”, kata Dias. “Oya 2 hari lagi kan kamu ulang tahun, kamu mau hadiah apa dari orang tua kamu ?”, Afgan bertanya. “Aku masih bingung “, jawab Dias. “Kamu sudah buat undangan apa belum ?”, tanya Afgan. “Sudah dong !”, jawab Dias. “Besok kita sebarkan kesemua teman sekelas kita”, Dias berkata.

Esok harinya, “Hai teman – temanku, aku bagikan undangan ulang tahun aku kepada kalian !”, kata Dias. “Kalau tidak dating kalian akan rugi, soalnya di rumahku mengadakan pesta besar – besaran !”, kata Dias yang semakin bertambah sombong. “Kriing………”, bel masuk berbunyi. “Selamat pagi anak – anak !, sekarang mulai presentasi dari kelompoknya Dias !”. Setelah mereka maju Pak guru berkata, “Lho kok pake CD ?”. “Iya pak, soalnya flash



disk 10 gigabyteku hilang!”, kata Dias. “Wah berapa harganya ?”, tanya Pak guru. “Murah kok pak Cuma 1 juta !”, kata Dias yang sombong.

Pada saaat Dias pulang sekolah, Dias meminta hadiah kepada orang tuanya. “Pah, aku minta hadiah handphone yang ada 3,5G nya ya !”, Dias memohon. “Iya !”, jawab Papa Dias.

Keesokan harinya. “Hai teman – teman jangan lupa ya, nanti datang kepesta ulang tahunku !”, kata Dias. Setelah pulang sekolah teman – teman Dias tidak datang, karena teman – temannya sangat benci dengan sifat yang dimiliki Dias. Yang datang kepesta ulang tahunnya Cuma Afgan dan saudaranya Dias.

Pagi harinya Dias memamerkan hadiah ulang tahun dari orang tuannya. “Hai, teman – temanku inilah hadiah dari papahku, handphone yang ada 3,5G nya, harganya 10 juta !”, Dias berkata dengan sangat sombong. Pada waktu jam istirahat, Afgan menemui temannya yang bernama Tony. Untuk mencuri handphone milik Dias. “Ton, nanti saya akan mengajak Dias bicara, kemudian kamu mengikuti aku dari belakang, lalu kamu buka tasnya pelan – pelan, besok handphone kita jual, lalu hasilnya kita bagi dua, ok !”, Afgan merencanakannya dengan jahat.

Setelah Dias tiba di rumah tiba – tiba Dias menjerit dengan keras. “Wah………., mana handphoneku ?”, Dias sangat kecewa, karena hadiah ulang tahunnya hilang.

Lalu besok paginya Dias melaporkan kejadian itu kepada Pak guru. Kemudian Pak guru mengumumkan kepada semua siswa. Akhirnya semua



siswa tahu, bahwa handphonenya Dias hilang. “Makannya jadi orang jangan sombong dong !”, kata Bagas, teman sekelas Dias. Pak guru menanyakan kepada semua siswa. Dan ketika Tony ditanya oleh Pak guru, “Apakah kamu yang mencuri handphonenya Dias ?”. “Tidak Pak !”, Tony berbohong. Lalu Pak guru menanyakan kepada Afgan. “Apakah kamu yang mencuri handphonenya Dias ?”. “Eh……. Tidak Pak !”, Afgan berbohong.

Esok paginya, kejadian out belum terungkapkan sama sekali. Lalu Afgan merasa bersalah, bahwa perbuatan itu sangat keji, kemudian Afgan menemui Pak guru,”Pak, sebenarnya saya yang mencuri handphonenya Dias “. “Kenapa kamu baru bilang ?, kemarin ditanya jawabnya tidak mencuri bagaimana sih kamu !”, bentak Pak guru. “Maaf Pak, saya baru sadar bahwa perbuatan yang saya lakukan sangat kejam “, kata Afgan.

Akhirnya semuanya sudah terungkapkan. Kemudian Dias kecewa, karena yang mencuri handphonenya adalah sahabatnya sendiri, Dias juga tahu yang mencuri flash disknya adalah Afgan. Teman – temannya lalu menjauhi mereka berdua, dan Diaspun menjauhi Afgan.

Tak Bisa Jauh Oleh Arga Noer X5

Tak Bisa Jauh


Hari yang cerah di desa Sukajadi yang berapa di pinggiran kota Garut. Burung burung berkicau seakan menyambut datangnya pagi. Hari ini adalah hari pertama sekolah dari libur akhir semester yang panjang. Bagi anak sekolah hari ini adalah hari yang membuat malas untuk beranjak dari ranjang untuk memulai aktivitas. Seperti halnya Rani, badannya terasa sangat berat untuk beranjak dari ranjangnya. “Rani, ayo bangun ……” kata Ibunya. “ iya bu… lima menit lagi” jawab Rani dengan nada malas “ayo jangan tidur lagi, hari ini sekolah” balas Ibu. Akhirnya dengan terpaksa Rani beranjak dari tempat tidurnya dan pergi mandi. Rani adalah seorang siswi SMA di desanya, sebenarnya dasanya bisa dibilang sudah maju karena listrik dan sinyal radio sudah dapat masuk meskipun masih belum jelas. Setelah mandi dan sarapan berpamitan dengan Ibu dan Bapaknya “ Bu Abah Rani pergi dulu” pamit Rani sambil mencium tangan kedua orang tuanya “ iya nak hati-hati dijalan ya” balas kedua orangtuanya. Seperti biasa Rani sudah ditungu oleh Ujang, kemudian mereka berdua mengayuh sepedanya masing masing menuju sekolah. “ Eh, jang bagaimana rasa masuk sekolah setelah libur panjang” Tanya Rani “ya… agak malas juga, kamu pasti begitu juga kan?” Tanya Ujang dengan nada sedikit bercanda “Iya say mah, juga agak malas” jawab Rani. Ujang dan Rani sudah berteman sejak kecil sehingga mereka terlihat sangat akrab. Tak terasa mereka sudah masuk ke gerbang sekolah. Merekapun berpisah untuk masuk kekelas mereka masing-masing. Tak beberapa lama Pak guru masuk kekelas dan langsung memberikan pelajaran. Bel istirahat pun berbunyi kebetulan salah satu temannya membwa gitar dan menyanyikan lagu dari Slank sebuah grup band tekenal ibu kota. “ eh. Itu lagu siapa” Tanya Rani “ itu mah lagunya Slank, emang kamu nggak tau?” jawab temannya yang balas bertany “ aku malah baru tau” jawab Rani. Sepulang sekolah dia kembali bertemu dengan Ujang “ Jang tadi aku dengar lagu yang bagus banget” kata Rani dengan mata berbinar “emang lagunya siapa?” Tanya Ujang penasaran “ Aduh siapa ya…. Aku kok jadi lupa… o ya Blank oh engga Plank.. duh apa ya, aku lupa euy” jawab Rani malu “Slank kali” jawab Ujang “ Oh ya Slank, Pinter juga kamu” canda Rani “ Ujang….. jelas pinter atuh” timpal Ujang.
Sejak saat itu Rani benar-benar tergila-gila dengan band ini. Sampai hampir tiap hari dia selalu menyanyikan lagu itu “ Ku tak bisa….. jauh…jauh…darimu”. Kebetulan hari ini hari minggu Rani menemani Ibunya untuk berbelanja di pasar. Tanpa disengaja Rani melihat sobekan majalah bekas yang bertuliskan tentang biografi band idolanya. Dengan senang iya membawanya pulang dan membacanya. Semakin jatuh cinta dia dengan band ini. Sampai-sampai dia rela menabung untuk membeli kaset band ini. Beruntung tetangganya Pak Jaja sering pergi ke kota Garut untuk mengantar sayuran untuk dijual. Rani menitipkan uangnya kepada Pak Jaja untuk dibelikan kaset. “ Kumaha damang Pak Jaja ?” Tanya Rani “damang Alhamdulillah, Ada pa ya Ran?” Tanya Pak Jaja “ begini Pak, saya boleh titip uang untuk dibelikan kaset?”Kata Rani “Bisa… memang mau beli kaset nya siapa?” Tanya Pak Jaja “ Kasetnya Slank pak” jawab Rani “ iya bisa saya belikan di Garut” Timpal Pak Jaja “terima kasih Pak” kata Rani lagi.
Sepulangnya dari Garut Pak Jaja memberikan kaset pesanan Rani. Dia memutarnya dengan Tape tua nya. Semakin senangnya hati Rani, kemudian dia berkhayal untuk bisa langsung bertemu dengan Band ini. Rani pun menceritakan semuanya pada Ujang “ Jang coba saja aku bisa ketemu sama Slank” khayal Rani “aduh Rani jangan mimpi atuh” canda Ujang “ Ya Ujang bukannya belain aku” jawab Rani kesal, Ujang pun hanya tersenyum melihat ulah sahabatnya itu. Keesokan harinya Bapak Rani memberitahu bahwa saudaranya, Paman Indra akan datang dari Jakarta, dalam benak Rani dia akan mendapat banyak informasi dari saudaranya tentang Slank. Setelah beberapa jam saudaranya pun tiba dirumah Rani. “Assalamualaikum” salam Paman Indra “ Waalaikumsalam” jawab Rani Sekeluarga yang sudah menunggu kedatangannya. Setelah sejenak bertanya kabar dan sedikit berbasa-basi Rani bertanya tentang Slank kepada pamanya “ Paman, Slank itu band terkenal ya” Tanya Rani ingin tahu “iya, Slank itu bend besar Indonesia, memang kenapa kok Tanya begitu?” Tanya paman “ engga paman hanya sekedar ingu tahu saja” senyum Rani “oh ya Rani, Minggu depan Slank mau ada konser di Jakarta” kata paman. Pernyataan pamannya semakin memantapkan hatinya untuk pergi ke Jakarta. Mulai hari itu Rani mulai menabung lagi untuk rencana pergi ke Jakarta “ Pokoknya aku harus bisa ke Jakarta” tekad Rani.
Keesokan Harinnya dia bercerita tentang keinginannya kepada Bapaknya. Tapi bapaknya menolak “ kamu itu anak gadis masa mau pergi ke Jakarta Cuma untuk nonton konser” kata bapaknya “Abah, Rani ingin sekali” pinta Rani “tidak boleh !!!” jawab Bapaknya tegas. Hal ini sangat menyakitkan hatinya tapi malah membuat semangat baru untuk pergi ke Jakarta. Dengan menumpang truck sayuran Rani pergi diam-diam dari rumah dengan tujuan Jakarta. Dari desanya dia harus berhenti dikota Garut untuk melanjutkan perjalannya ke Jakarta. Sesampainya dia di Garut Rani membeli tiket Bus menuju Jakarta. Baginya sangat asing terminal kota ini. Karena dia belum pernah pergi hingga sejauh ini. Sedangkan di Desa Sukajadi gempar karena kebergian Rani. “ Aduh Bah kenapa bisa begini..” Tanya Ibu Panik “ Mungkin gara-gara Slank itu” Jawab Bapak marah “jadi sekarang bagaimana” Tanya Ibu lagi “ Kita lapor Polisi saja” Jawab Bapak lagi “ Abah Ibu, Rani bagaimana?” Tanya Ujang panik “ Rani kabur ke Jakarta, Ujang” jawab Ibu sambil menangis “ Bagaimana kalau saya menyusul Rani Jakarta” Tekad Ujang “ jangan kami sudah banyak merepotkan nak Ujang, biarkan ini menjadi tanggung jawab saya” Jawab Bapak.
Rani sudah menaiki bus dengan tujuan Jakarta. Selama empat jam akhirnya dia sampai juga di Ibu Kota Negara. Didalam hatinya sekarang terasa sangat senang tapi dia juga takut karena keganasan kota Jakarta yang sering di ceritakan orang-orang di Desanya. Tapi dia tidak peduli demi bertemu band idolanya. Kemudian dia mencari bus dengan tujuan Senayan untuk menontaon acara konser tersebut. Namun karena belum pernah berpergian ke Jakarta Rani salah memilih bus. Karena kesalahannya dia malah harus berpapasan dengan para Jack Mania yaitu para supporter sebuah tim sepakbola di Jakarta. Sekarang dalam hatinya hanya ada penyesalan, “ mengapa aku harus pergi dari rumah hanya untuk ini” Kata Rani dalam hatinya. Terpaksa Rani melaporkan dirinya ke pos polisi karena uangnya sudah habis untuk perjalanan yang sia-sia. Beruntung kantor polisi tersebut sudah menerima berita dari Garut dan Rina pun bisa kembali pulang ke desanya lagi. Mungkin Rina memang tak bisa jauh dari desanya,seperti sepenggal lirik dari lagu Slank.

"Di Balik Sebuah Kegelapan" Oleh saputra

"Di Balik Sebuah Kegelapan"



Di sebuah Sekolah Menengah Pertama di kota Bandung, ada seorang siswa yang duduk di kelas 7. Dia bernama Adi, Adi seorang siswa yang menyukai pelajaran Olahraga terutama sepakbola. Adi mempunyai seorang sahabat yang bernama Handi, Adi dan Handi kelas, mereka juga tinggal satu desa. Karena mereka sudah akrab dari kecil, dan mereka sering bermain sepakbola. Karena mereka sama-sama menyukai sepakbola, Adi dan Handi pun mengikuti ekstrakulikuler sepakbola di sekolahnya.

Di kelas 7 mereka mengikuti ekstrakulikuler sepakbola dengan rajin dan mengikutinya dengan penuh semangat, dengan harapan menjadi tim inti sepakbola disekolah tersebut. Panas terik matahari dan terjangan hujan tidak menghalangi niat Adi untuk berlatih sepak bola.

Ketika Adi naik ke kelas 8, dengan mendapat nilai yang cukup memuaskan, dan juga mendapat nilai A dalam ekstrakulikur sepakbola. Ternyata Adi dan Handi masuk dalam tim inti sepakbola di sekolahnya, barsama dengan teman-temannya yang lain. Adi pun semakin semangat dan rajin berlatih sepakbola di sekolah maupun di rumahnya. Adi mengharapkan, dia dapat berprestasi dalam bidang sepakbola dan dia ingin membuktikan kepada orang tuanya, yang kurang senang dan tidak mendukung Adi bila bermain sepakbola.

Dipertengahan kelas 8, tepatnya diawal semester II. Ada seorang siswa baru yang masuk ke sekolahnya, dia bernama Deni, dia adalah siswa yang pindah dari Jakarta. Kebetulan dia juga pintar bermain sepakbola, bahkan lebih lihai dibandingkan Adi. Deni juga masuk dalam tim inti sepakbola. Dia masuk tim inti bersama Adi dan Handi, dan Deni biasa bermain sepakbola sebagai playmaker.

Disuatu latihan pelatih memutuskan untuk seleksi 11 pemain inti dan 11 pemain cadangan. Dalam pemilihan posisi tersebut Adi, Handi, dan Deni memilih untuk menjadi playmaker. Posisi tersebut biasanya ditempati oleh Adi dan Handi, di setiap pertandingan yang dilakukan oleh kesebelasan di SMPnya tersebut. Padahal Deni juga berkeinginan untuk menjadi seorang playmaker dan Deni juga mempunyai cita-cita untuk menjadi playmaker sejati. Karena Deni dalam bermain sepakbola khususnya menjadi playmaker sangat lihai dibandingkan dengan Adi, maka pelatih memilih untuk memasangkan Handi dan Deni dalam beberapa pertandingan dan kompetisi yang akan datang.

Adi dalam beberaa pertandingan selalu duduk di bangku cadangan, ketika sekolahnya bertanding dengan sekolah lain. Beberapa saat setelah diadakan seleksi, diadakan kejuaraan sepakbola antar skolah dalam satu kabupaten. Pada setiap pertandingan dalam kompetisi tersebut pelatih selalu memainkan duet Handi dan Deni. Walaupun sesekali Adi dimainkan sebagai pemain pengganti dari Deni dalam suatu pertandingan.

Kesebelasan sekolahnya selalu menang dalam pertandingan tersebut, sampai akhirnya sekolahnya memenangkan kejuaraan tingkat kabupaten tersebut. Walaupun sekolahnya menjuarai kejuaraan tersebut, tetapi tidak semua pemain menjadi tim inti dalam kesebelasan kabupaten. Dalam seleksi pemain tim kabupaten hanya Handi dan deni yang menjadi wakil dari sekolahnya.

Adi sangat merasa kecewa dan memutuskan untuk tidak bermain sepakbola lagi. Walaupun keputusannya tidak didukung oleh Handi dan beberapa temannya yang lain. Dan temannya tersebut memberi nasehat agar Adi tetap bermain sepakbola, untuk menjadi pemain profesional.

Pada saat Adi lulus dari SMP, dia memutuskan untuk masuk ke SMA Negeri. Walaupun sebelumnya Adi dan Handi berniat untuk masuk dalam sekolah atlit di kotanya tersebut. Dalam SMA ternyata ada ekstrakulikuler sepakbola, karena dia meminta saran kepada Handi, dan Adi ingat pada nasihat Handi untuk tetap bermain sepakbola agar berkembang menjadi pemain profesional. Maka dia memutuskan untuk mengikuti ekstrakulikuler sepakbola di SMA nya tersebut. Karena dia sangat berambisi untuk menjadi pemain profesional, Adi mengikuti ekstrakulikuler sepakbola dengan serius dan giat. Dan dia berhasil meningkatkan performa dalam bermain sepakbola, dia juga bermain lebih bagus dari pada permainannya di SMP.

Selama mengikuti ekstrakulikuler sepakbola, Adi menemukan bakatnya yang terpendam, yaitu dengan bermain sepakbola. Adi juga masih sering berkomunikasi dengan Handi, dan Handi pun akan masuk tim sepakbola profesional di kabupatennya setelah lulus dari sekolah atlit tersebut. Karena Handi sangat bagus dalam bermain sepakbola dan cukup memikat hati pelatih klub profesional tersebut.

Adi pun semakin termotifasi untuk menjadi pemain profesional bersama dengn sahabatnya, Handi. Dan setelah lulus dari SMA, di kabupatennya tersebut diadakan seleksi pemain sepakbola untuk menjadi pemain dalam tim profesional, yang kebetulan tim tersebut sama dengan tim yang di bela Handi.

Adi bisa masuk dalam tim profesional tersebut dan dia kembali bermain dengan sahabatnya dari kecil, di sebuah tim besar dan tim tang pernah menjadi juara di Indonesia.

Dan akhirnya Adi pun hidup dengan penuh suka cita menjalani profesinya sebagai pemain sepakbola. Dan Adi pun sangat senang karena Adi dan Handi bermain sebagai pasangan dalam tim tersebut. Dan Adi mendapat gaji yang sangat besar tiap pekannya. Gaji pertamanya diberikan untuk kedua orangtuanya, walaupun keduaorangtuanya tidak mendukung Adi sebagai pemain sepakbola.

Setelah mendapatkan uang dari Adi, orangtuanya sadar dan orangtua Adi merasa bangga memiliki anak seperti Adi.

Suara di Balik Embun Oleh Bunga

Nama ku Debora Santa Miarcle. Aku adalah seorang anak tunggal dari keluarga menengah. Hobi ku adalah menyanyi dan bermain musik. Belakangan ini aku sibuk berlatih untuk lomba menyanyi tingkat nasional antar pelajar. Hadiahnya sungguh menggiurkan. Yang menjadi juara utama akan dikirim ke Mesir untuk mengikuti lomba menyanyi tingkat internasional antar pelajar.
Sore ini setelah aku selesai berlatih, bergegaslah aku menuju ke halte untuk menunggu angkutan kota. Sudah dua bulan ini aku rutin menjalani aktifitas ku berlatih vokal. Sore ini adalah puncak dari latihan ku karena lusa aku akan mengikuti lomba di Gedung Pusaka Wisma di kota ku yang menjadi pusat segala kegiatan. Dengan semangat aku naik ke angkutan yang sekarang sudah ada di depan ku. Penuh sesak di dalamnya tak membuat ku patah semangat untuk menjalani hari-hari ku yang datar-datar saja. Perjalanan ku tempuh 15 menit. Sebuah takaran waktu yang tidak sesuai dengan jerih lelah ku dalam menunggu angkutan jurusan rumah ku. 15 menit berlalu, kini tibalah aku di rumah ku yang aku anggap seperti istana ku sendiri. Ibu sudah menanti ku penuh kasih di ruang tamu.
“Bu, Debora pulang….”, aku mengetuk pintu dengan lunglai. Ibu bergegas meletakkan tabloidnya dan membukakan pintu untuk ku.
“ Loh, anak ibu kok baru datang sudah lemas begitu? Ada apa, nak? Bagaimana latihan mu hari ini?”, ibu menyambut ku dengan pelukan hangatnya.
“ Tidak ada apa-apa kok, Bu. Debora hanya lelah. Debora ingin istirahat.”, jawab ku dengan datar. Ibu ku terus menatap ku seolah beliau tahu bagaimana perasaan yang anaknya alami sekarang. Penuh dengan ketakutan dalam menghadapi sesuatu hal yang baru.
“ Ya sudah, sekarang kamu mandi, lalu makan ya…”, kata ibu dengan lembut sambil membelai rambut panjang ku yang hitam ini.
Senja telah berubah menjadi malam, kini bintang-bintang mulai muncul dari peraduannya, Tak kunjung ketinggalan, sahabatnya yang bernama bulan menemani kilauan bintang yang bertabur di angkasa luar. Yang terlihat amat kecil dari semua sudut pandang rumah ku. Aku hanya ditemani oleh angin malam yang berhembus dari jendela kamar ku yang sengaja aku buka.
“dua hari lagi, aku mau mengikuti lomba menyanyi dan aku sebagai kebanggaan sekolah…. Apa aku bisa dalam mengikuti lomba ini? Apa aku bisa Tuhan?”, dalam hati ku, aku hanya bisa berkata demikian, aku hanya bisa meratap sendiri sampai satu persatu bintang ditelan oleh awan mendung. Tiba-tiba ibu ku memanggil ku dari belakang.
“Debora, kamu sedang apa, nak? Belum tidur?”, Tanya ibu dengan lembut sambil menyisir rambut ku.
“Debora lagi liat bintang, bu.”, aku melihat ibu hanya tersenyum mendengar jawaban ku.
“ Ibu tahu apa yang ada dibenak Debby. Debby takut kan kalau besok Debby kalah dalam bertanding?”
“ Kok ibu tahu?”, Tanya ku dengan polos dan tanpa sadar.
“Dulu, ibu juga pernah mengalami seperti kamu, nak. Ibu pernah dan sering mengikuti kompetisi menyanyi seperti ini. Ibu pernah tidak mendapatkan juara sama sekali, tapi ibu bangga karena walaupun ibu kalah, namun ibu sudah berlatih keras setiap hari. Jadi, tidak ada alasan bagi ibu untuk menyesali semuanya. Yang penting, kita sudah berusaha semaksimal mungkin.”, nasihat ibu kepada ku. Aku terus melihat bintang yang semakin tertutup awan.
“Tapi, kalau sampai Debby tidak menang, apa teman-teman Debby tidak akan mengucilkan Debby. Yang tadinya Debby akan menjadi kebanggaan sekolah, malah bikin malu aja Bu.”
“ Debby sayang, anak ibu. Ibu yakin kalau Debby akan menang, karena selain suara Debby bagus, Debby juga mempunyai aura tersendiri dalam menyanyikan berbagai macam lagu. Ibu yakin, suatu hari nanti, Debby akan menjadi bintang seperti bintang di langit itu. Yang masih memancarkan cahaya walaupun hampir tertutup oleh awan.” Mungkin malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak karena besok aku sudah diberi dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran.
Selamat pagi, aku haturkan untuk semua makhluk di bumi pada pagi hari ini. Di depan ku sudah tersedia makanan wajib ku seperti tempe rebus, kentang rebus, daging rebus, dan minuman hangat yang menggiurkan. Sebetulnya aku ingin sekali merasakan masakan seperti orang normal, namun apa boleh buat, profesi mendorong ku untuk memakan semua yang berbau dengan direbus. Ibu yang dengan setia menyiapkan setiap pagi makanan yang dokter anjurkan untuk menjaga stamina.
“Selamat pagi Debby, ibu mau berangkat ke kantor dulu ya. Jaga diri baik-baik dan kalau ada apa-apa, langsung telepon ibu atau minta tolong Bi Surti ya!”, pesan ibu kepada ku.
“ Iya, bu.”,jawab ku singkat padat dan jelas. Ibu bergegas menuju kantor dengan mobil Toyota Vios terbarunya sebagai inventaris dari kantor dimana ibu ku bekerja. Sudah dua tahun ini setelah ayah meninggal, ibu sebagai tulang punggung keluarga. Dulu hidup kami sangat berkelimpahan, tapi sekarang hidup kami sudah sederhana karena hanya ibu yang bekerja sebagai pimpinan disalah satu bank swasta di kota ku. Terkadang aku merasa Tuhan tidak adil karena kenapa saat aku merasakan kebahagiaan yang sempurna, tapi Tuhan mengambilnya kembali. Memori ku berputar mundur untuk mengingat masa lalu ku bersama ayah, ibu, dan aku. Setiap akhir pekan, kami selalu pergi berekreasi ke berbagai tempat yang belum pernah kami kunjungi. Tapi semua itu hanya tinggal kenangan. Dulu adalah kenangan, dan sekarang adalah masa depan. Itu adalah motto hidup ku. Aku kaget saat Bi Surti masuk ke kamar ku untuk mengambil baju kotor untuk dicuci.
“ Non, maaf, bibi mau ambil pakaian kotor, mau dicuci, non.”
“ Oh, iya, silahkan aja, Bi.”, jawab ku sambil memakan menu sarapan ku. Sambil menghabiskan sarapan, aku memikirkan persiapan ku untuk kompetisi menyanyi besok. Aku harus mempersiapkan kostum yang tepat untuk tema lagu yang akan aku bawakan. Aku akan membawakan lagu yang berjudul Bila Tak Ada Hari Esok, lagu yang pernah dibawakan oleh penyanyi idola ku yaitu Icha Jikustik.
Aku sudah selesai melahap semua makanan yang telah tersedia untuk ku, dan sekarang waktunya aku untuk mandi. Dengan tentram aku berada di bath up dan merasa diri ku segar kembali. 30 menit berlalu tak aku sangka aku sudah mandi selama itu. Ini adalah salah satu sifat buruk ku, mandi terlalu lama. Setelah aku mengenakan pakaian ku, aku berinisiatif untuk mencari baju yang cocok untuk ku besok. Dan beruntungnya aku masih memiliki baju yang pantas pakai untuk mengikuti dalam kompetisi menyanyi tersebut.
Malam ini aku terus berdoa agar esok hari aku bisa menyanyi dengan baik. Dan aku pun mendoakan ibu ku yang sampai sekarang belum juga pulang karena masih berada di kantor untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai. Aku berharap saat aku pejamkan mata nanti, ibu sudah pulang.
Pagi ini aku sudah rapi dengan gaun yang aku pilih kemarin. Dengan hiasan pita berwarna ungu lavender membuat ku menjadi semakin mantap untuk maju.
“ Ibu, Debby mau berangkat dulu sama bu Nada.” Pamit ku saat ibu akan bersiap berangkat juga.
“ Iya, hati-hati ya, nak. Ibu yakin kamu pasti menang. Maafin ibu ngga bisa nonton kamu nyanyi ya, nak. Soalnya di kantor ibu masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan.”
“ Iya, bu. Makasih, ngga apa-apa kok, Bu.” Jawab ku sambil merapikan gaun ku.
“ wah, baju kamu bagus, Deb. Kamu beli kapan?,” Tanya ibu dengan terheran-heran. Aku menjadi kaget dan sanget kecewa. Ibu sudah lupa dengan gaun yang pernah dibelikan ayah saat beliau sedang berada di Australia untuk meneruskan kuliahnya.
“ Ibu lupa sama gaun ini? Ini gaun yang dibeliin ayah, bu…” jawab ku tanpa berekspresi sedikit pun. Ibu yang mendengarnya kaget. Tak beberapa lama, bu Nada sudah menjemput ku di depan rumah ku. Bu Nada adalah guru vokal di sekolah ku.
“ Bu, Debby berangkat dulu.”
“ Hati-hati, nak.” Pesan ibu saat aku akan masuk ke dalam mobil bu Nada. Kami pun berlalu dan perjalanan hidup ku dimulai. Hari ini adalah hari penentuan ku, apakah aku akan semakin maju, atau semakin mundur Karena dalam perlombaan pasti ada yang menang dan yang kalah. Hati ku berdebar-debar saat akan memasuki gedung pertemuan yang sekarang sudah meriah dengan dekorasi dan tatanan lampu seperti dalam ajang pencarian bakat di televisi-televisi swasta. Aku langsung menuju ke belakang panggung karena setiap peserta yang akan tampil harus bersiap di belakang panggung. Para pendukung sudah memadati gedung dari tadi. Dan aku di belakang panggung sendirian, aku tidak kenal dengan siapapun di sini. Bu Nada menunggu ku di kursi penonton.
“ Hai…. Nama kamu siapa?”, sapa salah seorang peserta pria yang di sampingku.
“ Nama ku Debora, kamu siapa?”, aku balik bertanya kepadanya. Rupanya ia tahu kalau aku sedang bingung karena tidak ada teman satu un yang aku kenal. Dan hanya dia yang mau menyapa ku.
“ Nama ku Edward, kamu peserta dari sekolah mana? Oya kamu nomor urut berapa?”, Tanya dia lagi dengan ramah.
“ Aku sekolah di Stella Duce. Aku nomor urut enam. Hmmmm, kamu dari sekolah mana?”
“ Aku sekolah di Kolose De Brito. Oh, kamu nomor enam, aku nomor tujuh.” Kami semakin akrab karena dia yang sangat ramah. Kini sudah tiba saatny aku untuk maju ke panggung dan memperlihatkan kebolehan ku dalam berolah vokal. Aku menyanyikan dengan penuh perasaan dan seolah aku yang menjadi peran utama dalam lagu yang aku bawakan ini. Aku melihat Bu Nada memberi ku dukungan. Beliau tersenyum melihat aku menyanyi dengan penuh penjiwaan. Empat menit aku bernyanyi. Dan kini waktunya aku untuk mendengar kritikan dari para juri. Satu persatu juri memberi saran dan kritik. Aku hanya mendengarkan dan menganggap semuanya untuk acuan. Kini tiba saatnya Edward untuk menunjukan kebolehannya. Aku menontonnya di kursi penonton. Ia membawakan sebuah lagu milik Kerispatih yang berjudul Bila Rasa ku Ini Rasamu. Aku terhanyut dalam setiap alunan lagu yang mengalir seolah membawa ku kedalam kisah didalamnya. Para pengagum, terutama para wanita yang kini sudah mengelilinginya di sekitar panggung berteriak histeris. Aku yang melihatnya menjadi heran dan merasa aneh. Aku menganggap wanita-wanita itu terlalu berlebihan dalam memuja idolanya. Walaupun ia adalah teman sekolahnya sendiri. Tak terasa waktu sudah usai dan aku harus kembali lagi ke belakang panggung.
“Hai Ed, suara kamu luar biasa bagus. Banyak juga penggemar kamu ya?,” ledek ku.
“Ah, suara ku biasa aja. Kamu yang berlebihan muji aku. Suara kamu juga tadi bagus banget. Aku yakin kamu yang jadi juara satu putri. Aku yakin, Deb.” Kata Edward sambil menepuk bahu ku dengan pelan. Saatnya pengumuman langsung. Penentuan juara akan dibacakan oleh pembawa acara.
“Sudah tiba saatnya kita dipenghujung acara. Sekarang langsung pengumuman siapa yang akan menjadi juara utama putra dan putrid dimulai dari juara tiga putri. Juara tiga putri dengan nilai 2245 jatuh kepada, Eshia. Dan juara dua putri atas nama Rofella, dan juara utama adalah…………………. Debora.” Suara pembawa acara dengan lantang menyebutkan nama ku di atas panggung. Aku tidak percaya dan ini seolah seperti mimpi. Edward yang tadinya tegang, kini lega mendengar nama ku disebut sebagai juara utama.
“Selamat, ya Deb. Kamu emang pantes dapet juara.”, kata Edward sembari menjabat tangan ku.
“Makasih, Ed…. Aku seneng banget. Dan moga aja kamu juga jadi juara satu ya!”, jawab ku sambil bersiap menuju ke atas panggung.
“Amin, doain aja, Deb.”, dengan bangga dan haru aku maju ke atas panggung dan berkumpul bersama juara yang lainnya.
“ Dan sekarang, saya akan membacakan juara lomba menyanyi putra…. Juara ke tiga dengan nilai 2266 diraih oleh perserta yang bernama…….. Dion Putra…. Juara kedua dengan nilai 2309 diraih oleh peserta yang bernama….. Jafri Gustaf Silaban….. dan juara pertama diraih oleh…… Edward Marvelous Kurnia Putra…..”, sekali lagi pembawa acara lantang dalam menyebutkan nama para juara. Dengan senyum yang menggambarkan perasaan yang bahagia dan becerminkan apa yang diraih, Edward dengan bangga melangkah mendekati aku. Aku dan Edward naik ke podium dimana juara satu diberi hadiah oleh pemerintah pusat berupa piala besar dan uang senilai lima ratus juta. Serta aku dan Edward akan dikirim ke Mesir untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi menyanyi antar pelajar seluruh penjuru dunia. Dan ini tandanya aku hanya diberi waktu dua bulan saja untuk berlatih bersama pasangan duet ku yaitu Edward. Penyerahan hadiah sudah berlangsung, penonton pun sudah keluar dari gedung satu per satu. Tetapi tidak dengan aku dan Edward. Kami berdua harus mengurusi administrasi dan penandatanganan kontrak yang menyatakan harus ada kekompakan antara juara satu pria dan wanita. Selama dua bulan aku harus mengikuti latihan bersama dengan pelatih dari pusat, tidak dari pelatih sendiri. Dan yang terakhir aku tidak boleh mengikat kontrak dengan perusahaan musik lain selama masa kontrak ku belum habis dengan perusahaan musik yang mengontrak aku tersebut. Semua biaya perjalanan dan penghidupan di Mesir ditanggung oleh pemerintah karena kami akan membawa nama baik Indonesia.
“Deb, sampe ketemu besok ya. Kita harus latihan keras biar kita bisa juara nantinya.”, kata Edward saat kami berpisah di tempat parkir karena kami harus pulang ke rumah kami masing-masing.
“Iya, sampe ketemu besok, sama hari yang sangat melelahkan….”, jawab ku dengan malas.
“Kok lesu banget, Deb? Harusnya kamu seneng dong kita jadi juara.”
“aku lesu karena sebentar lagi kehidupan kita berubah….”
“Berubah bagaimana maksud kamu?”, Tanya Edward bingung dan mengurungkan niat untuk membuka pintu mobilnya.
“Iya, tenaga kita akan dikuras semuanya demi sebuah kejuaraan…. Waktu kita jadi berkurang untuk belajar, bermain, dan berkumpul sama orang tua kita.”, jawab ku sambil mata ku menerawang jauh di atas sana karena aku takut jika kehidupan ku berubah. Perbincangan tentang masa depan aku dan dia terhenti saat pelatih Edward dan bu Nada menghampiri kami.
“Oh, ternyata kalian ada di sini ya? Ayo, Deb kita pulang. Nanti ibu kamu nyariin loh…”, kata bu Nada kepada ku dan tersenyum kepada Edward,
“Iya, Bu. Ya udah ya Ed, sampe ketemu besok lagi.”, pamit ku kepada Edward. Kami berpisah di tempat parker kendaraan roda empat. Dan malam ini aku ingin segera memberitahu kepada ibu kalau aku menjadi juara satu.
Hari berganti bulan. Sudah dua bulan aku dan Edward berlatih bersama. Dan ada suatu getaran-getaran yang berbeda. Aku tidak tahu perasaan apa itu, namun yang jelas aku merasa aman di dekatnya. Besok malam aku akan pergi ke Mesir untuk mengikuti lomba menyanyi. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Fisik maupun mental. Saat aku sedang duduk di pinggir jendela kamar, tiba-tiba handphone ku berdering. Ternyata Edward yang menelepon ku.
“Deb, udah siap semuanya kan buat besok?”, Tanya Edward di seberang sana.
“ Iya, udah siap kok, sekarang tinggal istirahat aja. Kamu udah siap kan?”
“Udah semuanya juga, hmmm…. Ya udah ya Deb, sampe ketemu besok di bandara. Hmm…. Miss you….”, kata Edward saat akan menutup teleponnya. Aku yang mendengar hanya terheran-heran dan tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Dia mengatakan Miss You. Dia merindukan ku? Apa itu mungkin? Ataukan ini hanya bercanda saja sebagai teman? Aku mejadi salah tingkah dan tidak tahu lagi bagaimana hati ku rasanya ingin terbang.
“Debby, sudah tidur, nak?”, Tanya ibu di depan pintu kamar.
“Belum, bu….”, jawab ku sambil memperbaiki posisi duduk ku. Ibu lalu membuka pintu kamar ku. Dan dibawakannya secangkir teh hangat. Ibu menghampiri ku dan memberikan minuman teh itu kepada ku.
“Deb, kamu lagi membutuhkan ketenangan. Sekarang kamu minum teh ini ya. Ibu yakin kamu akan jadi juara lagi besok. Kamu semangat ya, nak. Maafin ibu karena ibu ngga bisa nemenin kamu. Ibu terlalu sibuk sama pekerjaan ibu.”
“Iya, bu, ngga apa-apa kok. Lagian Edward juga ngga ngajak orang tuanya buat ikut ke Mesir kok. Hmm…. Makasih ya, bu udah kasih Debby dukungan.”, jawab ku sambil melihat ibu yang terlihat lelah.
“Ibu tidur dulu ya, Deb.”, pamit ibu sambil mencium kening ku.
“Iya, bu. Makasih.”, aku kembali memandang keluar jendela. Dengan seksama aku memandang langit. Tidak ada satupun bintang yang muncul dilangit. Kenapa? Padahal ini bukan musim hujan. Akhirnya aku menutup jendela ku dan tidur dengan nyenyak untuk menyambut hari esok yang lebih baik dari hari sekarang.

Pagi ini dengan semangat aku merapikan pakaian ku untuk segera berangkat ke bandara. Ibu yang mengantar ku ke bandara pun sudah siap dengan pakaian yang rapi karena beliau pun akan berangkat ke kantor.
“Deb, ayo cepat sedikit, nanti kamu ketinggalan pesawat loh….”, teriak ibu dari ruang tamu.
“Iya, bu.” Bergegas aku menuruni anak tangga dengan lincah dan ceria. Ibu hanya menggeleng-geleng saat melihat anak perempuannya memakai baju mirip anak laki-laki. Memang aku sedikit agak tomboy. Tapi hanya penampilan ku saja. Aku lebih suka mengenakan pakaian seperti anak laki-laki. Dengan celana jeans dan kaos longgar disertai jaket levis dan topi mirip laki-laki. Rambut yang panjang ini aku ikat dengan rapi agar tidak mengganggu pandangan ku.
“Ayo berangkat!”, ajak ibu sambil merangkul ku. Barang-barang sudah dimasukan ke dalam bagasi mobil. Dan sekarang tinggal menuju bandara dengan harap-harap cemas akan meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu.
“Deb, nanti kalo di sana ada universitas yang bagus, kamu masuk situ aja ya!”, kata ibu saat aku sedang menikmati perjalanan.
“What? Apa,bu? Kuliah di Mesir? Ngga banget gitu loh. Mendingan di Indonesia aja. Ntar kalo Debby pinter kan dapat beasiswa buat kuliah di Jerman. Kalo sekarang, ngapain buang-buang duit, bu? Nanti aja S2 sama S3 Debby di luar negeri.”, jawab ku.
“Wah, iya juga ya, Deb? Ternyata anak ibu pintar juga….”
“Ya iyalah, bu…. Ngapain coba Debby disekolahin kalo ngga jadi pinter.”, jawab ku manja. Akhirnya sampailah aku di bandara yang tidak terlalu padat. Aku masuk ke pintu 3. Aku terus mencari Edward hingga aku melihatnya sedang duduk bersama guru vokalnya dan bu Nada. Aku menghampiri mereka.
“Pagi semuanya….”, sapa ku dengan senyum maut yang aku tujukan kepada Edward kemudian.
“Pagi…. Wah Debby sama ibunya ya? Apa kabar, bu?”, sapa bu Nada kepada ibu ku. Perbincangan akrab menghampiri bu Nada, pak Wilson, dan ibu. Alu dan Edward hanya bisa melihat mereka tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Edward menarik tangan ku untuk mengajak ku menjauhi mereka.
“Edward, ada apa sih? Pake nyeret-nyeret segala?”, Tanya ku heran sambil melotot ke arahnya.
“Hmmm…. Ngga ada apa-apa. Cuma…. aku…. Aku mau ngomong sama kamu…”, jawab Edward agak gugup.
“Ngomong tinggal ngomong dong!”, kata ku lagi sambil hendak berlalu dari dia.
“Deb, tunggu bentar….. aku suka sama kamu…. Kamu mau ngga jadi pacar aku?”, sebuah pertanyaan yang sederhana namun penuh makna. Seorang Edward yang pinter, baik, dan mempunya berbagai talenta, suka kepada ku dan menginginkan ku menjadi pacarnya? Apa aku tidak salah dengar dan bukan bermimpi? Aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang sangat gelisah menanti jawaban dari ku.
“Deb, kalo kamu mau, jawab sekarang aj….”
“Kalo ngga mau jawab sekarang gimana?”, sanggah ku sambil terus melihat wajahnya dengan ditekuk dan merasakan benar-benarnya hampa. Dia terdiam dan tidak berani menatap ku.
“Hei…. Hallo…. Tadi aku Tanya kan…? Kalo aku ngga mau jawab sekarang gimana?”, ledek ku.
“Hmmm…. Terserah kamu aja deh…. Kalo bisa sih sekarang….”, jawabnya.
“Oke, baiklah, aku jawab sekarang….. aku….. aku….. aku….. juga suka sama kamu…. It’s ok… aku mau jadi pacar kamu. But, kamu ngga boleh nyakitin aku satu kali pun.” Jawab ku sambil tersenyum ke arahnya.
“Beneran, Deb? Wah makasih ya…. Sekarang kita pacaran dong…. Horeeeeee”
“Eh, jangan kayak anak kecil dong…..”, teriak ku sambil mengejar Edward yang sedang berlari ke arah ibu, bu Nada dan pak Wilson. Tak terasa waktu sudah berjalan, dan aku harus meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu. Ibu kembali ke kantor, dan sekarang kami berempat sudah berada di dalam pesawat untuk berangkat ke Mesir, tepatnya nanti aku akan mendarat di Kairo, Mesir. Di dalam pesawat aku dan Edward duduk bersama. Alangkah senangnya aku bisa memiliki dia. Selama ini aku berfikir apakah mungkin aku bisa mendapatkan Edward? Tapi kali ini sungguh terjadi. Perjalanan 5 jam ke Kairo menggunakan pesawat bukanlah waktu yang sangat sebentar dibanding dengan jarak antara Jakarta ke Pontianak yang hanya membutuhkan satu setengah jam menaiki pesawat.
“Deb, kita udah sampe nih….”, kata Edward membangunkan ku.
“Oh…. Udah sampe ya? emang kita lagi kemana sih?”, jawab ku mengigau karena terlalu lelah duduk sembari tidur.
“Hallo…. Ngigau ya? kita lagi di Kairo, nona….”, jawabnya sambil melepas sabuk pengaman dipinggang ku dan menggandeng ku keluar dari pesawat. Setelah mengurus semuanya, sekarang sampailah kami di hotel yang sudah dipesan khusus dari pemerintah Mesir. Sore ini sampai malam, kami memutuskan untuk istirahat total karena kompetisi menyanyi akan diadakan dua hari lagi.
“Met bobo, Ed….”, ucap ku saat Edward dan Pak Wilson akan masuk ke kamar hotel yang bersebelahan dengan kamar ku.
“Met bobo juga, Deb….”,jawabnya.
Pagi ini aku dan Edward sudah bersiap untuk mengikuti pengarahan dari panitia kompetisi menyanyi ini. Setiap peserta harus menyanyika satu lagu menggunakan bahasa Inggris dan satu lagi berbahasa sesuai negaranya masing-masing. Aku akan menyanyikan satu lagu yang berjudul My Heart Will Go On, lagu yang dibawakan oleh Cellindion. Dan satu lagi yang berbahasa Indonesia yaitu lagu Tulus dari Tia. Edward menyanyikan lagu The Prayer dan Terima kasih cinta. Dan kami menunggu saat itu tiba. Saat dimana kami menunjukan pada dunia kalau kami ini bisa sejajar dengan Negara yang lain.
Tiba saatnya aku dan Edward mengikuti kompetisi ini. Edward sudah siap dengan tuxedonya, dan aku sudah siap dengan gaun yang aku kenakan ini. Gaun yang sengaja dibeli dengan harga dua juta rupiah.
“Deb, hari ini kamu cantik banget….”, puji Edward kepada ku saat menunggu giliran untuk menyanyi.
“Hari ini juga kamu cakep banget…. Biasa aja deh mujinya, Ed….”, jawab ku sambil tersenyum manis. Kini saatnya aku maju dan semua keraguan ku hilang saat aku diberi semangat oleh Edward. Setelah aku menyanyi, sekarang giliran Edward yang naik ke panggung untuk memperdengarkan suara indahnya.
Semua peserta sudah mendapat giliran menyanyi. Sekarang waktunya kami untukmendengarkan hasil perlombaan ini, apakah kami akan menang atau kalah dalam kompetisi ini. Aku dan Edward harap-harap cemas di kursi peserta.
“Deb, moga aja kita menang ya….”, kata Edward kepada ku.
“Iya…. Mudah-mudahan ya, Ed…”, jawab ku sambil menggenggam tangan Edward. Saat hasil disampaikan oleh pembawa acara, betapa terkejutnya kami karena aku dan Edward masuk ke dalam juara tiga besar. Edward juara 1 dan aku juara 2. Ini semua seperti mimpi. Ini berarti aku akan menjadi penyanyi yang sesungguhnya. Aku akan mempunyai album bersama Edward. Bu Nada dan Pak Wilson memeluk kami dan member kami ucapan selamat karena hasil kerja keras kami semua sehingga kami bisa menjadi juara.
Hari ini setelah satu minggu aku berada di Kairo, Mesir, kami harus pulang ke Indonesia dan membagikan kebahagiaan kami dengan orang lain. Bahkan kami akan disambut oleh bapak presiden karena kami sudah membawa nama baik Indonesia ke dalam kancah musik. Seperti biasa di dalam pesawat pasti aku dan Edward tidur dengan pulas. Sehingga ada satu perasaan yang aneh yang menghampiri aku. Pesawat aku rasakan kurang keseimbangan.
“Para penumpang, dimohon untuk mengenakan pelampung dengan benar…”, ucap pramugari dan pramugara yang sedang membagikan pelampung kepada kami. Aku dan Edward mulai pani. Aku takut kalau-kalau nanti terjadi hal-hal yang buruk.
“ Edward…. Kita…. Kita…. Ngga akan pisah kan?”, Tanya ku sambil memeluknya saat kami akan melompat ke bawah. Dan entah kami akan mendarat dimana.
“Tenang, Deb…. Aku disamping kamu…. Aku sayang kamu…..”
“Aku juga sayang kamu….”, saat aku mengatakan hal tersebut, pesawat kami tidak seimbang, dan belum sempat aku melompat ke laut, pesawat ini sudah akan jatuh dan entah dimana. Aku memeluk erat tubuh Edward sambil menangis…. Dan…..
Kehidupan ku sekarang sudah berubah, sudah tidak ada lagi kebahagiaan, sudah tidak ada lagi semangat hidup, dan sudah tidak ada lagi suara ku yang kata orang merdu ini. Sekarang aku lebih suka menyendiri dan tidak bersuara sama sekali semenjak Edward meninggal dalam kecelakaan pesawat bulan lalu. Aku masih teringat dan terlihat jelas wajahnya saat terakhir kali kita bersama. Wajahnya terlihat panik, namun terlihat tenang di depan ku. Sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Karena aku mengalami luka yang cukup parah. Tangan ku mengalami patah tulang dan aku harus dirawat intensif. Malam ini aku sudah tidak kerasan lagi di rumah sakit. Aku putuskan untuk lari dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Aku tinggalkan sejumlah uang yang cukup untuk biaya rumah sakit selama ini dan meninggalkan rumah sakit dengan diam-diam. Aku melepas infuse yang melekat pada tangan ku. Walaupun sakit tapi aku berusaha untuk melepasnya. Dan sekarang aku bisa lari dari rumah sakit. aku berhasil keluar dari lingkungan kamar. Taapi tiba-tiba saat berada di taman rumah sakit, aku merasa pusing dan….
“Aku dimana?”, aku bertanya bingung saat aku sedang tergeletak di tempat tidur.
“Kamu pingsan di taman rumah sakit, nak.”, jawab ibu dengan panik. Dokter ada di samping ku.
“Kamu ditolong sama Levy. Ini dia yang nolong kamu…”, kata ibu kepada ku. Aku melihat Levy yang agak mirip dengan Edward.
“Makasih, Levy…”, ucap ku agak berat karena kepala ku masih terasa pusing.
“Deb, kenapa kamu coba-coba kabur dari rumah sakit? kamu ngga mikir kesehatan kamu? Kamu belum sembuh betul!”, ibu marah-marah kepada ku.
“Sudah, bu…. Anda jangan terlalu banyak menekan Debora, karena nanti perkembangannya bisa memburuk…. Sebaiknya biarkan Debora istirahat. Saya tinggal dulu, nanti kalau ada apa-apa, panggil saya saja.”, dokter Rambing pamit untuk bekerja kembali dan aku juga masih terbaring lemas. Hanya Levy dan ibu yang masih berada di samping ku.
“Hmmm…. Tante, saya tinggal dulu, saya masih harus nemenin pacar saya…. Permisi tante….”, pamit Levy.
“Oh, iya…. Makasih ya Levy, kalo ngga ada kamu, Debora mau gimana?”
“ngga usah berlebihan, tante…. Itu hanya kebetulan saja kok Levy lewat taman dan liat Debora pingsan, jadi, ya Levy tolong deh…. Deb…. Aku Levy, salam kenal ya…. hmmm…. Lain kali jangan kabur lagi ya, kasihan ibu kamu. Cepet sembuh ya…”, kata Edward. Aku hanya tersenyum ke arahnya. Lalu dia kembali ke kamar pacarnya. Setelah Levy meninggalkan kamar ku, ibu melihat ku dan mendekati ku.
“Deb, kamu kenapa sampai mau kabur?”, Tanya ibu dengan pelan sambil duduk di sebelah ranjang.
“Debby ngga betah, Debby pingin liat….”, tidak sengaja aku akan mengatakan ingin melihat makam Edward. Padahal ibu tidak tahu kalau aku ada hubungan special dengan dia.
“Pingin liat apa?”, Tanya ibu lagi terdengar penasaran.
“Hmmm…. Pingin liat keluar rumah sakit…”, jawab ku sekenanya saja. Ibu mengerti dan menyuruh ku untuk istirahat agar keadaan ku cepat membaik. Ibu sengaja meninggalkan ku sendirian agar aku bisa istirahat. Padahal saat ibu kelur dari kamar, aku menangis mengingat Edward. Dibenak ku masih terlihat jelas saat terakhir kali kami mengalami kecelakaan pesawat. Aku bersumpah seumur hidup aku akan mengutuk si pembuat pesawat yang aku naiki bersama Edward kemarin. Aku bersumpah bahwa keluarganya tidak akan hidup tenang. Tidak akan.

……
Semenjak tragedi di taman rumah sakit, aku dan Levy semakin dekat dan dia sering mengunjungi aku walaupun pacarnya sudah meninggal dua hari yang lalu. Dia sering menemani ku dan mengajak ku untuk bernyanyi bersama, tapi aku tidak pernah mau membuka mulut ku untuk bernyanyi. Hingga suatu hari, Levy mengatakan sesuatu yang sangat membuat aku terkejut.
“Mau sampai kapan kamu akan trauma dengan kejadian kemarin? Suara kamu bagus, kenapa kamu ngga berusaha menghibur diri kamu dengan menyanyi?”, Tanya Levy sambil masih memainkan gitar akustiknya.
“Maksud kamu apa? Itu hak aku buat nyanyi atau ngga nyanyi lagi.”, jawab ku ketus.
“Oke, maafin aku kalau aku udah bikin kamu marah, aku salah…. Aku ngga akan membahas itu lagi.” kata Levy lagi. Ia menghentikan permainan gitarnya. Lalu meletakkannya di samping ranjang.
“Loh, ada apa, Lev, kok kamu berhenti main gitarnya?”, Tanya ku bingung.
“Deb, aku mau ngomong sesuatu sama kamu…. Mungkin kamu ngga akan ketemu aku lagi. Aku mau lanjutin kuliah ku di luar negeri….”
“Apa? Luar negeri? Kamu ngga lagi becanda kan?”, Tanya ku lagi dengan semakin bingung.
“Ngga…. Aku ngga becanda…. Aku serius…. Mungkin aku pulang ke Indonesia kalo aku udah kerja nanti….”, jawab Levy. Aku terdiam dan terus diam. Aku akan kembali kehilangan orang yang memperhatikan ku. Kenapa Tuhan mengambil satu per satu orang yang aku sayang dan memperhatikan ku? Yang pertama ayah, kedua Edward, dan yang ketiga Levy yang akan jauh dari aku. Walaupun baru beberapa minggu kami kenal, namun aku sudah merasa cocok berteman dengannya. Kepala ku pusing, dan aku akan tidur sebentar untuk menenangkan diri ku. Levy pulang kembali ke rumah.
……..
Singkat cerita aku sudah kembali ke rumah dan masuk sekolah, seperti biasa, temna-teman dan guru-guru memberi ucapan selamat datang kepada ku. Levy sudah pergi ke Kanada. Dan aku di sini kesepian seperti dulu. Tapi aku berusaha akan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Kanada.
Hingga saat itu tiba. Aku sudah lulus dari bangku SMA. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ku di Kanada. Di universitas yang sama dengan Levy. Tetapi sayangnya aku tidak satu jurusan dengan dia. Aku mengambil jurusan ekonomi. Dan dia akan memperdalam ilmu tentang teknik elektronya. Hari ini aku sudah mulai menjalani aktifitas ku sebagai anak kuliah. Aku harus bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa dari Negara lain yang kebanyakan dari mereka adalah orang pilihan. Tapi aku tidak pernah rendah diri, ini membuat kau terpacu untuk terus berjuang dengan mengembangkan kelebihan ku dan prestasi ku. Setiap hari aku jalani hidup yang datar. Tidak ada kegiatan apa pun yang mempertemukan aku dengan Levy. Bahkan semakin aku mencari dia, maka semakin tidak pernah bertemu. Aku harus bagaimana lagi? percuma saja aku kuliah di Kanada, kalau tidak bisa bertemu dengan Levy. Dia adalah semangat hidup ku. Nyaris saja aku akan pulang ke Indonesia dan akan mengulang kuliah dari semester awal. Namun aku ingat dengan ibu yang membiayai kehidupan ku di Kanada yang tidak cukup dengan uang satu juta rupiah. Kasihan ibu jika aku sudah di tengah jalan, lalu berhenti. Aku terus berjuang. Berjuang dari segala cobaan yang menimpa ku sebagai mahasiswa rantau. Aku terus mengejar cita-cita ku. Aku ingin memperbaiki perekonomian di Indonesia bahkan perekonomian dunia. Aku terus berusaha menyelesaikan semua skripsi dan tugas-tugas ku. Hingga sekarang usia ku menginjak 20 tahun. Lima tahun sudah aku tidak bertemu dengan Levy hingga aku sendiri lupa dengan tujuan selain kuliah, aku juga mencari Levy. Tapi entahlah, yang jelas sekarang aku sudah menjadi sarjana terbaik di Kanada. Bahkan pemerintah Kanada menginginkan ku untuk bekerja sebagai penasihat ekonomi di Kanada. Aku terima tawaran tersebut karena pemerintah Kanada tidak melarang ku jika sewaktu-waktu aku ingin kembali dan bekerja di Indonesia.
Hingga suatu hari, terjadi permasalahan dalam perekonomian Kanada, namun aku berusaha tenang dalam menghadapi dan merundingkannya. Sampailah suatu titik temu yang tidak merugikan bagi pihak lain. Karena keberhasilan ku dalam menjadi penasihat perekonomian, maka aku dinobatkan oleh pemerintah Indonesia bahwa aku akan menjadi menteri ekonomi termuda pada usia 22 tahun nanti, namun aku harus meneruskan kuliah lagi S3. Karena aku sudah mempunyai gelar master. Aku terus berkarya hingga aku lupa bahwa dulu aku terkenal karena suara ku, bukan otak ku. Tapi sekarang aku terkenal karena otak ku. Aku yakin dan aku percaya bahwa dengan terkenalnya aku ini, aku bisa dapat lebih mudah bertemu dengan Levy.
Pagi ini seperti biasa aku mengelilingi komplek rumah ku. kebetulan di sudut blok ada sebuah taman yang cukup luas dan sejuk. Embun pagi masih beterbangan dan tidak mau pergi, bahkan matahari pun malu keluar dari peraduannya. Aku duduk di bangku taman yang basah karena embun. Tiba-tiba dihati ku terbersit keinginan untuk menyanyi muncul. Aku ingin mendengarkan suara ku sendiri. Aku pejamkan mata ku dan membayangkan yang dahulu pernah aku lalui. Memori dalam otak k uterus berputar hingga tersentuh dalam hati ku. mulut ku yang tadinya tak bergeming, kini menginginkan aku untuk menggerakkannya dari hati. Sebuah lagu yang sederhana, sebuah lagu yang dulu pernah aku nyanyikan bersama Edward. I want to spent my livfe time loving you.
“ I want to spent my life time loving you…. It’s holly in…”, aku terus menyanyikan lagu itu.
“Debora….. suara mu indah di balik embun pagi yang menutupi wajah mu, tapi aku masih paham dengan suara mu”, kata seorang pria di belakang ku. dan lagu ku terhenti. Aku mencoba menoleh ke belakang. Dan aku melihat sesesok pria yang tidak asing lagi bagi ku. Dia semakin terlihat dewasa dan aku tidak menyangkanya.
“Levy…..”, aku menyebut namanya dan aku tidak merasa asing dengannya. Dia mendekati ku dan aku pun menyusulnya. Aku ingin selalu dekatnya.
“Levy…. Aku sayang kamu….. aku ngga mau kehilangan kamu. Aku selalu cari kamu dan nunggu kamu…”
“Aku juga, Debora….. aku selalu cari kamu, dan aku selalu menunggu kamu. Sekarang kita sama-sama lagi kayak dulu…. Aku sayang kamu”
Semuanya sudah berakhir bahagia. Kami sudah mengikat janji setia di hadapan Tuhan dan hanya maut yang dapat memisahkan kami. Karena pernikahan yang sudah disatuhan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Diusia ku yang sudah 22 tahun ini, aku kembali ke Indonesia bersama Levy, yang sekarang sudah menjadi suami ku. Aku bersyukur…. Terima kasih Tuhan…..


SELESAI