Custom Search
Tampilkan postingan dengan label cerpen X5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen X5. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2009

Mencari Burung Sakti oleh Reza

Di dekat Danau Toba, Sumatra Utara ada raja bernama Somongga. Ia mempunyai dua anak, keduanya laki-laki. Yang sulung bernama Aji Panurat. Si bungsu dipanggil Aji Pamasa. Keduanya bersaudara mempunyai sifat yang sangat berbeda. Aji Panurat berperasaan iri hati dan suka curang. Adiknya rajin, senang bekerja keras, dan jujur. Suatu hari Raja Somongga memanggil kedua putranya. Aji Panurat diminta ayahnya segera mencari calon istri, pemuda itu ternyata belum siap. Ia mengharap Aji Pamasa dulu yang menikah. Raja memanggil Aji Pamasa dan menyuruhnya mencari calon istri. Jika sudah seizin abangnya, si adik siap. Ia tidak mau melanggar adat.
Raja Somongga mengatakan pada Aji Pamasa,”Ananda tidak melanggar adat istiadat kita. Menurut adat kita, seorang adik boleh menikah lebih dahulu setelah ada izin dari kakaknya. Aji Panurat telah mengizinkanmu, Ananda,” katanya. “Jika demikian halnya, perintah Ayahanda akan Ananda patuhi. Ananda akan melamar putri Raja Usuman di kampung Habitsaran ni mata ni ari ,” jawab Aji Pamasa dengan sopan santun. Keesokan harinya, Aji Pamasa dan para pengawalnya berangkat ke kampung calon pengantin wanita. Mereka membawa bekal secukupnya, seekor kerbau disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada para pengiring Aji Pamasa.
Di dekat istana Raja Usuman, Aji Pamasa dan pengiringnya istirahat. Pemuda itu membersihkan badan dan memakai pakaian bagus. Destar di kepalanya sangat indah batikannya. Keris tersisip di pinggangnya. Ia harus tampak gagah di hadapan calon mertua dan calon istrinya. Setelah Aji Pamasa berpakaian lengkap, tembakan kehormatan dilepaskan. Tembakan itu mengejutkan Raja Usuman. Keluarga istana menyangka ada musuh menyerang. Utusan pun dikirim kepada Aji Pamasa. Aji Pamasa menjelaskan, “kedatangan kami untuk meminang putri Raja Usuman”. Mendengar penjelasan itu, Raja Usuman sangat gembira.
Selesai perundingan, Aji Pamasa menyerahkan pundun-pundun kepada Raja Usuman. Benda itu adalah seutas tali-temali bersimpul tujuh. Simpul tali sebagai simbol perjanjian. Setelah tujuh hari sejak perundingan akan diselenggarakan upacara pernikahan. Pihak Aji Pamasa juga membawa pundun-pundun. Masing-masing pihak setiap hari melepas simpul tali untuk menghitung hari. Cara itu dilakukan agar kedua belah pihak tidak lupa pada janji. Setelah masing-masing pihak menerima pundun-pundun, Aji Pamasa mohon diri kepada Raja Usuman. Rombongan itu kembali ke kerajaan mereka dengan hati lega. Wajah Aji Pamasa tampak berseri-seri sepanjang perjalanan pulang. Ia bercengkerama dengan para pengiring. Tak jarang Aji Pamasa menari-nari.
Pada hari ke-7 Aji Pamasa dan rombongan menuju ke istana Raja Usuman. Rombongan siap ke pesta pernikahan Aji Pamasa dan putri Raja Usuman. Mereka membawa perbekalan dan barang-barang antaran untuk calon istri Aji Pamasa. Di tengah perjalanan, rombongan itu bertemu utusan Raja Usuman. Tentu Aji Pamasa dan anggota rombongannya sangat terkejut. “Sangat menyesal, kami mengabarkan, calon istri Tuan telah meninggal dunia tadi malam.” Ketua rombongan Raja Usuman menjelaskan. Kedua belah pihak berduka cita. Mereka menundukan kepala. Dengan hati kecewa karena gagal menikah, Aji Pamasa mengajak rombongannya pulang. Langkah-langkah mereka gontai. Mereka tidak bersemangat lagi.
Aji Pamasa tidak putus asa. Dengan seizin Raja Somongga, Aji Pamasa dan rombongan melamar putri Raja Usuman yang lain. Perjanjian pun telah disepakati. Pada hari ke-7 pernikahan akan dilaksanakan di istana Raja Usuman. Musibah terjadi lagi. Calon istri Aji Pamasa meninggal mendadak, satu malam sebelum upacara pernikahan. Rombongan dari Raja Usuman mengabarkan berita duka cita itu di tengah perjalanan, persis seperti kejadian yang pertama. Aji Pamasa segera pulang dan melaporkan musibah itu kepada Raja Somongga. Raja dan permainsuri hanya mampu menundukan kepala. Seluruh rakyat pun turut berduka cita.
Kini giliran Aji Panurat melamar calon istri, setelah adiknya dua kali gagal. Raja Somongga merestui keberangkatan anak sulungnya itu. Dua kali Aji Panurat mengalami nasib yang sama dengan adiknya. Kedua calon istrinya meninggal juga. Raja Somongga benar-benar terpukul. Mereka tidak berdaya, usaha dan doa telah dilaksanakan. Tetapi, hasilnya sia-sia, penasihat istana diundang untuk diajak berunding. Keputusannya adalah minta bantuan Boru Paet namian di gudo-gudo, seorang perempuan sakti. Seisi istana berdebar-debar menunggu keputusan Boru Paet. Perempuan tua yang sakti itu berdoa lama sekali. Wajah-wajah penghuni istana tampak tegang. Boru Paet akhirnya memberi isyarat, keputusannya esok hari.
Sajian berupa telur ayam, sirih, dan pinang disiapkan. Pinang pun harus yang masih muda. Minyak wangi dan bunga-bunga yang harum disediakan. Para penabuh gendang diminta bermain sebagus-bagusnya. Gendang melagukan dua jenis lagu. Pertama paralamat dan kedua panukkunan.
Selanjutnya Boru Paet memutuskan, “Ananda Aji Panurat dan Aji Pamasa harus menangkap burung yang pandai bicara. Burung sakti itu akan melindungi kalian dari kemalangan. Burung sakti itu pula yang akan membersihkan nasib kalian dari segala kesialan. Laksanakanlah!” Boru Paet menambahkan, burung sakti bias didapatkan setelah mengalami cobaan-cobaan berat berupa penderitaan lahir dan batin.
Aji Panurat dan Aji Pamasa menyiapkan perbekalan untuk berjalan jauh. Burung sakti yang pandai bicara itu tidak jelas ada dimana. Ia harus dicari ke sekeliling bumi ini. Setelah semuanya siap, kedua bersaudara menghadap Raja Somongga untuk minta doa restu. “jangan lupa bawa alat pembuat api.” Raja Somongga mengigatkan kedua putranya. Kedua kakak-beradik itu sujud di hadapan Raja Somongga disaksikan keluarga istana. Di alun-alun depan istana, rakyat mengelu-elukan kedua bersaudara. Rakyat pun berdoa untuk keselamatan dan keberhasilan Aji Panurat dan Aji Pamasa. Tak seorang pun menduga, akan berapa lama perjalanan jauh mereka tempuh.
Aji Panurat dan Aji Pamasa telah menempuh belukar, hutan, sungai, tebing terjal, dan lembah curam. Mereka terus berjalan tak kenal letih untuk mencapai cita-cita, menangkap burung yang pandai bicara. Suatu ketika kedua bersaudara tiba di jalan bercabang dua, kanann dan kiri. Kedua orang itu saling memandang. Mereka bingung dan tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Tetapi, karena tubuh sangat lelah, kedua bersaudara setuju istirahat. Bekal mereka buka, keduanya makan dengan lahap. Selesai makan, keduanya berunding. Sedang mereka berunding, Aji Pamasa melihat sebuah gubuk di kejauhan. Aji Pamasa mengajak kakaknya menuju gubuk itu. Aji Panurat menyetujui usul adiknya. Mereka berjalan tergesa-gesa menuju gubuk di tengah hutan lebat itu.
Aji Panurat dan Aji Pamasa bermalam di gubuk dalam hutan lebat itu. Pagi harinya Aji Panurat melihat tulisan aneh di atas pintu gubuk. Ia menyuruh adiknya membaca tulisan tersebut. Si adik membaca tulisan itu dengan suara keras, “Jalan yang ke kanan untuk para hantu, mambang,, dan peri. Sedang jalan yang ke kiri bagi manusia,” “jika kita selalu berjalan berdua kemana-mana, pasti tidak akan menemukan burung yang pandai bicara itu,” kata Aji Panurat. “Karena itu, berjalanlah kau ke kanann dan abang ke kirii,”lanjutnya. Aji Pamasa merasa keputusan abangnya itu tidak adil. Tetapi, sebagai adik, dia harus patuh pada perintah kakaknya. Ia pun menempuh jalan para hantu, mambang, dan peri itu.
Aji Panurat terus berjalan di jalan untuk manusia. Di suatu dusun ia melihat orang ramai. Rupanya Raja Tunggul di Judi sedang bermain judi dengan orang sekampungnya. Kedatangan Aji Panurat menarik p.erhatian Raja Tunggul di Judi. “Hai, anak muda!” panggil Raja Tunggul di Judi. “Apa maksud kedatanganmu ke dusun kami?”lanjutnay. aji Panurat bercerita dengan jujur tentang maksud kedatangannya, yaitu mencari burung yang pandai berbicara. Raja Tunggul di Judi mengatakan, burung yang pandai bicara itu tak terdapat di seluruh negerinya. Ia secara ramah mengajak Aji Panurat bermain judi. Aji Panurat terpengaruh oleh rayuan Raja Tunggul di Judi. Ia ikud main judi dan menang terus hari itu. Harta benda Raja Tunggul di Judi habis sama sekali. Tinggal dirinya, istrinya, dan anak gadisnya yang cantik.
Dengan langkah lesu Raja Tunggul di Judi pulang ke rumahnya. Anak gadisnya menyapa sang Ayah di tangga rumah. Sang Ayah menceritakan, ia sudah jatuh melarat karena dikalahkan anak muda yang baru dating. “Ayahanda tidak perlu sedih. Harta benda Ayahanda harus segera kembali,”kata gadis. “Selanjutnya, pemuda asing kita jadikan budak di rumah besar kta. Ajaklah dia bermain judi kembali dan Ananda akan menonton permainan itu”. “Sebaiknya kapan?” Tanya Raja Tunggul di Judi. “Pagi besok lebih baik, Ayahanda”. Raja Tunggul di Judi tidak dapat tidur semalaman. Ia tidak sabar menunggu matahari terbit. Terbayang olehnya harta bendanya kembali padanya. Lalu lawannya akan menjadi budaknya.
Esoknya Raja Tunggul di Judi mengundang Aji Panurat makan siang di rumahnya. Usai makan siang, Raja Tunggul di Judi mengajak tamunya berjudi. Sedang keduanya asyik bermain judi, Gadis muncul. Ia hilir mudik di belakang ayahnya. Gayanya persis peragawati sedang berjalan diatas panggung/ Aji Panurat tertarik pada kelakuan Gadis. Perhatiannya pada permainan judi berkurang. Tak lama kemudian, Aji Panurat kalah. Hasil kemenangan dan bekalnya habis. Pakaiannya di badannya terjual. Karena masih kurang pembayarannya, tubuhnya dijadikan budak olejh Raja Tunggul di Judi. Selanjutnya kaki Aji Panurat dipasung di kayu berlubang-lubang. Maka, tak dapat lagi Aji Panurat pergi mencari burung sakti.
Aji Pamasa yang menempuh jalan bagi para hantu, mambang, dan peri. Suatu hari ia sampai di kebun jambu yang berbuah lebat. Saat itu ia sedang haus dan lapar. Bekalnya sudah lama habis. Baru saja ia akan memetik jambu terdengar suara aneh. “Jangan kau ambil ambil juambu yang di bawah!” Hantu berkata. Baru saja Aji Pamasa akan mengambil jambu yang di atas, terdengar suara lain, “Jangan kau ambil jambu yang di atas! Ambil saja yang di bawah!” Aji Pamasa berpikir, itulah suara hantu. Maka, dia batalkan memetik jambu. Ia bergegas meninggalkan tempat itu dan brjalan lagi. Ia tidak menghiraukan panggilan para hantu di kebun jambu itu. Ia pun tidak mau menoleh sekilas pun. Langkahnya pasti, karena teringat tugas pokoknya, mencari burung yang pandai berbicara seperti manusia.
Di depan Aji Pamasa tiba-tiba muncul sebuah sumur kembar. Sumur di sebelah kanan beriak-riak. Airnya jernih sekali. Sumur yang di sebelah kiri berair keruh dan tampak tenang. Perasaan haus mendorong Aji Pamasa minum air sumur yang jernih. Baru saja kedua tangannya menyentuh air, keadaan berubah. Air itu menjadi keruh. Air sumur yang keruh mendadak menjadi bening. Aji Pamasa pindah ke sumur di sebelah kiri. Saat dia menundukan kepala, air sumur di kiri itu pun menjadi keruh. Begitulah terjadi beulang-ulang. “Ah, inipun godaan hantu!” teriak Aji Pamasa seraya meninggalkan tempat itu. Padahal, tenggorokannya sudah sangat kering saat itu. Tetapi, dia tidak mau terpengaruh. Rasa dahaga dia tahankan sepanjang jalan.
Setelah meninggalkan sumur yang aneh, Aji Pamasa sampai di dua padang rumput. Yang satu tandus, yang lainnya lebat. Aji tercengang menyaksikan pemandangan yang aneh. Kerbau-kerbau yang makan di padang lebat bertubuh kurus-kurus. Sebaliknya kerbau-kerbau yang makan di padang tandus bertubuh gemuk-gemuk. “Apa ini pula?” Tanya Aji Pamasa sambil melihat ke kanan dan ke kiri berganti-ganti. “Ah, inipun tipuan hantu, mambang, dan peri!” teriak Aji Pamasa. Ia melompat ke suatu tebing dan melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba kerbau-kerbau itu memanggil Aji Pamasa. Tetapi, pemuda yang berpendirian teguh itu terus berjalan tanpa menoleh-noleh.
Aji Pamasa sampai di kaki gunung yang tinggi sekali. Di gunung itu hanya ada sebuah pohon. Itulah pohon kayangan yang sering di ceritakan di dalam dongeng-dongeng. “Aku akan mendaki gunung itu!” tekad Aji Pamasa. Ia bermaksud bermalam di bawah pohon kayangan. Baru saja akan mendaki gunung, Aji Pamasa dicegat seekor babi betina yang besar. “Hai, siapakah kau? Mengapa kau berani benar mendekati pohon kayangan itu?” Babi itu menegur Aji Pamasa. “Hai, Nenek, jika ingin membunuhku, segera laksanakan agar tidak terlalu lama aku menderita!” jawab Aji Pamasa. “Hai, kalau aku tidak salah, aku mendengar suara cucuku, putra Raja Somongga.” Babi besar itu menukas. “Jika benar dugaanku, apa maksudmu kesini?” Aji Pamasa bercerita mengenai tujuannya mengembara. Ia pun bercerita tentang kegagalannya menikah dengan anak Raja Usuman.
Babi menasihati Aji Pamasa agar menemui Beruang. Setelah bertemu Beruang, binatang itu menyuruh Aji Pamasa menemui sang Ular. Sang Ular menasihati Aji Pamasa agar menemui sang Harimau. Setiap bertemu dengan makhluk-makhluk itu, Aji Pamasa menceritakan maksudnya. “Kau adalah cucuku,” kata Harimau. “Benarkah kau putra Raja Somongga?” Tanya Harimau. Aji Pamasa menjawab, “Ya, kakek.” Sang Harimau mengajari Aji Pamasa melompat tinggi. Ilmu melompat tinggi penting sekali bagi Aji Pamasa untuk mempercepat perjalanan. Aji tiba di rumah Dewi yang bertugas menimbang nyawa orang-orang yang sudah meninggal. Saat Aji tiba, Dewi masih asyik menghitung. Apangerangan yang dilakukan perempuan yang aneh itu, piker Aji Pamasa sambil mendekat perlahan-lahan.
Dari sang Dewi, Aji Pamasa mendapat keterangan mengenai cirri burung sakti. Burung itu seperti burung kitiran dan suaranya mirip burung puyuh. Aji menanyakan pekerjaan sang Dewi yang begitu tekun, terus menghitung. “Semua nyawa makhluk hidup kuhitung,” jawab sang Dewi. “Singkatnya, sayalah yang menghitung nyawa dari segala makhluk bernyawa yang hidup di dunia fana ini,” lanjut Dewi. “Bayi pun kuhitung. Anak kecil yang mati juga kuhitung. Mereka sudah punya rasa malu. Itulah sebabnya mereka minta pakaian. Tetapi, si dewasa yang sudah mampu membeli pakaian banyak yang tidak mengenal rasa malu.” Mengenai rahasia usia lanjut, Dewi mengatakan, “Semangat yang tahan menderita dan punya iman yang teguh diberkati usia lanjut dan kebahagiaan. Nah, lanjutkanlah perjalananmu!” kata Dewi.
Aji Pamasa sampai di tempat kediaman Naga Sipitu Tanduk. Aji Pamasa memperkenalkan diri kepada Naga berkepala tujuh itu. Ia menceritakan pengalamannya. Ular besar yang sakti itu tidak menyakitinya. Naga itu memberinya cincin sakti. Cincin itu disebut cincin yang menjadi-jadikan, tongkat di jalanan licin, suluh di dalam gelap, dan pemuas dahaga di panas terik. Juga menjadi bekal dalam perjalanan. Naga itu pun merestui perjalanan Aji Pamasa. “Jagalah baik-baik cincin itu,” pesan Naga berkepala tujuh. “Terima kasih, aku akan menjaganya,” kata Aji Pamasa sebelum melanjutkan perjalanan.
Aji Pamasa terkejut ketika seorang gadis cantik meludah dari atas bubungan rumah. Gadis itu mengaku sebagai Putri Bulan. Rambutnya tergerai panjang. Sambil menengadah Aji Pamasa menyeka air ludah yang mengenai pipinya. Setelah mengetahui terkena air ludah Putri Bulan yang sakti, Aji Pamasa tertawa terbahak-bahak. “Naiklah, hai, pemuda yang terbahak-bahak!” kata Putri Bulan. “Aku tidak berani,” lanjut pemuda yang berani itu. Jawabnya dengan sopan. Putri Bulan mengulurkan dua helai rambutnya yang sangat panjang itu agar Aji Pamasa dapat naik ke bubungan rumah. Aji Pamasa bergantung di dua helai rambut itu dan naik perlahan ditarik Putri Bulan.
Ketika Aji Pamasa sampai di bubungan rumah, Putri Bulan ketakutan. Ia khawatir ibunya, sang Garuda tidak menyukai pemuda itu. Segera Aji Pamasa disuruhnya berpakaian perempuan. “Hai, Anakku Putri Bulan, aku mencium bau perempuan lain dalam rumah kita ini. Siapakah dia?” “Oh, tidak ada siapa-siapa, Bunda.” Putri Bulan berbohong. “Heh heh heh, tak usah khawatir, aku tak akan mengganggu kawan yang kau sembunyikan itu, heh heh heh. Pemuda tampan itu memang sudah ditakdirkan Yang Maha Pencipta untuk menjadi suamimu, Nak.” Saat itu pula Putri Bulan melepasakan pakaian perempuan di tubuh Aji Pamasa. Sang Garuda memandangi sekujur tubuh Aji Pamasa.
Sang Garuda menanyai nama, asal usul, dan keperluan pemuda yang berani dan jujur itu. Aji Pamasa menceritakan seluruh kisahnya. “Oh, burung sakti itu ada pada Raja Homang,” kata sang Garuda. “Em, taka apa-apa, aku dan Putri Bulan akan menyertaimu dalam perjalanan. Kau sudah terlalu menderita menunaikan perintah Raja Somongga. Aku senang menemukan pemuda yang berani, jujur, dan satria seperti kau.” Putri Bulan merasa senang sekali mendengar pujian ibunya kepada Aji Pamasa. Pandangan Putri Bulan tidak lepas-lepas ke arah muka pemuda tampan itu. Aji Pamasa merasa senang bertemu dengan Putri Bulan dan sang Garuda yang akan menyertai perjalanan panjangnya.
Setelah fajar menyingsing, Aji Pamasa dan Putri Bulan mengikuti sang Garuda ita terbang. Mereka menuju kediaman Raja Homang. Kedatangan mereka disambut nyanyian Burung Sakti di beranda istana Raja Homang. Rja Homang meminta bAji Pamasa bercerita tentang pengalamannya yang penuh penderitaan. Pemuda itu bercerita apa adanya. Ia mencari burung sakti atas perintah orang yang dimuliakan. Abangnya pun melakukan pekerjaan yang sama. Tetapi, Abangnya memilih jalan manusia. Terharu Raja Homang mendengar pengalaman Aji Pamasa. Maka, Burung Sakti dia serahkan saat itu juga dengan tulus ikhlas. Aji Pamasa sangat senang mendapatkan Burung Sakti yang membuatnya menderita itu. Setelah menerima Burung Sakti, sang Garuda mengajak Aji Pamasa dan Putri Bulan pulang ke rumah sang Garuda.
Di rumah sang Garuda, Putri Bulan dan Aji Pamasa dinikahkan. Kedua orang muda itu sangat bahagia. Mereka tersenyum-senyum. Yang hadir menyalami keduannya sambil mengucapkan selamat bahagia. Tetapi, di tengah kebahagiaan itu, Aji Pamasa merasa cemas. Ia teringat pada abangnya, Aji Panurat yang menempuh jalan bagi manusia. “Kanda sedang memikirkan apa?” bisik Putri Bulan. Aji Pamasa menceritakan tentang abangnya pada Putri Bulan. Hal itu segera diceritakan Putri Bulan pada ibunya, sang Garuda. “Perjalanan kembali ke tempat asal kalian berpisah sangat berat,,” bisik sang Garuda. “Sebaiknya Putri Bulan ikut supaya dia mengetahui terus keadaan suaminya. Tidak baik suami-istri berpisah terlalu lama,” nasihat sang Garuda.
Aji Pamasa, Putri Bulan, dan Burung Sakti tiba di gubuk tempat perpisahan dengan Aji Panurat dulu. “Aku akan mencari Abang. Kalian tinggal di sini,” kata Aji Pamasa pada istrinya dan Burung Sakti. Cincin pemberian Naga Berkepala Tujuh ditinggalkannya pada Putri Bulan. Suatu saat cincin sakti itu dapat dimanfaatkan, piker Aji Pamasa. Seorang diri Aji Pamasa menuju kediaman Raja Tunggul di Judi. Saat itu Raja Tunggul di Judi, seperti kebiasaannya sedang berjudi. Ia tidak memperhatikan tamu yang yidak dikenalnya sedang mengawasi gerak-geriknya. Aji Pamasa menyelinap. Ia mencari tempat Abangnya dipasung. Ia akan memperkenalkan diri pada Raja Tunggul di Judi setelah menemukan Abangnya.
Aji Pamasa berteriak tatkala melihat abangnya dipasung dekat tangga. Ia memeluk abangnya yang sudah kurus kering dan dekil itu. “Aku kalah berjudi dan dianiaya seperti ini,” cerita si Abang. Aji Panurat sudah tidak menenali wajah adiknya itu. Ia menyangka lelaki tampan itu adalah algojo yang akan menyiksanya. Aji Panurat terheran-heran setelah menyadari adiknya dapat kembali dengan selamat. Iri dan kagum bercampur di dalam hatinya. “Abang bersabarlah dulu,” bujuk Aji Pamasa. “Aku akan berusaha membebaskan Abang.” “Hati-hati, Dik, kau akan ditantang berjudi oleh Raja Tunggul di Judi dan digoda oleh anak gadisnya yang cantik,” pesan Aji Panurat.
Raja Tunggul di Judi segera mengetahui kedatangan Aji Pamasa. “Siapa kamu,hem?” Tanya Raja Tunggul di Judi angkuh. “Namaku Aji Pamasa, putra bungsu Raja Somongga. Aku dating untuk membebaskan Aji Panurat, abangku,” jawab Aji Pamasa tegas. “Ha ha ha, kalau kau menang melawanku berjudi, abangmu bebas. Jika kau kalah, kau juga akan menjadi budakku,” tantang Raja Tunggul di Judi. Aji Pamasa tetap tenang. Ia memandang muka orang yang telah menyiksa abangnya itu dengan mata tidak berkedip beberapa saat. “Besok pagi-pagi kutunggu kau dib alai istana,” kata Raja Tunggul di Judi, mengulangi tantangannya. “Aku akan dating tepat waktu,” jawab Aji Pamasa.
Raja Tunggul di Judi menggunakan siasat seperti ketika menaklukan Aji Panurat. Sementara perjudian berlangsung, Gadis menggoda lawan ayahnya dengan berjalan hilir mudik supaya konsentrasinya buyar. Siasat itu digagalkan Aji Pamasa dengan segala ketenangannya dan senjata-senjata yang diperolehnya dalam perjalanan panjang. Raja Tunggul di Judi ditaklukkannya. Seluruh harta benda lawannya itu menjadi miliknya. Gadis pun menjadi tawanannya. Raja Tunggul di Judi benar-benar tidak punya apa-apa lagi. Saat itu pula Aji Pamasa membebaskan abangnya dari pasungan. Lelaki yang tidak kuat pendirian itu menangis ketika dibebaskan adiknya. Tetapi, rasa iri hati tetap takhta di dalam hatinya.
Aji Pamasa telah berhasil membebaskan Aji Panurat dari perbudakan yang hina. Dengan segala kemurahan hati, Gadis diserahkan Aji Pamasa kepada abangnya untuk dijadikan istri. Gadis menerima lamaran bekas budak ayahnya itu untuk menjadi suaminya. Ia menggoda kedua bersaudara itu karena cinta kepada ayahnya. Setelah Aji Panurat dan Gadis dinikahkan, Aji Pamasa mengajak keduanya menjemput istrinya di gubuk. Aji Pamasa memperkenalkan istrinya kepada abang dan kakak iparnya. Mereka bersalam-salaman sebelum menempuh jalan pulang. Ayah mereka sudah bertambah tua. Ia menunggu dengan perasaan waswas. Sebab, sejak berangkat kedua anaknya tidak pernah mengirim kabar kepadanya.
Dalam perjalanan pulang, Aji Panurat dan Gadis merasa sangat haus. Aji Panurat mengajak Aji Pamasa mengambil air di jurang yang dalam. Hanya disana ada air yang layak diminum. Mereka membuat timba dari kulit kayu. Kemudian keduanya menuruni tepi jurang itu. Pada sebuah tempat yang curam, Aji Pamasa menurunkan timba. Ia menjenguk ke arah air yang sangat jauh. Pada saat itulah Aji Panurat yang berhati jahat mendorong adiknya ke dalam jurang. Aji Pamasa menjerit dan suaranya samara-samar. Setelah mencelakakan adiknya, Aji Panurat menemui istri dan adik iparnya. Putri Bulan menanyakan dimana suaminya pada Aji Panurat. Lelaki pendengki itu mengatakan, Aji PAmasa tergelincir dan masuk jurang. Putri Bulan menangis sambil meratap dan berlari kea rah juranjg.
Putrid Bulan sampai di tepi jurang. Ia memanggil-manggil nama suaminya. Untunglah suaranya di dengar oleh Aji Pamasa. Ternyata Yang Mahakuasa melindunginya. Ia tersangkut di akar-akar besar, sehingga tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Segera Putri Bulan menanyai Burung Sakti, bagaimana menolong suaminya. Burung Sakti mengatakan, dia akan menyampaikan cincin sakti kepada Aji Pamasa agar dia memperoleh kekuatan. Secepatnya Burung Sakti terbang ke dalam jurang dan memberikan cincin saktii kepada Aji Pamasa. Setelah memakai cincin sakti sipajadi-jadi, Aji Pamasa mendapat kekuatan ajaib. Ia berhasil naik ke atas jurang, yang terjal dan bercadas tajam itu. Kedatangannya disambut Putri Bulan dengan tangis bahagia dan rasa syukur kepada Yang Mahakuasa.
Aji Panurat pura-pura sedih ketika tiba dikediaman ayahnya. Ia melaporkan, adiknya telah meninggal karena terjatuh kedalam jurang. Raja Somongga dan Permaisuri tak dapat menahan air mata setelah mendengar laporan anak sulungnya itu. Seisi istana berduka cita atas kematian Aji Pamasa. Aji Panurat berpura-pura pula menyesal karena tidak mampu melindungi adiknya sendiri. “Mengapa kau tidak menolongnya, Panurat ?” Tanya Permaisuri sambil menyeka air mata. “Jurang itu dalam sekali, Bunda” jawab Aji Panurat berbohong untuk kesekian kalinya.
Aji Pamasa dan Putri Bulan pulang menempuh jalan hantu, mambang, dan peri. Ia menghindari abangnya yang jahat itu. Dalam perjalanan pulang, Aji dan Putri Bulan diadang Raja Hartuk, sang Hantu Hutan yang jahat. Raja Hartuk memiliki senjata godam dan tali terbang. Terjadi peperangan antara Aji Pamasa dan Raja Hartuk. Dengan Cincin sakti, Aji Pamasa dapat menaklukkan Raja Hartuk. Godam terbang dan Tali terbang dirampasnya. Lalu buru-buru Aji Pamasa mengajak istrinya dan Burung Sakti ke istana Raja Somongga. Mendengar kedatangan Aji Pamasa, Aji Panurat melarikan diri istana ayahnya, Ia takut segala kejahatannya terbongkar. Aji Panurat berlari tanpa membawa Gadis, istrinya.
Mengetahui abangnya melarikan diri, Aji Pamasa memerintahkan Godam Terbang dan Tali Terbang beraksi. Tubuh Aji Panurat babak belur kena godam. Tubuhnya terjerat oleh Tali Terbang dan dibawa ke istana. Di hadapan Raja Somongga, Aji Panurat mengakui kesalahannya. Ia mengaku telah insaf dan tidak akan jahat lagi. Hari itu pula Burung Sakti dibuatkan sangkar yang indah di istana. Ia menarik perhatian orang banyak karena pandai bernyanyi lagu perdamaian. Pesta syukuran dan perdamaian diadakan di istana. Sejak itu dua bersaudara Aji Panurat dan Aji Pamasa saling menyayangi. Raja Somongga dan permainsuri pun merasa tenteram dan bahagia di hari tua mereka.

Kenangan di Balik Cerita Oleh Danu

Pada suatu pagi udara terasa sejuk,bunga bermekaran,tiupan angin
membawa kesejukan,namun suasana itu tidak bertahan lama Panji
terbangun oleh suara gaduh dirumahnya,itu wajar karena mereka sekeluarga
akan berpindah rumah.Panjipun segera keluar dari kamar tidurnya untuk
segera mandi,ketika itu ia merasa terkejut karena hanya ia saja yang belum
bersiap-siap untuk segera berangkat,Panji sebenarnya bukanlah anak yang
rajin dan senang membantu,ia lebih senang untuk bermain dan
menghabiskan waktunya bersama teman-temannya,lalu Ibunda Panji
berteriak,“Panji…!!cepat bangun dan mandi,kita akan segera
berangkat!”.”Iya ma,ini juga udah mau mandi koq!”,sahut Panji.
Panji segera langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Ketika Panji sedang mandi lalu ada teman-teman Panji yang datang
untuk ikut sekedar mengantarkan kepergian Panji,mereka semua
menyempatkan diri untuk membolos sekolah agar dapat mengantarkan
kepergian Panji.Setelah Panji selesai mendi dan berpakaian rapi ia langsung
turun dan menemui teman-temannya,”Hai…semua….!”,kata Panji dari
atas.”hai…”,teman-temannya menjawab dengan serempak,namun tidak
dengan Eki dan Pandu,maklumlah mungkin karena mereka harus
kehilangan dua orang sahabatnya dari kecil,mereka memang sudah
bersahabat dari kecil bahkan ibunda dari Pandu pernah menyusui kakak
laki-laki Panji,sehingga mereka semua sudah seperti saudara.”Panji
memang kau ndak bakal pulang ke Pontianak lagi?”,tanya Eki
menggunakan Bahasa Melayu.”Kayaknye ndak ki,soalnye kame disana pasti

lama,tapi kame pasti kontak same kalian bah!”,jawab Panji.Perkataan Panji membuat hati Eki lega.Akhirnya mobil pun siap,dan mereka lngsung berangkat menuju Bandara Supadio,sesampainya disana terlihat begitu banyak orang maklumlah mungkin karena masih dalam suasana liburan,kami semua langsung masuk ke Bandara,didalam Bandara Pandu dan Eki serta teman-teman yang lain mengucapkan salam perpisahan yang terakhir,Panji dan keluarganya pergi meninggalkan kota Pontianak dan teman-temannya yang sudah menyimpan begitu banyak kenangan.
Kurang lebih selama satu jam mereka semua tiba di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta,Panji bertanya kepada Ibunya,”Ma,barang-barang bawaan kita kemana?”
“Barang-barangnya sudah dikirim langsung ke Purwokerto.”
“Berarti kita langsung berangkat ke Purwokerto?”,Tanya Panji.
“Kita mampir kerumah mbah dulu.”
Tak berapa lama mobil yang akan membawa mereka telah dating mareka semua langsung berangkat kerumah kakek Panji,diperjalanan tidak banyak orang yang berbicara karena mungkin mereka sulit untuk menghapus kenangan yang ada,namun tidak dengan kakak laki-laki Panji dia terus saja mengganggu Panji,memang kakak laki-laki Panji memang sedikit nakal dan jail,hingga akhirnya Panjipun merasa kesal dan memukul kakaknya menguunakan tas,kakaknya pun langsung terdiam.Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan mereka semua sampai dirumah kakek Panji,mereka mampir sejenak untuk sekedar beristirahat dan makan siang.Setelah selesai mereka langsung tancap gas menuju Purwokerto agar tidak terlalu malam sampai di sana.Ternyata biar bagaimanapun mereka semua tetap saja tiba disana pada malan hari,mereka langsung menuju rumah kontrakan,namun mereka semua merasa kecewa karena rumah kontrakan mereka masih kotor dan belum dibersihkan oleh pemiliknya,sehingga mereka hanya menitipkan barang bawaan mereka kekontrakan dan dengan terpaksa mereka menginap dihotel.Setibanya di Hotel mereka langsung terlelap tidur karena kelehan.
Keesokan paginya Panji keluar kamar untuk mengambil sarapan yang sudah disediakan oleh pegawai hotel,Panji yang sekamar dengan kakaknya terus saja bertengkar,hingga orang tua mereka dating dan memarahi mereka.
“Panji,Edo!!dari kemarin berantem aja!”
“Ini ma,abang dari kemarin gangguin terus!”,jawab Panji.
“Edo jangan gangguin Panji!udah gede masih aja berantem!”.jawab sang Ibu membela si Panji.
Panji menjulurkan lidahnya bermaksud menghina sang Kakak.
“Sukurin!”,kata Panji.
“Panji Edo mama sama papa mau pergi ke SMP kalian,kalian berdua jaga disini ya…jangan kemana-mana!”,ibu Panji berkata.
“Iya,ma”,Panji dan Edo menjawab dengan serentak.
Sang ibupun pergi dengan ayahnya.
Setelah ayah dan ibu Panji pergi ternyata perut Panji masih berbunyi menandakan ia masih lapar,Panji memang anak yang rakus,ia berkata kepada kakaknya,”Bang,beli maka yuk…!”,ajak Panji.Kakaknya mengangukan kepala bertanda ia ingin menemani Panji.Mereka berdua langsung keluar hotel untuk mencari makanan,ternyata disitu terdapat banyak penjual makanan.”Bang,beli burger aja yuk…!”,ajak Panji.
“Ayuk…!”,jawab sang kakak.
Mereka langsung membeli makanan itu dan memakannya dikamar,tak berapa lama orang tua mereka kembali dengan membawa bungkusan.
“Ma,bungkusan apa??”,tanya Edo.
“Bungkusan baju seragam kalian,kan haro senin kalian sudah sekkolah.”,jawab sang Ibu.
“Do,pulang kerumah kontrakan yuk…!”,ajak sang ayah kepada Edo.
“Eman rumahnya dah bersih?”,Tanya Edo.
“Katanya lagi dibersihin,dari pada disini ga napain-ngapain mending juga sekalian natain rumah yang masih berantakan.”,jawab ayah.
“Yaudah deh,ngikut aja,lagian juga udah bosen di hotel terus!”,seru Panji.
Mereka pun langsung berangkat menuju rumah kontrakan dengan menggunakan becak.
Akhirnya mereka tiba dirumah kontrakan,ketika mereka tiba semua barang yang mereka letakkan ternyata ditaruh diluar agar mudah untuk dibersihkan,mereka semua lansung mengeluarkan barang bawaan mereka yang sudah dipack dan menyusunnya dengan rapi,ternyata rumah yang mereka kontraki sangat panjang akan tetapi tidak lebar,begitu juga dengan kamar panji tidak terlalu besar namum cukup untuk menampung dua orang,sehingga Panji pun harus tidur sekamar dengan kakaknya yang jail dan nakal itu,walaupun Panji harus berdebat dengan orang tuanya,namun Panji memilih untuk mengalah dan menerimanya.
Lalu hari dimana Panji dan kakaknya akn bertempat disekolah yang baru pun tiba Panji dan kakaknya bersekolah di SMP N 9 Purwokerto,Panji yang baru pertama kali melihat sekolah barunya itu merasa terkejut karena udaranya yang sejuk,sekolah yang besar dan banyak pepohonan yang rindang.Panji dan kakaknya tidak mengikuti upacara karena mereka belum tahu dimana ruangan mereka,mereka akhirnya disuruh untuk menunggu,Bagi Panji upacara terasa sangat lama karena ia ingin sekali mengetahui dimana kelasnya.Akhirnya upacara pun selesai Panji bersama seorang guru pergi menuju kelasnya,Panji pun langsung masuk kekelasnya untuk berkenalan dengan teman barunya.Seusai berkenalan Panji duduk disebelah anak laki-laki.
“Hai….nama aku Muhammad Panji Nur Prasetyo,nama kamu siapa?”Tanya Panji sambil berjabat tangan.
“Nama aku Satria Robby Solikhin panggil aja aku Robby.”,jawab anak laki-laki itu.
Panji dan Robby pun berteman,mungkin Robby adalah teman pertama dari Panji.Namun hari itu juga merupakn hari yang sial bagi Panji karena walaupu dia baru pertama kali masuk dan baru pertama mengenal tulisan Aksara Jawa dia langsung disuruh maju untuk menulis namanya dengan menggunakan tulisan Aksara Jawa.
“Bu,saya g bias bu!”,seru Panji.
“Kamu itu mau sekolah apa ga?!”,tanya guru itu.
“Mau bu,tapi sayakan baru pertama mengenal tulisan jawa!”,Jawab Panji.
“Ya,sudah sekarang kamu duduk dan tanya teman kamu gimana Aksara dari nama kamu.!”,seru guru itu.
Panji pun langsung menuju kursi dengan hati yang kesal karena guru itu.
Bel istirahatpun dibunyikan tanda waktu istirahat.Panji pun keluar bersama Robby untuk jajan dikanti sekolah.
“Panji kantin rame banget jajan di koperasi aja yuk…!”,ajak Robby.
“Ayuk…mank koperasinya dimana?”,Tanya Panji.
“Itu disebelah UKS yuk kesana…”,Ajak Robby.
Mereka pun menghabiskan makanan yang telah mereka beli,belpun dibunyikan kembali istirahat telah usai,semua siswa masuk keruangan masing-masing.
“Panji masih pelajaran Bahasa Jawa ke UKS aja yuk…!”,ajak Robby.
“Hah,emang ga bakalan ketawan?”,tanya Panji.
“Udah nyante aja!”,Robby berusaha meyakinkan Panji.
“Yaudah aku ikut!”,seru Panji.
Mereka berdua pun pergi menuju UKS Putra dan berpura-pura sakit.
“By,kok kamu ngjakin aku kesini?”,tanya Panji.
“Ga papa soalnya aku juga ga bisa Bahasa Jawa,akukan dari Jakarta!”,jawab Robby.
“O…dari luar daerah juga!”
“Berarti senasib donk ga bias Bahasa Jawa!”,,seru Panji.
“Ya,gitu deh…..!
“Panji kamu kalo pulan naik apa??”,tanya Robby.
“Aku pulang naik becak soalnya belum tahu jalan daerah sini!”,jawab Panji.
Akhirnya bel pun berbunyi tanda pelajaran Bahasa Jawa telah berakhir,mereka pun kembali kekelasnya.Teman-teman sekelas menanyakan mereka berdua,Robby dan Panji hanya menjawab,”Cuma pergi ke UKS lagi males ikut pelajaran.”
Didalam hati Panji Berkata,”Mungkinkah Robby yang bakalan ngegantiian posisi sahabat-sahabat aku di Pontianak?”
Mulai saat itu mereka berdua memutuskan untuk bersahabat baik dalam keadaan susah ataupun senang.
Hingga tiga tahun telah berlalu selama itu mereka telah banyak melewati berbagai macam permasalahan baik dalam bidang pelajaran maupun bukan pelajaran,bahkan sampai-sampai mereka memiliki pacar pun yang saling bersahabat.Akhir yang ditunggu-tunggu pun tiba pngumuman hasil UNAS yang telah mereka lalui sebulan yang lalu.Ternyata Robby merasa kecewa karena nilainya dibawah Panji,walaupun mereka bersahabat didalam nilai mereka tetap bersiangan untuk membuktikan siapa yang menjadi terbaik,dan akhirnya Robby takluk oleh Panji serta mengakui bahwa Panji memang lebih pintar dari dia.
Namun Panji dikala itu juga merasa sedih karena harus kehilangan sahabatnya lagi,karena Robby harus pindah lagi ke Jakarta karena hasil UNASnya yang buruk namun Robby menitip pesan kepada Panji “Panji kamu pasti akan mendapatkan sahabat yang lebih baik dari pada aku!”,kata-kata itulah yang akan selalu diingat oleh Panji untuk selama-lamanya.
Hingga dia mengabadikan kisahnya dalam bentuk Cerita Pendek dengan menggunakan nama samaran.

Danu: x-5

Cerpen Arga

Hari ini adalah tugas bagi Dika untuk mempresentasikan tugas Biologi yang diberikan oleh Bu Asih. Bagi Dika Biologi bukanlah pelajaran yang mudah, dia memang menguasai banyak pelajaran tapi bukan Biologi. Bel masuk sudah berbunyi tapi suasana kelas Dika masih gaduh, mungkin karena Bu Asih terlambat masuk. Selang beberapa menit Bu Asih datang juga. Saatnya bagi Dika untuk mempresentsikan tugasnya. Setelah selesai berpresentasi masuklah ke sesi tanya jawab. “ada yang mau bertanya” kata Bu Asih. Dengan tampang tegar Ezza langsung berdiri, tanda dia ingin mengahabisi Dika dengan pertanyaannya. Setelah berargumen beberapa saat Ezza bertanya “ jadi pertanyaan saya bagaimana cara bahan bahan dasar penyusun kehidupan ini dapat menghasilkan suatu makhluk hidup yang kompleks” Dika diam sejenak untuk menghasilkan efek dramatis. Setelah beberapa menit Dika menjawab dengan wajah yang menyakinkan. Dia menjawab “ itulah rahasia tuhan” serentak para siswa tertawa setelah mendengar jawaban Dika. Ezza yang dari tadi melancarkan banyak pertanyaan hanya diam dan berlahan duduk kembali. “ Dika sekarang giliran ibu yang bertanya” kata Bu Asih, “Silahkan bu” Jawab Dika. “ Dika Apakah arti hidup” tanya Bu Asih. Dika menjawab“ arti hidup adalah bisa bernafas,bergerak ,dan berkembang biak”. “ bukan itu jawabannya Dika” “ jadi apa Bu” tanya Dika ingin tahu. Tapi bel sudah berbunyi lagi tanda dua jam pelajaran Bu Asih telah selesai. Bu Asih hanya berkata “silahkan kalian coba cari jawaban dari pertanyaan Ibu tadi”. Jam pelajaran Biologi adalah jam terakhir di hari ini. Seperti biasa sebelum pulang Dika mampir dulu ke kantin sekolah hanya sekedar berbincang dengan teman-temannya. Biasanya Dika sering berbagi cerita dengan Ezza, Pito, Astri dan Echa. Kebetulan hari ini Pito tidak ikut berkumpul dikantin bersama mereka. “ Pito mana?” tanya Ezza pada Echa, “ biasalah ngurusin pacarnya yang baru” jawab Echa “ katanya adek kelas ya?” sahut Dika “ iya ,Pito kan suka daun muda” kata Echa lagi, Astri hanya tersenyum ketika mendengar ocehan teman-teman dekatnya itu. Tiba-tiba Astri merubah topik pembicaraan mereka “ eh, kalian tau gak apa jawaban dari pertanyaan Bu Asih?” tanya Astri “enggak lho”jawab Ezza “itu ada dikurikulum gak ya” jawab Pito yang sudah selesai dengan urusannya “ eh, Pito nyambung aja loe” kata Echa “gimana pacarmu itu?” “yang adek kelas itu” sambung Ezza dan Astri dengan nada bercanda “ ah, ada masalah jadi kita putus deh” jawab Pito “dasar playboy kampung loe.....” jawab Dika,Ezza,Astri dan Echa bersamaan. Karena jarum jam sudah menunjukan pukul 03.00 sore mereka memutuskan untuk pulang agar tidak terlarut sore.
Sesampainya di rumah Dika langsung barganti baju dan bersantai di kamar tidurnya. Kebetulan rumah Dika sedang sepi karena Ayah Dika belum pulang dari kantor dan Ibunya sedang mengikuti arisan RT. Tinggal dia dan dua orang pembantunya. Tiba-tiba Dika teringat dengan pertanyaan Bu Asih tadi pagi. “apakah arti hidup”sekarang kalimat itu selalu terbayang di benak Dika. Karena terlalu lelah Dika tertidur diranjangnya. Ketika jam menunjukan pukul 06.00 ibu Dika mambangunkan dia dari tidurnya dan menyuruh Dika untuk mandi dan melaksanakan Sholat maghrib. Dika adalah anak satu-satunya sehingga wajar bila orang tuanya sangat memperhatikan dirinya tapi Dika bukanlah anak yang ingin selalu dimanja, dia ingin menjadi anak yang mandiri seperti teman-temannya. Setelah selesai melaksanakan Sholat Dika dipanggil orang tuannya untuk makan malam. Sudah menjadi kebiasaan dari keluarga Dika untuk makan malam bersama di meja makan. Setelah selesai makan Dika langsung menuju kamarnya untuk belajar, sekedar mengulang pelajaran yang sudah diajarkan di sekolah dan sedikit mempelajari materi untuk keesokan harinya. Hari sudah malam namun Dika belum merasakan ngantuk. Dia memutuskan untuk duduk-duduk di teras depan rumahnya. Ternyata disana sudah ada Ayahnya yang sedang menikmati secangkir teh disambi ber-kirim E-mail dengan rekan bisnisnya. Ayah Dika adalah seorang pemilik perusahaan properti yang terkenal di Indonesia, sehingga tak bisa dipungkiri bila dia banyak memiliki rekan dalam dunia bisnis. Ayah Dika melihatnya sedang berdiri disampingnya, diapun mempersilahkannya untuk duduk di kursi yang berada disampingnya. Sekedar bercerita dengan topik yang ringan, bagi Dika ini adalah waktu yang sulit didapat karena Ayah nya adalah orang yang sibuk. Dika bercerita tentang kejadian di pagi hari saat dia berada disekolah tak lupa dia bercerita tentang pertnyaan Bu Asih tentang arti hidup. Ayahnya menjawab”arti hidup seseorang hanya bisa diketahui oleh orang itu sendiri” tapi Dika belum puas dengan jawaban Ayahnya. Karena hari sudah larut malam Ayah Dika menyuruhnya untuk tidur “Tidur sana, nanti kamu terlambat sekolah lho” kata Ayah. “ Iya yah ini mau tidur kok” jawab Dika. Dika dengan segera masuk kerumah dan meninggalkan ayahnya sendirian di teras untuk beranjak tidur. Dalam tidurnya Dika bermimpi bertemu Bu Asih, dalam mimpinya Bu Asih berkata “Dika kamu harus rajin belajar dan carilah tujuan hidupmu”
Pagi harinya Dika menceritakan mimpinya kepada temannya “ Eh, Cha aku kok mimpiin Bu Asih ya” tanya Dika “ emang mimpi apa loe” timpal Ezza “kalo gak salah Bu Asih pesen suruh aku rajin belajar dan cari tujuan hidupku gitu” jawab Dika “masa gitu sih, aneh lho” sahut Pito “Ada artinya kali tu Dik” sambung Pito dengan nada serius “Tapi apa bos?” tanya Dika penasaran “gak tau juga sih” jawab Pito “udahlah Dika paling cuma mimpi biasa” Kata Astri yang berusaha menenangkan sahabatnya. Sebenarnya dalam benak Dika terasa ada yang janggal, “ ada apa ya bu Asih ngomong kaya gitu” benak Dika. Saat itu menunjukan jam sebelas siang, saat ini sebenarnya bukan saatnya pulang tapi tanda-tandanya sudah terasa, yaitu tidak ada guru yang masuk pada jam itu. Ternyata benar bel tanda pulang sekolah sudah di bunyikan. Serentak semua teman sekelas Dika bersorak “Horeeeeee..... pulang” teriak mereka gembira, tapi berbeda dengan Dika hatinya berkata “ada yang ngak beres ni”. Tiba tiba dua pengurus osis masuk ke kelas Dika. Salah satu dari mereka mengabarkan kabar duka, “ Inalilahi wainnailaihi rojiun, telah meninggal Ibu guru tercinta kita Ibu Asih Handayani. Karena sakit, kami meminta keikhlasan kalian dengan memberikan sumbangan” Hati Dika terguncang, ternyata benar dia akan kehilangan seseorang. Dalam hatinya masih ada penyesalan “ kenapa Bu Asih ngak jawab pertayaanku dari dulu” “kamu nglayat gak Dik?” tanya Pito. Pertanyaan Pito itu membuyarkan pikiran Dika tentang Bu Asih. “ iyalah” jawab Dika “naik mobilku aja” sambung Ezza. Pulang sekolah mereka langsung bergegas ke tempat parkir untuk mengambil mobil Ezza. Sesampainya disana ternyata banyak orang yang ingin mengantar jenazah Bu Asih ke tempat peristirahatan terakhirnya. “ Banyak yang nganter ya” sahut Echa “ iya Bu Asih kan orangnya baik jadi banyak yang suka sama dia” jawab Pito, teman-teman Dika sibuk membicarakan kebaikan Bu Asih namun Dika masih terus menyesali semua hal yang terjadi. Selang beberapa saat Jenazah Bu Asih akan segera dikebumikan Dika dan teman-temannya ikut mengantar dan mangikuti proses penguburan itu tidak terasa air mata Dika menetes saat jenezah Bu Asih telah tertutup tanah. “ Udahlah Dik, jangan nangis terus, hidup mati kita udah ada yang ngatur, Bu Asih pasti gak suka kalau liat kamu sedih terus” kata Astri yang coba menenangkan Dika “ thanks ya” jawab Dika.
Keesokan harinya disekolah akan diadakan pelajaran intensif mengingat ujian akhir nasional sudah dekat Dika dan kawan-kawannya termasuk orang yang wajib mengikuti kelas intensif itu. Mungkin Dika sudah dapat sedikit melupakan kejadian kemarin. Namun kata-kata Bu Asih dalam mimpinya masih terngiang ditelinganya. Terpacu semangatnya agar dapat lulus SMA dengan nilai baik dan dapat diterima di UI. Begitu juga dengan Pito, Ezza, Echa juga Astri mereka juga ingin diterima di universitas favorit. Beberapa minggu berlalu ujian akhir tinggal satu minggu lagi dan lima sekawan itu masih terus belajar, tidak jarang mereka mengadakan belajar bersama di rumah Echa. Detik demi detik terus berlalu, ujian nasional semakin dekat. Pak Yanto adalah walikelas Dika dan teman-temannya Beliau terus memberi motivasi kepada anak-anak didiknya, agar mereka dapat berhasil menempuh ujian ini.
Hari ini adalah hari ujian nasional pertama dalam hati Dika bergumam “UI adalah tujuanku”.Seminggu telah berlalu. Sekarang mereka tinggal menuggu pengumuman kelulusan mereka. Setelah seminggu yang melelahkan akhirnya mereka bisa ngobrol bersama lagi. “Gimana Astri susah-susah gak soalnya” ledek Echa “Gampang dong, masa seorang Astri ngak bisa ngerjain” Timpal Pito dengan nada mengoda “ ya, serahkan saja sama Yang Diatas” jawab Astri bijaksana “terus kalian mau lanjut kemana?” tanya Dika pada keempatnya “Aku pengen masuk ITB aku pengen jadi arsitek” kata Ezza “kalo aku pengen masuk pertanian IPB” jawab Astri “Echa gimana?” tanya Dika “Echa Pengennya sekolah diluar negeri ngambil kedokteran” jawab Echa “Pito?” tanya Dika lagi “ aku gak usah muluk-muluk yang penting masuk PTN aja aku udah seneng, terus kamu mau kemana Dik? Tanya Pito ingin tahu, “aku pengen ambil manajemen UI, aku pengen jadi pengusaha kaya Ayahku” jawab Dika yakin “ nanti kalo pengen bangun kantor kantor hubungi aja aku Arsitek Ezza, aku kasih diskon deh” canda Ezza. Dalam hati Dika berkata mungkin sekarang kita bisa tertawa seperti ini tapi sebentar lagi saat-saat ini akan berharga sangat mahal. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, pasti semua murid merasakan kecemasan seperti yang dialami Dika. Selang beberapa menit semua amplop dikelas Dika sudah terbagi rata. Dengan aba-aba ketua kelas mereka membuka amplop itu berlahan. “satu......dua......tiga” kata mereka bersamaan. Betapa senangnya Dika ketika dia melihat kata “LULUS” di amplopnya. Ditambah semua teman sekelasnya juga berhasil lulus. Kelas yang tadinya bersuasana sangat tegang sekarang telah berubah menjadi ceria.
Untuk merayakan kelulusannya Dika, Echa, Astri, Pito, dan Ezza mengadakan syukuran dan sekaligus sebagai pesta perpisahan untuk mereka. “saat-saat kaya gini pasti bakalan aku inget terus” kata Echa sambil menghapus air matanya “aku Juga” sambung Ezza dan Pito “ Aku ngak akan lupa waktu kita ngumpul bareng pas kita masih SMA dulu” kata Astri “ mungkin kita akan berpisah dan sulit untuk bertemu lagi, tapi kalian tetap ada di hati ku” sebenarnya Dika tidak rela untuk melepaskan mereka pergi karena Dika sudah menganggap mereka seperti saudara sendiri. Sungguh hari ini adalah hari yang berat bagi mereka untuk berpisah.
Keesoakan harinya Dika mengikuti UMPTN untuk dapat masuk ke Universitas Indonesia yang sangat dia dambakan. Selang beberapa hari Dika melihat namanya terpampang di koran yang bertanda dia diterima sebagai mahasiswa UI, betapa senangnya dia, orang tuanya sangat bangga padanya. Dika diterima di Fakultas Ekonomi management sesuai cita-citanya. Beberapa bulan telah berlalu dia mendengar kabar dari Echa bahwa teman-temannya berhasil diterima di Universitas dambaannya, begitu juga Echa, dia berhasil diterima di Harvard dan mengambil jurusan kedokteran, Pito diterima di UGM fakultas hukum, Ezza bergabung dengan ITB, Astri juga berhasil diterima di IPB. Dika bersyukur pada tuhan karena telah mengabulkan semua cita-cita kawan-kawannya.
Beberapa tahun berlalu Dika berhasil menyandang gelar S1 setelah dia lulus dari UI. Dia langsung mengambil alih jabatan ayahnya yang telah pensiun sebagai direktur utama sebuah perusahaan properti. Perusahaan menunjukan grafik yang sangat baik, sehingga dia dikenal sebagai seorang pengusaha sukses.Suatu hari, tiba-tiba Dika merasa rindu dengan teman-temannya kemudian mereka sepakat untuk bertemu di sebuah restaurant. Ternyata teman-teman masa SMAnya dulu telah berhasil menjadi orang yang sukses dibidangnya. Pito sudah menjadi seorang pengacara hebat, Ezza berhasil menjadi Arsitek, Astri sudah berhasil menemukan teknologi pertanian yang canggih, sedangkan Echa sudah menjadi dokter spesialis syaraf di Amerika. Begitu bangga dan terhormatnya Dika ketika dia bertemu kembali bersama teman-temannya. Sekarang Dika sudah sedikit mengetahui sedikit jawaban dari pertanyaan almarhumah Ibu Asih, persis seperti apa yang pernah dikatakan Ayahnya bahwa arti hidup seseorang hanya bisa diketahui orang itu sendiri, mungkin arti hidup bagi Dika adalah bisa berguna bagi dirinya dan orang-orang yang dia cintai. Memang dalam hatinya masih ada yang mengganjal, tapi Dika bisa sedikit lega karena sudah mengetahui sedikit jawaban dari pertanyaan itu walaupun bukan jawaban seutuhnya

Sebuah Perjalanan Oleh Kemal

Sinar matahari yang menyengat dan bau tumpukan sampah sudah bercampur dengan rasa kekeluargaan. Jalan setapak yang sempit menyempit di antara gubuk kayudan rumah kardus. Teriak riang dan nyanyian anak kecil sedikit meredam bisingnya kendaraan bermotor.
Hembusan angin melewati celah bambu yang disusun rapi yang seolah berfungsi sebagai pagar. Atap yang tidak terlalu tinggi dan dinding bata yang sudah tampak rapuh masih setia untuk berdiri. Sekitar sepuluh pekerja sedang memilah-milah tumpukan besi tua dan sampah plastik. Pemandangan yang akan terlihat setiap hari. Rumah pengepul besi tua dan sampah plastik itu milik ayah Ipin.
Udara dingin mulai merayap bersamaan dengan datangnya malam. Cahaya lampu menggantikan peran matahari. Para pekerja juga sudah selesai dan pulang untuk melepas lelah bersama keluarga.
Segelas kopi menemani ayah Ipin yang duduk di kursi panjang warna coklar sambil asik menghisap rokoknya.
“Ipin, sudah malam. Sebentar lagi ibumu pulang.” Teriak lelaki separuh baya itu pada anaknya.
Suara derap langkah terdengar semakin mendekat menuju teras rumah Ipin. Botol-botol jamu yang sudah kosong disusun dalam bakul anyaman bambu yang kokoh dipanggu ibu Ipin. Raut mukanya tidak sedikit pun memancarkan rasa lelah.
“Ibu malah sudah pulang. Pin, cepat minumnya!” Pak Syah tidak sabar menanti Ipin.
Kehiningan tercipta sesaat, tidak terdengar suara sedikit pun. Segelas air yang diambil Ipin diletakkannya di meja. Ipin lalu duduk di sebelah ayahnya. Sementara ibunya sibuk menurunkan botol-botol jamu dari bakul.
“Bu, laku keras ya?” tanya Iin sembari memluk ibunya. Padahal dia sudah bukan anak kecil lagi.
“Beginilah Pin, ibu harus jalan jauh dulu baru jamunya habis.” Keluh ibu Ipin.
Malam semakin larut dan udara semakin menusuk tulang. Buku pelajaran tidak lagi dipedulikan oleh Ipin. Dentingan daun-daun yang dipukul angin menambah suasana kekeluargaan. Rasa kantuk tidak terbendung lagi.
“Ipin, tidur sudah malam!” teguran sayang ibu Ipin pada anaknya yang seharusnya tidak lagi.
Rasa kantuk yang luar biasa membuat Ipin tidak membantah lagi apa kata ibunya. Kasur merah muda bercorak bunga-bunga dengan ranjang yang tidak terlalu tinggi menjadi pelepas kantuk Ipin. Sentuhan sinar rembulan menjadi selimut dinginnya malam itu.
Saat rembulan tepat di tengah malam dan suara binatang sudah mulai berhenti. Raut muka Pak Syah memancarkan hal yang aneh. Istrinya masih belum bisa memejamkan matanya. Seolah mereka berdua memikirkan sesuatu di hari esok.
“Pak, sudah jangan dipikirkan nanti pusing sendiri.” Ibu Ipin mengunkapkan sebuah keputusan.
“Ya lah Bu, lebih baik kita tidur saja. Besok ya besok.” Pak Syah mengakhiri peracakapan.
Jam dindingkayu tua hanya diam dan menjadi saksi perbincangan kedua orang tua itu. Mengkhawatirkan hari esok yang mungkin tidak lagi bersahabat dengan mereka. Kini malam mulai berjalan cepat seiring terpejamnya mata.
Awan cerah memayungi kediaman keluarga itu. Ipin berencana berangkat lebih awal. Sampai sarapan ia lewatkan. Pak Syah bersikap biasa saja seolah percakapan tadi malam tidak pernah terjadi.
Siang mulai datang, sinar matahari cukup panas siang itu. Sorot mata ibu Ipin menggambarkan sesuatu yang sulit terbaca. Langkah kakinya menuju ruang makan, yang sebetulnya lebih layak disebut gudang. Jaring laba-laba yang pekat menjadi perabotnya. Ibu Ipin memang sering duduk melamun menghabiskan waktu atau meracik jamu di ruangan ini.
Waktu berlomba dengan menculnya kegelisahan di muka Pak Syah. Sesuatu tidak lagi terbendung untuk keluar dari hatinya. Akhirnya Pak Syah berjalan menuju ruang makan. Ia inginmengungkapkan sesuatu pada istrinya.
“Bu, apa yang akan kita harapkan lagi dari hidup ini?” pertanyaan Pak Syah pada istrinya.
“Ya Pak, hidup memang semakin sulit dan sepertinya aku sudah tidak kuat lagi jualan jamu.” kata istri Pak Syah dengan nada yang pelan.
Bunyi burung-burung gereja yang hinggap di atas pepohonan sedikit mengurangi pilu percakapan kedua orang tua itu. Cahaya yang melewati jendela seperti lukisan penghias suasana di ruang makan.
“Pak, aku sudah mantap.” ucapan tegas darimulut istri Pak Syah.
“Iya bu, aku juga. Kita tunggu Ipin dulu.” sahut Pak Syah.
Bulu kuduk Pak Syah mulai berdiri dan percakapan rumit itu pun berhenti. Sesuatu hal yang besar sedang mereka rencanakan. Masalah sosial atau uang mungkin penyebabnya.
Burung-burung gereja mulai pulang ke sarangnya yang berarti hari sudah sore. Tinggal selangkah lagi Ipin sampai di rumahnya. Rasa aneh menggelayuti benak Ipin. Aktifitas para pekerja yang biasanya rame hari ini tidak terlihat lagi. Belum masuk ke rumah, Ipin sudah disambut oleh ibunya. Sesuatu yang tidak biasa dan bahkan aneh.
“Pin, ayo ikut ibu ke ruang makan.” sambut ibu Ipin dengan sejuta senyuman.
“Hehehe, masak enak ya bu?” tanya Ipin dengan semangat.
Mereka berdua langsung menuju ruang makan. Ayah Ipin terlihat duduk melamun memandang nyamuk yang beterbangan ke sana ke mari. Ipin kemudian duduk di sebelah ayahnya dan menidurkan kepalanya.
'Pin, kamu mau ikut ayah dan ibu kan?” tanya ayah Ipin dengan nada yang kosong.
“Iya pak, tapi mau ke mana?” Ipin malah berbalik bertanya dengan muka lugunya.
Ibu Ipin hanya terdiam dan sesekali mengelus dahi anaknya. Suasana hening tercipta. Percakapan yang lagi-lagi sulit dimengerti. Ayah Ipin terlihat mengeluarka sesuatu dari balik sakunya. Nampak sebuah pisau dan dengan cepat Pak Syah menggunakannya untuk memotong nadinya.
Ipin hanya terdiam melihat darah yang terus mengucur dari tangan ayahnya. Sesekali ia memegangi tangannya.
“Pak, aku ikut.” jawab Ipin dengan mantap.
“Ayo Pin kita mulai saja!” perintah Ibu Ipin dengan meneteskan air mata.
Perlahan Ipin mulai memotong nadinya dan dilanjutkan oleh ibunya. Pak Syah mungkin suah tidak bernyawa lagi. Ipin terus memandangi kedua orang tuanya. Tetesan air mata terus mengucur dari Ibu Ipin.
“Bu, apa kita akan masuk surga?” tanya Ipin dengan suara yang parau.
“Ya Pin, kita sedang dalam perjalanan. Nanti di sana kita bersama lagi dan bersenang-senang.” jawab Ibu Ipin dengan senyuman.
Wajah mereka bertiga tampak sangat bahagia. Burung-burung bernyanyi mengiringi perjalanan mereka. Udara di ruangan itu kini tampak lebih bershabat dan mungkin kehidupan dunia yang panas ini tidak lagi mereka rasakan. Sebuah perjalanan yang Ipin, ayahnya dan ibunya yakini. Kematian memang obat terbaik dari sebuah penderiataan.

Oleh:Kemal
Blog penulis : http://www.karoseriblog.tk